Dituding Palsukan Dokumen, Notaris Bone Minta Uji Labfor Pembanding – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Dituding Palsukan Dokumen, Notaris Bone Minta Uji Labfor Pembanding

FAJAR.CO.ID, BONE – Notaris Bone, Mena Bahrah, terseret kasus dugaan penipuan dan pemalsuan tandatangan yang dilaporkan warga Bone, Irma Suryaningrat. Menanggapi itu, Mena membantah sekaligus mengungkap sejumlah kejanggalan pelapornya.

“Laporan pemalsuan itu mengada-ada. Pelapor sendiri yang bertanda tangan, tapi mengingkarinya,” tegas Mena Bahrah, Senin 12 Desember 2016 seperti dilansir KabarOke.com.

Mena memastikan beberapa saksi ikut melihat Irma saat bertandatangan di kantornya di Bone, termasuk stafnya. Surat itu tertanggal 25 Juni 2015, isinya  pernyataan tidak keberatan atas penjualan sebidang tanah yang sempat akan dibeli Irma.

Sebelumnya, pada Maret 2015 Irma berniat membeli sebidang tanah di Kelurahan Bukaka Kabupaten Bone senilai 1,4 milyar. Irma menyerahkan tanda jadi sebesar Rp140 juta.

“Irma ini bukan pembeli. Hanya calo dari perusahaan Korea yang meminati tanah itu. Jangan-jangan, karena melakukan kesalahan di mata pengusaha Korea, lalu membuat drama seolah-olah pihak penjual yang melakukan kesalahan. Ini yang saya tangkap dari gelagat Ibu Irma,” tambah Mena.

Rp130 juta diserahkan pada pemilik tanah, Abdul Hamid bin Lide melalui ahli warisnya, Hj Sitti Dinar Daeng Kaya yang disaksikan oleh kedua anaknya juga notaris, Mena Bahrah. Rp10 juta diserahkan ke Mena untuk biaya administrasi dan pengurusan berkas.

Tanah itu kemudian tidak jadi berpindah tangan ke Irma karena wanprestasi. Tanda jadi yang sempat Irma setor otomatis mati karena tidak memenuhi tenggat hingga Juni 2015.

Karena ada peminat lain setelah tenggat  uang tanda jadi habis, maka Irma berkewajiban menyertakan surat tidak keberatan untuk pemindahtanganan. Pemilik lahan dibantu Mena memindahtangankan lahan tersebut ke peminat lain.

“Karena tidak terima uang tanda jadi melayang, Irma melaporkan Adriani dan Muh Rum, dua dari ahli waris yang ikut menerima uang tanda jadi. Dugaannya adalah penipuan. Pelapor berharap bisa menekan mereka untuk mengembalikan uang tanda jadi itu tapi tidak berhasil. Soalnya, dia mungkin lupa kalau pernah meneken surat pernyataan tidak keberatan. Karena sudah telanjur melapor, akhirnya Irma lanjut mengingkari surat pernyataan itu. Terseretlah saya dengan dugaan pemalsuan tandatangan,” beber Nema.

“Padahal itu tandatangannya. Bahkan, satu bulan kemudian (25 Juli 2015), uang Rp10 juta yang diserahkan ke saya dia minta kembali dan sudah saya kembalikan,” kata Mena lagi.

Yang juga janggal, seperti ditegaskan Irma saat konferensi pers di Bone, alasan dia tidak segera melunasi pembayaran karena masih mengurus IMB dan bolak-balik Jakarta, dan selalu ke Korea. IMB itu terkait rencana membangun real estate pada tanah tersebut.

“Itu alasan tidak masuk akal. Tidak mungkin IMB di atas lahan itu bisa terbit. Kan lahannya belum dia lunasi? Karena belum lunas, sertifikat tentu masih atas nama penjual lahankan? Proses di atas itu dibutuhkan untuk urus IMB kan?.

“Ibu Irma ini cari-cari alasan saja untuk kegagalannya sebagai perantara. Belum lagi soal angka dan harga lahan itu. Banyak sekali kejanggalan,” kata Mena.

Proses kasus ini masih berjalan di Polres Bone. Mena mengaku mengusulkan  dilakukan uji labfor pembanding terkait identifikasi tanda tangan asli pelapor.

“Alasan saya, tandatangan asli yang digunakan untuk menguji surat yang diduga saya palsukan adalah dokumen ijazah yang sudah puluhan tahun berlalu. Saya ingin mengajukan dua sampel tandatangan asli lain pelapor yang bisa jadi pembanding. Dan layaknya agar diuji juga. Saya memohon ini pada penyidik,” pinta Irma.

Mena mengaku selama diam-diam sembari menjalani proses hukum dengan baik. “Sekarang tidak lagi. Saya sedang memikirkan untuk melaporkan ulang. Ini mencemarkan nama baik saya,” tegasnya.

Sebelumnya, Irma melaporkan Adriani dan Muh Rum pada Maret 2016 ke Mapolres Bone dengan laporan dugaan penipuan. Lalu berkembang menjadi dugaan pemalsuan yang menyeret Mena. Irma menggelar konferensi pers Kamis 8 Desember 2016 dan mempertanyakan penanganan kasus tersebut. Menurut Irma, tertanggal dalam surat itu, dirinya sedang berada di Jakarta.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Bone, AKP Hardjoko, menegaskan bekerja keras menangani laporan tersebut. Status Mena sampai saat ini masih terlepor.

“Kalau tidak ada halangan, kasus ini akan gelar perkara Selasa 13 Desember 2016. Kita lihat hasil gelarnya nanti,” kata Hardjoko, Senin 12 Desember 2016.

Terkait usulan pelapor ajukan bukti tanda tangan asli pelapor sebagai pembanding untuk uji labfor tidak dipermasalahkan Hardjoko. “Itu sebenarnya memang kami tunggu. Polisi di sini benar-benar netral menangani kasus ini,” tegasnya. (*)

loading...
Click to comment
To Top