Tak Ingin Berisiko, Warga Sisir Perkebunan Lacak Bibit Cabe Berbakteri – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Tak Ingin Berisiko, Warga Sisir Perkebunan Lacak Bibit Cabe Berbakteri

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Warga Kecamatan Sukamakmu, Bogor kompak menyisiris lokasi pertanian yang sebelumnya dikelola petani Tiongkok. Mereka mengantisipasi penyebaran bakteri berbahaya.

“Kami bersama beberapa kepala desa sudah ke lokasi, karena takut ada bibit yang dibawa buruh tani lalu ditaman dekat rumah,” ujar Usman (42), mandor tani yang menggarap kebun milik warga Tiongkok, Rabu (14/12).

Dia mengaku kaget dengan kabar adanya bakteri Erwinia Chrysanthemi. Meski hal itu masih asing bagi warga Sukamakmur. Sebab, tidak seperti hama ireng atau jenis virus lain. “Makannya kami pastikan tidak ada yang bawa ke rumah,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bogor Siti Nurianty mengatakan, pasca pemusnahan benih asal Tiongkok oleh Badan Karantina Pertanian Indonesia, mereka kembali menyisir lokasi pertanian di Sukamakmur.

“Kami sisir sampai ke rumah warga yang mengatur pasokan bibit, karena khawatir ada yang membawa satu atau dua biji, kemudian ditanam. Makannya, kami sisir lagi untuk memastikan kalau benih asal Tiongkok itu semuanya sudah dimusnahkan,” ujarnya.

Selanjutnya, kata Siti, pemerintah pusat maupun daerah wajib menyosialisasikan kalau bibit asing itu dilarang ditanam karena mengandung bakteri berbahaya.

Sosialisasi harus sampai ke tingkat UPT, Kecamatan, dan Desa. Artinya, bibit harus yang bersertifikasi dan tidak sebarang taman. “Harus ada izin edar. Ini sudah harus preventif.  Ini ada kebocoran dari desa dan jangan percaya begitu saja,” terangnya.

Sebelumnya, Badan Karantina Pertanian Indonesia memusnahkan benih dan tanaman cabai, bawang daun, serta sawi hijau yang akan dibudidayakan petani Tiongkok di Kecamatan Sukamakmur. Pemusnahan dilakukan di Instalasi Karantina Hewan Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (10/12).

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Dr Antarjo Dikin menyebut bakteri yang ditemukan menjadi media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK). Bibit ini membahayakan produksi Nasional Petani Cabai Indonesia. (fajar/JPG)

Click to comment
To Top