Gema Ibukota: Pemimpin Jakarta Tak Jalankan Amanat Rakyatnya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Pilkada

Gema Ibukota: Pemimpin Jakarta Tak Jalankan Amanat Rakyatnya

FAJAR.CO.ID JAKARTA – Banyak masyarakat pemilih yang kurang memahami realita persoalan pembangunan akibat adanya manipulasi informasi melalui berbagai saluran media tradisional maupun media sosial.

“Karena itu butuh dibangun kesadaran agar masyarakat jadi tahu fakta sebenarnya,” ujar kata Suhardi, pengamat lingkungan dan pegiat Gerakan Masyarakat Ibukota (GEMA IBUKOTA) di Jakarta, Minggu, (18/12).

Karena itu, lanjut Suhardi, pihaknya tergerak untuk membangun kesadaran masyarakat Jakarta serta mengajak mereka untuk melihat realita tersebut dengan lebih jernih.

GEMA IBUKOTA memandang Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan barometer pembangunan nasional.

“Ketika persoalan pembangunan di DKI Jakarta tidak dapat diselesaikan, maka dapat dipastikan pembangunan nasional juga akan terpengaruh,” paparnya.

Berdasarakan data-data resmi, GEMA IBUKOTA melihat bahwa berbagai persoalan utama pembangunan di Jakarta belum mampu diselesaikan, bahkan sebagiannya mengalami kemunduran.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Jakarta meningkat sekitar 30 ribu jiwa dalam 4 tahun terakhir.

Jumlah penduduk miskin pada Maret 2016 mencapai 384.300 jiwa dari sebelumnya 355.200 jiwa di tahun 2012.

Jumlah penduduk yang rentan miskin juga relatif tinggi, yaitu lebih dari 1 juta jiwa.

Tren kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator dasar pembangunan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan di DKI Jakarta juga relatif rendah, yaitu sekitar 0,54 per tahun – IPM tahun 2012 (77,53) dan 2015 (78,99).

Sementara, rata-rata kenaikan IPM di provinsi lain mencapai hingga lebih dari 0,7, contohnya Nusa Tenggara Barat (0,8) dan Nusa Tenggara Timur (0,7). Rata-rata kenaikan IPM per tahun di DKI Jakarta juga berada di bawah Jawa Timur (0,72), Jawa Tengah (0,68), Jawa Barat (0,66), dan bahkan Papua (0,56) serta rata-rata kenaikan IPM nasional (0,62).

Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan yang berarti dalam pembangunan manusia di Jakarta.

Suhardi juga menuturkan, pembangunan di Jakarta dalam 2 tahun terakhir juga sangat berpotensi melahirkan kelompok miskin baru.

“Penggusuran paksa yang dilakukan di berbagai tempat tanpa memberikan ruang dialog telah menyepelekan persoalan keberlanjutan penghidupan warga,” jelasnya.

Selain berpotensi merusak lingkungan dan menyebabkan banjir, reklamasi Pantai Utara Jakarta juga sangat berpotensi melahirkan kelompok miskin baru dari kalangan nelayan.

Selain itu, lanjutnya, kebijakan reklamasi yang dilaksanakan oleh Pemprov Jakarta lebih banyak menguntungkan para pemodal besar dan jauh dari prinsip keadilan.

Lieus Sungkarisma, Tokoh Tionghoa dan salah satu pegiat GEMA IBUKOTA, mengatakan kegagalan Pemerintah DKI diperparah dengan buruknya tata kelola pemerintahannya.

Hal itu terbukti dengan adanya berbagai kasus, seperti pembelian lahan RS Sumber Waras, lahan di Cengkareng Barat, lahan eks Kedutaan Besar Inggris, lelang proyek tanpa melalui proses penganggaran serta pemutusan listrik di 26 sekolah.

Rendahnya penyerapan anggaran dan realisasi belanja modal di DKI juga menjadi tolok ukur buruknya tata kelola pemerintahan.

“Penyerapan tahun 2014 hanya sekitar 67%, sedangkan pada 2015 hanya sekitar 68%. Bahkan penyerapan anggaran tahun 2016 hingga November baru sekitar 50% sebagaimana disampaikan Bapak Soni, Plt Gubernur DKI,” kata Lieus.

Fakta-fakta di atas, kata Lieus, menunjukkan bahwa pembangunan yang dilakukan selama lima tahun terakhir tidak memberikan keadilan kepada masyarakat Jakarta.

Buruknya pengelolaan pemerintahan DKI Jakarta menunjukkan kecenderungan penguasa yang tidak menjalankan amanat dari rakyat, terutama dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Sekedar diketahui, GEMA IBUKOTA adalah suatu gerakan independen yang tidak berafiliasi pada ras, suku, agama, partai politik ataupun status sosial ekonomi tertentu.

Didorong keprihatinan atas lemahnya pemahaman sebagian warga Jakarta dalam menilai capaian pembangunan, GEMA IBUKOTA ingin membuka wawasan warga Jakarta agar dapat melihat keberhasilan pembangunan tidak hanya sebatas pada aspek fisik dan aksesorisnya.

Click to comment
To Top