Pilu! Kisah Bocah Saksikan Ibunya Meninggal di Rumah Kosong – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Pilu! Kisah Bocah Saksikan Ibunya Meninggal di Rumah Kosong

ilustrasi

Perih dan tragis. Dua kata yang cukup menggambarkan kondisi Rahmi dan buah hatinya -sebut saja bernama Bintang (nama samara)-. Saat sakaratul maut, Rahmi hanya didampingi putranya tersebut di sebuah rumah kosong yang sangat tidak layak.

Oleh: JOKO ISWANTO, SAMARINDA

Bintang masih berusia 8 tahun. Tapi dia sudah memiliki segudang pengalaman tentang kerasnya hidup. Menyaksikan setiap detik secara detail ketika sang ibu meregang nyawa merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Apalagi sang ibu adalah satu-satunya sosok orangtua yang selama ini menjadi teman hidupnya. Sejak lahir ke dunia, Bintang memang tidak pernah melihat sosok ayah.
Mungkin hanya sosok ibunya itulah yang dia kenal satu-satunya di dunia ini. Maklum, di usianya saat ini Bintang belum mengenyam bangku pendidikan. Dia pun hidup tanpa sanak keluarga lainnya. Karena memang keberadaannya tidak dianggap dari pihak kedua orangtuanya.
Sebelum ajal menjemput, selama 8 tahun Rahmi harus berjuang seorang diri untuk menghidupi Bintang setelah bercerai dari suaminya bernama Ibrahim.
Dari informasi yang dihimpun Sapos, kehidupan rumah tangga Rahmi bersama Ibrahim berjalan singkat dan penuh lika-liku. Masa lalu Rahmi yang pernah bekerja sebagai “kupu-kupu malam” membuat pihak keluarga Ibrahim tidak setuju dengan niat Ibrahim untuk menikahi Rahmi.
Pihak keluarga menuding bahwa Rahmi kala itu sedang mengandung. Diyakini bayi dalam kandungannya bukan anak dari Ibrahim. Namun Ibrahim acuh saja mendengar hal tersebut. Ibrahim justru iba dengan kondisi Rahmi.
Berbagai nasihat sempat diucapkan pihak keluarga Ibrahim agar membatalkan pernikahan mereka. Namun Ibrahim tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Ibrahim tetap melaksanakan niatnya mempersunting wanita pujaannya itu. Akhirnya pada 2007 silam pernikahan mereka pun terjadi.
Setelah resmi menikah mereka tinggal di sebuah rumah bangsal di Jalan Lambung Mangkurat, Gang Rahmat 2, Samarinda Ilir. Lokasi rumah mereka tak jauh dari kediaman kerabat Ibrahim. Harapan hidup bahagia disandarkan bersama pujaan hatinya. Dan Rahmi meninggalkan pekerjaan lamanya.
Entah karena tidak mendengar nasihat orangtua, biduk rumah tangga mereka tidak berlangsung lama. Pertengkaran demi pertengkaran kerap mewarnai perjalanan rumah tangga Ibrahim dan Rahmi. Santer terdengar oleh keluarga terungkitnya masa lalu Rahmi dan buah hati yang dikandungnya.
Puncaknya, setelah Bintang yang dikandung Rahmi lahir, mereka bersepakat untuk bercerai. Tak ingin menanggung malu, Rahmi pun berpindah rumah dan tinggal berdua bersama buah hatinya tersebut. Sedangkan Ibrahim telah menikah lagi dengan wanita lain.
Semenjak itu, kehidupan Rahmi berbalik 180 derajat. Tempat tinggal tidak menentu. Bahkan untuk makan sehari-hari saja Rahmi mengharap belas kasihan warga sekitar yang iba melihat kehidupannya.
Hal ini dibenarkan Kasri, Ketua RT 17, Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir. Kasri mengakui bahwa Rahmi sudah sejak lama tidak tinggal di rumah tersebut.
“Memang benar pernah tinggal dan berdomisili di sini. Namun setelah bercerai sudah pindah,” ucap Kasri.
Mbo Ijah, seorang pedagang penjual jamu keliling satu dari sedikit orang yang pernah melihat Rahmi dan buah hatinya. Mbo Ijah menuturtkan, terakhir kali melihat Rahmi bersama putranya tersebut di Jalan Urip Sumoharjo (Eks Jalan Kebaktian). Karena sudah kenal dan pernah bertetangga, maka tak sungkan Mbo Ijah menawarkan barang dagangannya.
“Sebulan yang lalu saya ketemu. Saya tawarin jamu. Dia membeli dan minum bersama putranya,” ucap Mbo Ijah kepada Sapos, Jumat (16/12).
Setelah itu Mbo Ijah tak pernah lagi bertemu dengan Rahmi. Terakhir justru Mbo Ijah kaget jika Rahmi tewas di dalam rumah kosong dari Samarinda Pos (edisi Kamis, 15 Desember).
Selama ini, pihak keluarga Ibrahim hanya mengetahui bahwa Rahmi dan putranya tinggal di Jalan Rajawali Dalam. Mereka jarang bertemu dengan Rahmi dan putranya. Dan jika bertemu pun hanya menyapa putra Rahmi.
Pihak keluarga Ibrahim sangat kaget dengan berita kematian Rahmi. Terlebih tewasnya di sebuah rumah kosong di kawasan Jalan PM Noor.
Kini putra Rahmi diasuh oleh Rahmawati, tante dari pihak keluarga Ibrahim di Perumahan Bengkuring Jalan Pipit 1, Samarinda Utara. Sementara jasad Rahmi sudah dikebumikan oleh pihak RSUD AW Sjahranie. Pihak keluarga Ibrahim menolak untuk memakamkan karena menganggap Rahmi bukan bagian keluarga mereka lagi.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Samarinda, Marnabas, saat ditemui Sapos mengatakan, kondisi kejiwaan Bintang saat dibawa ke Dinas Sosial memang sempat terguncang. Bahkan dilihat dari kondisi tubuhnya sangat memilukan. ”Seluruh badannya bentol-bentol akibat gigitan binatang,” ucap Marnabas.
Dinsos, kata Marnabas, sebenarnya sudah menawarkan kepada pihak keluarga Ibrahim untuk mengasuh Bintang. Namun tawaran tersebut ditolak pihak keluarga dengan alasan akan dirawat sendiri.
“Ini kemauan keluarga. Kami tak dapat melarang. Karena kami hanya dapat memfasilitasi saja. Namun kami tetap akan melakukan pemantauan terhadap tumbuh kembang bocah tersebut,” tambah Marnabas.
“Dan untuk almarhumah Rahmi, penyebab kematiannya disebabkan sakit TBC yang diderita. Keterangan ini diberikan pihak rumah sakit kepada kami,” pungkas Marnabas.
Kisah kematian Rahmi yang berusia 44 tahun itu memang cukup memilukan.
Saat ditemukan, Rahmi sudah dalam keadaan terlentang dengan mata terbuka di rumah kosong di Jalan PM Noor Selasa (13/12) malam.
Warga baru mengetahui Rahmi meregang nyawa setelah putranya
mendadak histeris di jalan raya. “Mamaku mati… Mamaku mati…” ujar putra Rahmi tersebut. Teriakan itu memancing warga lainnya.
Rahmi merupakan warga pendatang di kawasan itu. Dia sudah berada di sekitar lokasi rumah kosong di Jalan PM Noor tersebut sejak empat hari terakhir. Saat datang, Rahmi membonceng Bintang dengan mengendarai motor Yamaha hitam bernomor polisi KT 4371 I.
Namun selang malam hari, warga melihat Rahmi dan Bintang di depan rumah kosong dengan beratap terpal. Keesokan harinya warga yang kebetulan melintas masih melihat Rahmi beserta Bintang di tempat yang sama.
Saat dihampiri, tidak banyak yang diucapkan. Rahmi bilang menunggu suami. Warga pun iba dengan kondisi Rahmi dan anaknya tersebut. Warga sempat memberikan makan dan minum. Dan sesekali menghampiri untuk sekedar menjenguk. Mirisnya, saat ditanya di mana tempat tinggalnya dengan maksud agar diantar warga, Rahmi menolak menjawab.
“Katanya nanti suamiku yang menjemput,” kata seorang warga yang sempat ngobrol dengan Rahmi.
Mengatahui kondisi demikian warga sepakat untuk mendobrak pintu rumah kosong tersebut dan meminta Rahmi dan anaknya untuk tinggal di dalam saja. Sampai akhirnya beberapa hari kemudian Rahmi pun mengembuskan nafas terakhirnya di tempat itu. (*/nha)

To Top