Jalani Pemeriksaan Polisi, Rachmawati Soekarnoputri Sempat Diinfus – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hukum

Jalani Pemeriksaan Polisi, Rachmawati Soekarnoputri Sempat Diinfus

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Polda Metro Jaya kembali melakukan pemeriksaan terhadap Rachmawati Soekarnoputri. Pemeriksaan yang berlangsung sekitar delapan jam ini dilakukan di kediamannya Jalan Jati Padang Raya, Jakarta Selatan, Selasa kemarin (20/12).

Pemeriksaan berlangsung sejak pukul 15.00 WIB dan berakhir hingga hampir tengah malam sekitar pukul 23.15 WIB.

Juru bicara Rachmawati, Teguh Santosa, mengatakan putri Presiden pertama Soekarno itu diperiksa di rumahnya karena alasan kesehatan yang tidak memungkinkan,  Di tengah pemeriksaan, Rachmawati sempat diinfus selama sekitar satu jam.

“Kondisi kesehatan Ibu Rachmawati tidak memungkinkan dirinya memenuhi panggilan penyidik ke Polda Metro Jaya. Jadi pemeriksaan dilakukan di rumah, dan di tengah pemeriksaan Ibu Rachmawati sempat diinfus,” ujar Teguh Santosa dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Rabu (21/12).

Menurut Teguh ada 30 pertanyaan yang diajukan polisi kepada Rachmamawati, dan semua pertanyaan itu dijawab dengan baik.

Sementara pada pertemuan antara Rachmawati dengan sejumlah tokoh yang dilakukan beberapa kali. Dari penjelasannya dapat disimpulkan bahwa pertemuan-pertemuan itu dilakukan dalam rangka bela agama dan bela negara.

Aksi yang hendak dilakukan Wakil Ketua Partai Hati Nurani Rakyat (Gerindra) itu  pada tanggal 2 Desember 2016 di depan Gedung MPR RI adalah untuk menyampaikan petisi kembali ke UUD 1945 yang asli kepada pimpinan lembaga itu. Dan rencana aksi sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya dua hari sebelum aksi digelar.

“Ibu Rachma sudah beberapa kali berkomunikasi dengan pimpinan MPR RI dan mereka mempersilakan Ibu Rachma bersama kawan-kawan yang memiliki aspirasi serupa untuk mendatangi Gedung MPR RI,” katanya.

Teguh menambahkan bahwa rencana menyerahkan petisi sesungguhnya sejalan dengan pertemuan antara Rachmawati dan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan hampir setahun lalu, yakni pada tanggal 15 Desember 2015.

Mengenai waktu penyerahan petisi kembali ke naskah asli UUD 1945 yang bersamaan dengan penyelenggaraan Aksi Bela Islam 212, Rachamawati mengatakan hal itu terjadi karena aksi yang diselenggarakan Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) MUI yang diundurkan dari tanggal 25 November ke tanggal 2 Desember.

Dalam salah satu jawabannya, Rachma juga menolak dengan tegas semua tuduhan dan sangkaan makar itu, dan meminta agar penyidikan terhadap dirinya dihentikan.

Selama pemeriksaan Rachmawati didampingi empat pengacara, yakni Leo Sani Putra Siregar, Sururudin, Kamaruddin Simanjuntak, dan Muhammad Sofyan.

Adapun polisi yang mendatangi rumah Rachma sekitar 10 orang dari Subdit Keamanan Negara Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya dan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri.

Tiga diantaranya penjadi penyidik yang mengajukan pertanyaan, yakni Kompol Armayni, Brigadir Fitriah Nurindah Sari, dan Brigadir Ahmad Toufik.

Sekadar informasi, Rachmawati ditangkap di kediamannya dua pekan lalu, Jumat pagi (2/12). Pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno itu dituduh melakukan perbuatan makar dan permufakatan jahat hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Dalam surat penangkapan, disebutkan bahwa tindakan makar seperti yang diatur dalam pasal 107 juncto 110 juncto 87 KUHP terjadi pada tanggal 1 Desember 2016. (Fajar/JPG)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top