Bukan Di Jakarta Saja, Disini Juga Tangkap Tikus Dapet Duit Loh .. – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Bukan Di Jakarta Saja, Disini Juga Tangkap Tikus Dapet Duit Loh ..

hasil berburu tikus

FAJAR.CO.ID, MARTAPURA –Satu ekor tikus yang selama ini dianggap hama ternyata berharga. Satu ekor dibanderol Rp500. Bagi siapa saja yang ikut berburu pasti akan menikmati hasil jerih payahnya. Sayembara itu pun digagas oleh aparat desa untuk membasmi hewan pengganggu yang mudah ditemukan saat sejumlah ladang memulai masa tanam setelah sebelumnya di panen.

Setelah sebelumnya ribuan ekor tikus berhasil diburu di kawasan Tambak Anyar Kecamatan Martapura Timur, kini giliran petani dari Antasan Senor, Kecamatan Martapura Barat. Di sini, aparat desa mengajak seluruh masyarakat termasuk anggota Koramil dan Polsek, mereka bahu membahu berburu tikus menggunakan alat seadanya.

Bambu panjang yang biasa digunakan untuk menanjak perahu digunakan untuk menghalau tikus yang bersembunyi di lobang-lobang dekat gundukan tanah. Sedangkan dayung kayu turut juga dipakai bila tikus sudah terkepung.

”Kami pukul-pukul lobang tikus menggunakan tatanjak, setelah keluar, baru kami pukul beramai ramai pukul dari atas jukung,” Dedi terkekeh senang, kemarin usai beraksi di tengah ladang yang didominasi rawa tersebut.

Keahlian berburu tikus baru diperoleh Dedi dari penjelasan singkat para seniornya, termasuk sosialisasi singkat dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan. Mengejar tikus dengan cara dipukul saat lari di antara air dan gundukan tanah, diakui Dedi adalah pengalaman perdana dan menyenangkan.

“Kalau abah sering ikut berburu tikus di sawah, seru dan lumayan dapat rezeki untuk beli rokok,” ujarnya dengan baju basah akibat kepercik air rawa di sekitar belakang rumah tetangganya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Harapan Bersama Desa Antasan Senor Zaini mengabarkan, perburuan tikus jadi agenda rutin saban tahun petani yang memiliki sawah yang dekat dengan rawa. Warga gelisah, tambah Zaini dengan tingginya populasi tikus yang berkeliaran di ladang setiap musim tanam tiba. “Tahun ini lebih sulit memburu tikus, debit air di sawah sangat tinggi. Kalau mau maksimal tentu harus nunggu musim kemarau, tapi ini ‘kan jadwal tanam sudah dekat jadi kami putuskan cepat berburu secara massal,” ungkap Zaini lagi.

Sekitar dua jam berburu tikus, warga cuma bisa mengumpulkan sekitar 75 ekor dengan harga perekornya Rp500, jumlah tangkapan itu termasuk sedikit mengingatkan sulitnya medan yang harus menggunakan perahu ke lokasi. Perburuan massal itu rencananya disambung lagi Karena cuaca mulai tidak bersahabat.

“Dana membeli tikus itu berasal dari petani sendiri yang diwajibkan menyerahkan hasil panen 1 blek saban tahun. Jadi, duit mereka kami gunakan untuk menggelar sayembara berburu tikus,” tukasnya.

Sedangkan Pengamat Hama dan Penyakit Kecamatan Martapura Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan Untung Prihadi mengatakan, kegiatan berburu hama jadi wahana silaturahmi sesama warga yang bermanfaat mengurangi serangan hama padi. Cara manual lebih baik dibanding menggunakan bahan kimia. “Karena serangan hama tikus hampir setiap musim tanam, yang terjadi saat-saat beberapa hari lagi padi akan di panen,” ungkapnya. (mam/yn/ram)

Click to comment
To Top