Simak 6 Fakta Mengejutkan Pembunuhan Sadis di Pulogadung – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Simak 6 Fakta Mengejutkan Pembunuhan Sadis di Pulogadung

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Aksi pembunuhan sadis di sebuah rumah mewah milik seorang arsitek Dodi Triono di Jalan Pulomas Utara, Kayuputih, Pulogadung, Jakarta Timur begitu menggemparkan. Sebelas orang dimasukan ke sebuah kamar mandi berukuran 2×1 meter, dan enam di antaranya meninggal dunia.

Di balik sadisnya kasus pembunuhan ini, ada sejumlah hal yang menunjukan begitu kejinya aksi pembunuhan ini. Berikut hasil rangkuman JawaPos.com (Fajar Group).

  1. Sebelum Disekap, Korban Ditusuk dan Disentrum

Ketika pertama kali ditemukan oleh aparat kepolisian, tak semua korban di aksi pembunuhan sadis meninggal. Dari sebelas orang yang disekap, enam masih bernyawa dan lima meninggal di lokasi.

Yang meninggal adalah Dodi Triono (59), Andra Putri (16), Dianita Gemma Dzalfayla (9), Amel, serta dua sopir bernama Yanto.  Sedangkan Tasrok sang sopir masih sempat selamat. Tapi akhirnya meninggal juga di perjalanan. Sehingga yang selamat hanya M Yaitu Emi (41), Zanette Kalila Aazaria (13), Santi (22),  Fitriyanim (23) dan Windy (23).

Di lokasi, khususnya di tubuh Dodi, polisi mendapati luka tusuk dan badannya seperti tersentrum. Dia juga yang terparah keadaannya karena ditumpuk di paling bawah saat ada di kamar mandi. Sehingga ada kemungkinan aksi penyentruman dan penusukan terjadi sebelum penyekapan.

  1. Pelaku Menggunakan Golok dan Senjata Api

Aparat menduga para pelaku pemmbunuhan sadis menggunakan senjata api dan senjata tajam dalam melakukan aksinya. Meski memang tidak ada bekas luka tembak di tubuh para korban.

Tapi luka tusuk ada di tubuh Dodi yang bekerja sebagai arsitek itu.

Informasi menggunakan pistol dan senjata api ini diketahui dari pembantu rumah tangga yang selamat dari insiden itu

“Keterangan pembantu, ada dua yang menodong korban pakai pistol dan satu lagi bawa golok,” ujar Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan di lokasi, Selasa (27/12).

Pelaku kata dia, datang pada Senin (26/12) sore. Saat itu, yang menjadi korban penodongan adalah Yanto, sopir dari Dodi.

“Dari keterangan pembantu yang selamat, saat itu Yanto baru mau mengeluarkan mobil, saat baru buka pagar kemudian datang para pelaku,” ucap dia.

  1. Dodi Dibunuh Ketika Istri Ketiga Hamil Tua

Dodi dalah pengusaha property atau developer. Dia seorang duda dan punya enam anak dari dua istri sebelumnya, yaitu Dewi dan Almianda Shafira.

Dodi cerai dengan Dewi istri pertama sejak 6 tahun silam. Kemudian menikahi Bu Fira namun cerai sejak tiga tahun lalu.

Nah, setahun silam, dia dikabarkan menikah siri dengan wanita muda. Dan kini wanita itu tinggal di sebuah apartemen.

Kabarnya, wanita cantik itu tengah hamil tua mengandung anak Dodi. Ini terlihat dari sejumlah foto-foto yang didapati di Instagram. Di mana Dodi tampak bersama wanita muda yang cantik dan hamil tua sekira tujuh bulan.

Dengan kejadian ini, dipastikan, istri siri Dodi itu menjanda dan anaknya akan lahir tanpa ada ayah.

  1. Mudahnya Pelaku Masuk ke Rumah Mewah Dodi

Pelaku pembunuhan sadis di Pulomas nampaknya sudah tahu akan Dodi dan keluarganya. Dan perencanaan pelaku sangat matang.

Rumah korban sangatlah mewah, dan dipastikan tingkat keamanan sangatlah tinggi. Baik kamera pengintai dan petugas kemanan selalu berjaga.

Namun, pelaku tetap bisa masuk dengan menodongkan senjata api. Dan pelaku nampaknya telah mengetahui kapan jam santai di kediaman pelaku.

Bahkan, rekaman kamera pengintai dikabarkan telah dibawa kabur oleh pelaku. Sehingga akan sulit bagi petugas untuk mengetahui pelaku, meski masih ada sejumlah korban yang selamat.

  1. Kematian Dodi dan Keluarga Bukan Karena Perampokan

Di awal diketahuinya kematian Dodi dan keluarga serta anak buahnya, sempat dikabarkan terjadi perampokan. Namun, setelah dilakukan olah tempat kejadian perkara, ternyata tak ada barang berharga milik korban yang hilang.

Terlihat dari luar rumah Dodi, mobil bahkan masih terparkir rapi. Dan di bagian dalam disebutkan tak ada yang hilang.

Namun jika dilihat kondisi rumah tak seperti layaknya terjadi perampokan. Meski demikian sedang terus ditelusuri apakah ada barang yang hilang atau tidak.

“Belum bisa kita simpulkan (modus). Kita masih telusuri ada barang yang hilang atau tidak,” kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Mochammad Iriawan, yang mendatangi lokasi kejadian.

Namun, ditambahkan Kapolres Jakarta Timur Kapolres Jaktim, Kombes M Agung, sejauh ini memang masih disimpulkan terjadinya pembunuhan karena ada korban yang disekap dan enam orang dinyatakan tewas.

“Masih pembunuhan yah, karena perampokan bukan karena tak ada barang yang hilang. Tetapi ada korban dan penyekapan,” ujar Agung.

  1. Dodi Ternyata Bukan Orang Sembarang

Penelusuran sementara, Dodi bukan orang asing di lingkungan sekitarnya. Dia seorang kepala RT baik hati meski berasal dari keluarga mampu.

“Pak Dodi (korban) orangnya yang sosialis, sangat bersosialisasi banget. Beliau sering memberikan santunan anak yatim, pengajian, dan acara lainnya, agamanya bagus. Sangat dikenal baik kalau di sini. Orang yang mudah ditemui, dan juga berbaur sama siapa aja. Di lingkungan ini sangat mengenal sosok beliau yang baik,” kata Wiransyah (34), salah satu warga.

Dalam pekerjaan, dia juga bukan orang sembarangan. Dodi diketahui seorang pengusaha yang punya background pendidikan arsitek. Bahkan baru-baru ini, Dodi memenangkan tender proyek di kawasan Senayan. Disebut-sebut proyek itu terkait renovasi bangunan Gelora Bung Karno (GBK).

“Dia pimpinan proyek di Senayan,” kata kerabat Dodi bernama Dewi, sambil menambahkan tidak bisa memastikan apakah ada motif dendam atau hal lain.

Dia diketahui juga punya hubungan baik dengan Presiden Joko Widodo yang kala itu masih menjabat sebagai gubernur DKI. Saat itu Jokowi mengajak Dodi makan bersama.

“Pak Jokowi baru jadi gubernur satu bulan saja langsung makan malam sama Pak Dodi, sama saya bareng. Dia dapat ucapan dari Jokowi ‘mas apa yang bisa saya bantu?’. Diundang makan itu dulu sama Pak Dodi. Berarti punya kedekatan kan ya. Saya yakin punya kedekatan,” ujar Ketua RW 16 Kayuputih, Pulogadung, Jakarta Timur, Abdul Gani, yang ikut saat proses penyelamatan korban. (Fajar/JPG)

Click to comment
To Top