Air Mata Haru Ika Usai Vonis Tiga Tahun Dandim 0812 Lamongan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Air Mata Haru Ika Usai Vonis Tiga Tahun Dandim 0812 Lamongan

FAJAR.CO.ID SURABAYA – Raut kelegaan langsung terpancar dari wajah Ika Sepdina dan Priyo Handoko di Pengadilan Militer III Surabaya.

Keduanya merupakan istri dan ayah mertua Kopka Andi Pria Dwi Harsono.

Mereka bersyukur atas vonis majelis hakim yang dijatuhkan kepada mantan Dandim 0812 Lamongan Letkol Inf Ade Rizal Muharam.

Andi ditemukan tewas tergantung pada 14 Oktober 2014 di ruang Intel Kodim Lamongan.

Saat itu dia diduga bunuh diri. Namun, setelah diusut, kematian prajurit asal Palu tersebut disebabkan penganiayaan tiga oknum tentara.

Yakni, Serma Agen Purnama, Sersan Kepala Mintoro, dan Serda Agustinus Merin. Ketiganya menganiaya atas perintah Ade Rizal.

Kala itu Ade menuding ajudan pribadinya telah melecehkan putrinya. Dia lantas disiksa dengan slang dan koran hingga tewas.

Saat hendak dikebumikan, keluarga korban diminta menandatangani bahwa kematian korban disebabkan bunuh diri.

Setelah dua tahun berjalan, vonis terhadap Ade Rizal diputuskan.

Dia divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim yang diketuai Kolonel CHK Sugeng Sutrisno.

”Selain itu, terdakwa dipecat dari Dinas Militer,” tegas Sugeng.

Setelah persidangan, keluarga dan teman-teman pendidikan seangkatan Andi yang menamakan diri sebagai tisabilaga mengucap syukur.

Mereka berdoa, lalu memotong tumpeng atas putusan tersebut.

Mereka mengenakan kaus hitam yang bergambar foto wajah Kopka Andi.

Di kaus itu, ada tulisan restore our happines di bagian depan dan we are united and strive for justice di belakang.

Mereka bahkan meneteskan air mata saking terharu dengan penegakan hukum yang disuarakan selama ini.

Perjuangan untuk mencari keadilan selama ini terbayar. Priyo Handoko, mertua Andi, merasa lega.

”Mestinya untuk harga sebuah nyawa, tiga tahun itu tergolong ringan. Tapi, kami terima karena dia (Ade Rizal) dipecat,” ujar Handoko.

Dalam pandangan pria asal Pare, Kediri, itu, Ade Rizal tidak mencerminkan sifat seorang abdi negara.

Sebab, semestinya sebagai pimpinan, tak selayaknya alumnus Akademi Militer (Akmil) 1994 itu memutuskan sepihak dengan menganiaya Andi.

”Kalau memang menantu saya salah waktu itu, kan ada alur hukumnya. Dia (Ade Rizal) menjadi anggota saja nggak layak, apalagi jadi komandan,” katanya.

Handoko melanjutkan, selama ini, beban yang dipikul keluarga Andi begitu besar.

Putri semata wayang Andi, Andina Natha Davina, selama dua tahun terakhir tak henti-hentinya menanyakan kabar sang ayah.

Meski gadis berusia lima tahun itu tahu bahwa ayahnya sudah tiada, bayang-bayang Andi tetap membekas.

Untuk menghilangkannya, keluarga mengajaknya untuk menyambangi makam Andi.

Secara tulus, keluarga Andi sebenarnya memaafkan perbuatan Ade dari dulu. Yang mereka perjuangkan selama ini adalah keadilan di mata hukum.

”Kami ini merasa orang kecil. Meskipun begitu, kami punya hak yang sama,” tambah Handoko.

Sidang putusan itu berlangsung selama dua jam. Majelis hakim membacakan 165 lembar putusan terhadap terdakwa.

Ade Rizal terbukti menganiaya dan membunuh ajudan pribadinya.

Putusan tersebut lebih ringan dua tahun daripada tuntutan oditur militer sebelumnya, yakni lima tahun.

Begitu hakim membacakan putusan, Ade Rizal diminta mengambil sikap.

Setelah berbincang-bincang dengan tiga penasihat hukumnya, hakim kembali bertanya, apakah sudah menerima atau masih pikir-pikir.

Pria yang menjabat Dandim Lamongan mulai 28 September 2012 tersebut menjawab dengan lantang. ”Siap, masih pikir-pikir,” tegasnya.

Terdakwa punya waktu tujuh hari untuk mengambil sikap.

Jika tidak ada kejelasan hingga Rabu depan, secara otomatis, putusan itu akan langsung dijalankan. (fajar/jpn)

Click to comment
To Top