Ibu Hamil Pendarahan di Sel, Ternyata Digabung dengan Tahanan Pria – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Ibu Hamil Pendarahan di Sel, Ternyata Digabung dengan Tahanan Pria

FAJR.CO.Id, SAMARINDA- Seorang wanita yang tengah hamil muda berinisial LN terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Qurrata A’yun dari Mapolsekta Samarinda Utara. Wanita 28 tahun tampak lemas dengan darah mengucur dari kedua kakinya. LN adalah tahanan di Polsek Utara. Ia dilarikan ke rumah sakit, Kamis (15/12) malam.

Sesampainya di rumah sakit tersebut, LN lantas dirujuk ke Rumah Sakit Siaga karena mengalami pendarahan hebat yang dapat membahayakan ia dan kandungannya. Mendengar istri dan calon bayinya terancam keselamatannya, Jefriansyah, suami LN, naik darah. Namun ia berusaha tetap tenang menemani LN dirujuk ke rumah sakit.

Beberapa jam ditangani dokter, kondisi LN berangsur membaik dan kandungannya pun tak terganggu. Meski begitu keluarga LN tak dapat menerimanya dan menganggap pendarahan yang dialami LN akibat kesengajaan.

Melalui Syamsul Bayan, selaku kuasa hukum yang ditunjuk, akhirnya keluarga LN menempuh jalur hukum dengan mempraperadilkan Polsek Utara.

Sidang pembuka praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda itu dibuka, Selasa (27/12) kemarin, dengan dipimpin Parmatoni selaku hakim ketua. Sayang dalam sidang awal itu, tak seorang pun perwakilan dari Polsek Utara datang.

“Karena termohon (Polsek Utara) tidak hadir maka sidang diundur,” kata Parmatoni kepada Syamsul selaku kuasa hukum LN.

Setelah berembuk dengan Syamsul yang meminta agar jadwal sidang lanjutan tak diundur lama, Parmatoni sepakat untuk membuat jadwal sidang berikutnya.

“Sudah diputuskan sidang selanjutnya digelar 5 Januari 2017,” tegas Parmatoni.

Ketidak hadiran Polsek Utara dalam sidang perdana praperadilan itu sepertinya sudah diketahui Syamsul. Namun sidang harus berjalan walau tanpa kehadiran termohon.

Di luar ruang persidangan, Syamsul dengan tegas mengatakan Polsek Utara sudah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap LN.

“Polisi tidak memperlakukan klien (LN, Red) saya yang merupakan seorang perempuan dan dalam keadaan hamil secara manusiawi,” tutur Syamsul kepada sejumlah wartawan.

Dalam kasus tuduhan penggelapan uang perusahaan sebanyak Rp 5,8 miliar, Syamsul menemukan sejumlah kejanggalan dalam penyidikan yang dilakukan polisi. Dimulai dari penangkapan serta penetapan status LN sebagai tersangka.

“Yang parah klien saya ketika dilakukan penahanan digabung dengan tahanan laki-laki. Padahal dalam aturan sudah jelas tahanan wanita berbeda dengan laki-laki,” ujar Syamsul.

Yang membuat Syamsul geram yakni cara polisi melakukan penetapan status LN yang datang ke Polsek Utara, Selasa (13/12) lalu dan langsung ditahan Rabu (14/12) dini hari tanpa disertai bukti permulaan yang kuat.

“Dengan kondisi sedang mengandung, klien saya dipaksa menjalani pemeriksaan berjam-jam kemudian dijebloskan ke tahanan,” kata Syamsul.

Selain itu Syamsul juga mengadukan enam orang karyawan termasuk pimpinan tempat LN bekerja yakni sebuah dealer mobil di bilangan Jalan PM Noor, Sungai Pinang yang dituding melakukan penculikan.

“Mereka sengaja membawa klien saya ke Polsek Utara. Awalnya klien saya diajak makan, namun faktanya pimpinan dan sejumlah karyawan lainnya itu bohong. Klien saya malah dibawa ke Polsek Utara dan langsung diperiksa,” ujar Syamsul.

Yang lebih mengherankan bagi Syamsul, kasus tersebut dilaporkan secara resmi satu jam sebelum LN menjalani pemeriksaan.

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Dr Eriadi, melalui Kasubag Humas Iptu Hardy mengatakan dirinya sudah mendengar adanya informasi terkait kasus tersebut.

“Saya juga sudah dengar mengenai praperadilannya, namun untuk lebih jelasnya langsung saja hubungi Kanit Reskrim Polsekta Samarinda Utara Ipda Wawan Gunawan,” tutur Hardy.

Sementara itu Wawan yang dikonfirmasi selanjutnya belum banyak memberikan komentar. Ia hanya mengatakan untuk sidang pembuka yang berlangsung, Selasa kemarin, perwakilan Polsek Utara tidak dapat menghadirinya.

“Mungkin dalam sidang selanjutnya kami akan hadir,” pungkas Wawan. (oke/kis/nha)

Click to comment
To Top