Mba Sri dan Wajah Galau di Balik Rencana Penutupan Lokalisasi Terbesar di Jawa Tengah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Mba Sri dan Wajah Galau di Balik Rencana Penutupan Lokalisasi Terbesar di Jawa Tengah

FAJAR.CO.ID TEGAL – Puluhan germo dan ratusan Pekerja Seks Komersil (PSK) yang biasa beroperasi di wilayah Kabupaten Tegal, Jawa tengah mulai galau.

Pasalnya, Pembkab Tegal dalam waktu dekat ini akan segera menutup empat lokalisasi prostitusi di daerahnya.

Pemkab setempat bahkan sudah menyiapkan anggaran untuk melakukan aksi pembersihan wilayahnya dari praktek prostitusi.

Ada empat lokalisasi di Pantura Kabupaten Tegal yang akan ditutup. Yakni, Wandan, Gang Sempit, Peleman, dan Pengasinan.

Kabar rencana penutupan lokalisasi itu juga sudah sampai ke para pekerja seks komersial.

Di lokalisasi Peleman, Desa Sidaharja. Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal, wajah-wajah para PSK terlihat tak menunjukkan keceriaan lagi.

Wajah galau dan murung justru terlihat di antara para penjaja cinta itu. Rencana penutupan membuat pengunjung menjadi takut.

”Mau dapat tamu bagaimana, semua orang takut ke sini. Isunya kan sebelum ditutup mau ada razia gede-gedean,” ujar Sri, PSK berusia 26 tahun di Peleman.

Sri berharap bisa mendulang uang dari profesinya menyediakan jasa esek-esek.

”Minimal buat makan sehari-hari,” ucap PSK pantura itu.

Sri yang bingung bekerja apalagi masih memilih untuk tetap menjalani hidup sebagai PSK.

Karena itu, jika Peleman jadi ditutup, dia berencana melanjutkan profesinya di daerah lain yang lebih menjanjikan untuk prostitusi.

“Pilihannya antara Bogor atau Batam. Mau kerja apa lagi selain begini? Ya, kalau kepepet, baru pulang ke rumah,” kata perempuan yang telah empat tahun menjadi PSK di Peleman itu.

Dia mengaku bingung dengan perkembangan situasi terkait rencana penutupan lokalisasi Peleman.

Sri mengaku pernah diajak rapat terkait sosialisasi penutupan Peleman.

Namun, dia tak tahu pasti kapan lokalisasi itu akan ditutup.

”Tidak tahu. Tapi kalau jadi ditutup, saya mau pergi dari sini,” ujarnya.

Memang, saat ini suasana lokalisasi Peleman tidak terlihat ramai seperti sebelumnya.

Suara dentuman musik dangdut masih tetap terdengar keras bersahut-sahutan dari wisma-wisma yang berjejer di gang sepanjang 300 meter.

Di teras, warung dan tempat parkir juga masih banyak PSK yang mejeng dengan dandanan mini.

Namun, situasinya sudah tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Peleman yang biasanya ramai dengan para hidung belang yang berseliweran keluar masuk wisma, sekarang relatif lengang.

Tidak banyak tamu yang berani lagi menyambangi tempat prostitusi terbesar di Jawa Tengah itu.

Rencana Pemkab Tegal juga sudah diketahui Pengurus Lokalisasi Peleman Andi Ojin.

Menurut dia, saat ini jumlah PSK di Peleman antara 150-175 orang.

Mereka tersebar di 65 wisma. ”Jumlahnya memang fluktuatif, kadang 200, kadang dibawah 150 orang,” katanya.

Ojin mengklaim, PSK di Peleman tidak pernah ada yang menetap. Mereka hanya bertahan sekitar 2 sampai 3 bulan.

Jika jumlah pelanggannya turun, mereka akan eksodus ke tempat baru.

Hal itu menjadi cara bagi muncikari agar para lelaki hidung belang tidak bosan saat mampir ke tempatnya.

Saat ini, lanjut Ojin, jumlah muncikari di Peleman sekitar 60 orang.

Setiap bulan, muncikari harus menyetor uang ke pengurus Rp 150 ribu.

Sedangkan PSK hanya dikenai pungutan Rp 2.000 per hari.

Untuk para pedagang, hanya dimintai setoran Rp 1.000 per hari per pedagang.

”Uang itu digunakan untuk kegiatan sosial di desa, bukan untuk kepentingan pribadi para pengurus,” tandas Ojin yang sudah 12 tahun mengurus Peleman dan dipercaya menjadi ketua RT 25 RW 10, Desa Sidaharjo itu.

Menurut dia, geliat ekonomi dari prostitusi Peleman tidak hanya dirasakan PSK dan muncikari.

Sebab, warga sekitar seperti tukang cuci pakaian, salon keliling, tukang buah, pengamen, pengemis, juru parkir dan warung makanan dan minuman juga ikut mengais rezeki.

Hal inilah yang menjadi alasan mereka untuk tetap mempertahankan keberadaan Peleman.

PSK Peleman bahkan cenderung bertambah dan hanya sebagian kecil yang mau beralih profesi atau dipulangkan.

loading...
Click to comment
To Top