Ini yang Bikin Pembinaan Tahanan Remaja Kurang Efektif – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Ini yang Bikin Pembinaan Tahanan Remaja Kurang Efektif

BELUM ada wadah khusus untuk menampung warga binaan pemasyarakatan (WBP) berusia belia di Kaltim. Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), yang diyakini bisa menjadi solusi, baru bisa beroperasi sekitar triwulan I 2017.

Di Samarinda, para WBP berusia di bawah 17 tahun ditempatkan di blok khusus anak, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Samarinda. Meski ada pengkhususan, proses pembinaan mereka tidak sepenuhnya terpisah dengan WBP dewasa. Hal tersebut diakui Kepala Lapas Klas IIA Samarinda Imam Setya Gunawan. Dia menakarkan, efektivitas pembinaan hanya mencapai 60 persen.

“Kami utamakan sekolah mereka. Perlakuan dikondisikan menyerupai LPKA. Kami pisahkan, jadi mereka tidak bisa berinteraksi terus-menerus. Hanya bisa saat acara tertentu, semisal upacara,” terang Imam.

Saat ini, selain pendidikan lewat program kejar paket, kedisiplinan WBP anak juga digembleng. Tak ubahnya pramuka dan baris-berbaris. Kasi Pembinaan dan Pendidikan (Binadik) Lapas Klas IIA Samarinda Pujiono Slamet mengatakan, mayoritas WBP anak berstatus putus sekolah. Mereka masih bisa dibina dan akur.

Latar belakang kasus yang mengantarkan mereka ke lapas pun beragam, mulai pencurian, kekerasan, hingga narkoba. “Namun, yang paling banyak adalah kasus perlindungan anak,” imbuh Puji.

Salah satu WBP anak di lapas itu adalah DW (16). Dia divonis dua tahun kurungan. Sudah separuh masa hukuman dia lewati di blok khusus seluas 80 meter persegi itu. Waktu sehari-harinya dihabiskan untuk belajar program kejar paket C. Ada pula program lain yang dia ikuti, antara lain latihan pramuka hingga tadarus Alquran.  Saat ini, dia mengatakan sudah membaca hingga Juz 20.

“Selain itu, main bola, bulu tangkis, atau voli,” kisahnya.

DW juga kebagian tugas sebagai anggota divisi laundry. Bersama 10 rekan lain, dia bertugas mengurusi kebersihan pakaian WBP anak. Di antaranya, membereskan pakaian kotor, mengangkat jemuran handuk, dan cucian massal setiap sepekan. “Awalnya, banyak yang bandel, berserakan handuknya di terali. Sekarang, sudah lumayan disiplin dan rapi,” tambah Dwi.

Masih menyisakan setahun masa hukuman, dia berkesempatan mencicipi LPKA baru di eks fasilitas RSUD AM Parikesit, Tenggarong, Kukar. Dia pun tidak menolak jika nanti harus dipindah ke sana. Apalagi, menurut dia, kondisi LPKA akan lebih bersahabat ketimbang di tempatnya sekarang.

“Penginnya nanti kalau di LPKA, lebih banyak kegiatan ekstrakurikuler seperti sepak bola, musik, atau menggambar. Jadi, bisa mengembangkan minat dan hobi kami. Kalau saya kan sukanya sepak bola. Kalau main di sini (lapas), rasanya agak kurang,” tandasnya.  (*/nyc/*/ndy/k8)

To Top