Cleaning Service, Office Boy, Juga dari Tiongkok – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Cleaning Service, Office Boy, Juga dari Tiongkok

FAJAR.CO.ID, Selama ini, keberadaan buruh kasar asing di Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara sulit terungkap. Sebab, mereka pulang ke negara asal dan pergi ke wilayah itu 2-3 bulan sekali. Mayoritas pekerja tersebut berasal dari wilayah pinggiran dan pesisir Tiongkok.

Seperti diungkapkan Liu Zecai, TKA Morosi asal Provinsi Jiangshu. Dia berbekal visa kunjungan untuk bekerja di Indonesia. “Tiongkok, Tiongkok,” ujar Liu sembari menunjukkan paspornya.

Sama dengan kebanyakan TKA di Morosi, Liu irit bicara saat ditanya tentang pekerjaannya. Namun, dia sempat membenarkan bahwa dirinya bekerja di Morosi sebagai tenaga kasar saat Jawa Pos berkomunikasi dengan menggunakan gambar. Selebihnya, dia menolak dengan menggelengkan kepala.

Umumnya, mereka mengisi posisi tenaga cleaning service, office boy, buruh angkat campuran semen, tukang angkat potongan besi, buruh angkat galon, tukang pasang batu untuk cor, serta helper. Ada pula tukang masak dan sopir kendaraan proyek yang berkewarganegaraan Tiongkok.

Liu kemarin (1/1) berencana pulang ke negaranya. Bersama belasan rekan yang berasal dari Jiangshu, Liu menumpang pesawat Lion Air dari Bandara Haluoleo Kendari menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, untuk selanjutnya pindah ke penerbangan internasional.

Sementara itu, Yuda Novendri dari Bagian Personalia PT VDNI menampik kabar maraknya TKA ilegal di perusahaannya. Dia menegaskan bahwa semua TKA yang dipekerjakan oleh Virtue Dragon memiliki paspor dan visa. “Mereka 100 persen masuk lewat Bandara Soekarno-Hatta. Dan selanjutnya masuk Kendari lewat Bandara Haluoleo,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos.

Dia menerangkan, TKA di perusahaannya memang dipekerjakan dalam hitungan bulan. Karena itu, dia tidak heran jika jumlah TKA bertambah dengan wajah-wajah baru. Data per akhir November 2016, TKA yang bekerja di VDNI mencapai 701 orang. Terdiri atas 609 pekerja di Kendari dan 2 karyawan di Jakarta. “Untuk laporan Desember ini (2016, Red) masih kami buat dan baru bisa dilaporkan pada awal Januari,” jelasnya.

Dia juga membantah anggapan bahwa TKA yang diimpor dari Tiongkok adalah pekerja yang tidak mempunyai keterampilan. Menurut dia, karena teknologi smelter dibawa langsung dari Tiongkok, mau tidak mau perusahaan harus mempekerjakan teknisi dan pekerja konstruksi dari Tiongkok. Namun, dia menegaskan bahwa mereka tidak masuk kategori buruh.

“Apa teknik mengelas mesin mereka yang notabene perlu keahlian dapat dikatakan buruh? Seperti diketahui, teknologi dan pembangunan smelter sepenuhnya dari Tiongkok. Selain itu, kami mempekerjakan tenaga lokal untuk membantu mereka,” jelasnya. Menurut dia, tenaga lokal yang diserap mencapai 900 orang per November lalu. (JPG/fajar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top