Kok Bisa, Turis Cina Nyambi Bisnis Lendir, Pasti Ada yang Jadi Sponsor – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Kok Bisa, Turis Cina Nyambi Bisnis Lendir, Pasti Ada yang Jadi Sponsor

ilustrasi

FAJAR.CO.ID, JAKARTA –  Kecurigaan terhadap aktifitas ilegal para turis asal Cina akhirnya terbukti. Pihak imigrasi akhirnya menciduk 27 orang turis cantik dari Tiongkok karena menjajakan tubuh sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) di Indonesia.

Keberadaan para PSK China di Indonesia disinyalir dikelola oleh kelompok tertentu. Diduga, ada pihak yang mensponsori mereka untuk masuk ke Indonesia.

Ketua Komisi IX Dede Macan Yusuf Effendi meminta agar sponsor atau pihak yang mempekerjakan para WNA Tiongkok sebagai terapis dan PSK tersebut ditindak tegas.

Sebab para PSK itu terjaring dalam razia yang digelar oleh Tim pengawasan orang asing, Ditjen Imigrasi pada malam pergantian tahun baru, Sabtu (31/12).

“Yang perlu ditindak tegas mustinya adalah perusahaan atau sponsor yang memasukkan,” ujar Dede Yusuf, Senin (2/1).

Dia menilai, hal tersebut merupakan dampak dari kebijakan bebas visa. Sebab, berdasarkan hasil pengungkapan yang diterimanya, banyak WNA yang menyalahgunakan visanya untuk melakukan tindakan negatif. Seperti peredaran narkoba, penipuan, memalsuan, pertanian berbahaya bahkan, prostitusi seperti yang baru saja diungkap.

“Itu yang saya bilang, dampak ikutan negatif jika bebas visa diberlakukan,” imbuh Dede Yusuf.

Wakil Ketua Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay menambahkan, penangkapan para turis yang nyambi sebagai PSK dan terapis di panti pijat menjadi bukti kecil adanya TKA ilegal mencari hidup di tanah air. “TKA ilegal memang faktanya ada,” tegas Saleh kepada JawaPos.com, Senin (2/1).

Menurut Saleh, profesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) dan terapis di panti pijat merupakan pekerjaan paling mudah dilakukan, karena tidak memakan waktu lebih dari 30 hari.

Sehingga mereka cukup memanfaatkan kesempatan bebas visa sebagai pengunjung wisata ke Indonesia. Dengan modal bebas visa itu mereka itulah mereka bisa bekerja di negeri ini.

Sebagaimana diketahui, bebas visa yang diterapkan di Indonesia hanya berlaku selama 30 hari.

“Jadi, kalau ada yang masuk dan hanya bekerja 28 hari, tentu agak sulit untuk memantaunya,” sambungnya.

Untung saja, lanjut Saleh, pihak imigrasi agak jeli dan belakangan sudah banyak TKA ilegal yang dideportasi kembali ke negaranya masing-masing.

Kendati demikian, dia berharap pengawasan seperti itu lebih ditingkatkan. “Dengan begitu, WNA yang hendak menyalahgunakan bebas visa masuk, ruang geraknya semakin terbatas,” sebut politikus PAN itu.

Dalam melakukan pengawasan, pihak imigrasi diharapkan dapat bekerjasama dengan kementerian parawisata, Kemenaker, Kemenlu, Kepolisian, BIN, dan BAIS.

“Dengan kerjasama dan sinergi itu, pengawasannya bisa lebih holistik dan komprehensif,” tukas Saleh. (fajar/dna/jpg)

loading...
Click to comment
To Top