Militan Islam State Mengklaim Berada Dibalik Penembakan di Turki – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Internasional

Militan Islam State Mengklaim Berada Dibalik Penembakan di Turki

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Hingga kemarin (2/1), aparat Turki belum berhasil membekuk pelaku penembakan di kelab malam Reina pada Minggu dini hari (1/1). Namun, polisi sudah menahan delapan orang yang diduga terlibat.

Bersamaan dengan itu, militan Negara Islam alias Islamic State (IS atau ISIS) mengklaim berada di balik serangan maut yang merenggut 39 nyawa tersebut.

Dalam pernyataan tertulis yang disebarluaskan lewat media sosial, ISIS menyatakan bahwa penembakan dini hari itu dilancarkan pejuang jihadnya. ’’Tentara-tentara khalifah bertanggung jawab atas serangan di kelab malam Reina,’’ kata ISIS.

Penulisan tentara dalam bentuk jamak mengindikasikan bahwa aksi maut tersebut sangat mungkin dilakukan lebih dari seorang.

Dalam klaim tertulisnya, ISIS menyebut penembakan tersebut sebagai bentuk balas dendam terhadap Turki yang berkoalisi dengan negara-negara Barat untuk menggempur Syria.

ISIS akan terus menebar teror di Turki jika negara itu masih saja mendukung perang antiteror yang dikobarkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di Syria dan Iraq.

Sebenarnya serangan tersebut bukanlah aksi yang tidak diantisipasi. Pada 30 Desember 2016, AS memperingatkan Turki tentang ancaman teror di negerinya melalui informasi intelijen.

Washington mengungkapkan bahwa ISIS merencanakan serangan tahun baru di dua kota besar Turki. Yakni, Istanbul dan Ankara. Karena itulah, Turki mengerahkan 17.000 personel keamanan di Istanbul dan belasan ribu petugas di Ankara.

Meski ISIS mengakui teror di Reina tersebut sebagai ulahnya, pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan tidak percaya begitu saja. Sembari memburu pelaku yang dikabarkan sempat terlihat di Distrik Kurucesme, polisi Turki melanjutkan investigasi.

Termasuk menginterogasi delapan orang yang telah ditangkap dan menyelami dugaan keterlibatan jaringan ISIS Turki yang menyerang Bandara Internasional Ataturk pada Juni 2016.

Sementara itu, detail kronologi serangan mulai jelas. Pada Sabtu malam (31/12), pelaku yang naik taksi tiba di kelab malam eksklusif di tepi Selat Bosporus tersebut.

Surat kabar Hurriyet menyebutkan bahwa pelaku datang sendirian. Setelah melumpuhkan seorang petugas keamanan dan seorang pria di pintu masuk, pelaku memberondong tembakan ke para pengunjung. Dia menembakkan total 180 peluru.

Kemarin Perdana Menteri Binali Yildirim membantah laporan yang mengungkapkan pelaku mengenakan kostum Santa Claus. ’’Pelaku memang memakai jubah pada bagian luar pakaiannya untuk menyembunyikan senapan.

Tapi, dia tidak mengenakan baju Santa Claus,’’ ujarnya. Menurut sejumlah saksi, senjata yang pelaku gunakan untuk menghabisi nyawa 39 pengunjung Reina adalah Kalashnikov.

Sebelum meninggalkan kelab malam tersebut, pelaku menanggalkan jubahnya. Diduga, dia juga berganti pakaian. Selanjutnya, dia angkat kaki dari lokasi kejadian dan belum terlacak sampai sekarang. ’’Bahaya masih mengancam.

Selama petugas belum bisa menangkap teroris itu, kita tidak akan pernah tahu kapan dan di mana teror berikutnya muncul,’’ ungkap Abdulkadir Selvi, kolomnis Hurriyet.

Kemarin polisi menyebarluaskan gambar pelaku yang terekam kamera pengawas alias CCTV. Gambar hitam putih itu memang tidak terlalu jelas. Namun, berdasar investigasi awal, pelaku bukanlah warga Turki.

’’Dilihat dari ciri-cirinya, pelaku sangat mungkin berasal dari Asia Tengah. Mungkin Kyrgyzstan atau Uzbekistan,’’ terang sumber Hurriyet yang terlibat dalam proses investigasi.

Sekitar 11 di antara 39 korban tewas adalah warga Turki. Sebanyak 26 korban lainnya adalah warga asing. Kemarin Turki bersiap mengembalikan jasad  warga asing tersebut ke keluarga mereka di negara masing-masing.

Sebanyak tujuh korban berasal dari Arab Saudi dan masing-masing tiga dari Iraq dan Lebanon. India, Jordania, dan Maroko masing-masing kehilangan dua warganya dalam insiden tersebut.

Dua korban lain adalah warga Tunisia. Tetapi, salah satunya memiliki kewarganegaraan ganda, Tunisia-Prancis. Rusia, Kanada, Kuwait, Syria, dan Israel masing-masing kehilangan satu orang warga.

Seorang korban tewas yang lain adalah warga Belgia yang juga mengantongi kewarganegaraan Turki. ’’Satu korban tewas yang lain masih belum teridentifikasi,’’ terang Kantor Berita Anadolu. (AFP/Reuters/CNN/BBC/jpnn/fajar)

loading...
Click to comment
To Top