TKA Tioangkok Disini Sudah Menggurita, dari Tukang Batu, Sopir, Hingga OB – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

TKA Tioangkok Disini Sudah Menggurita, dari Tukang Batu, Sopir, Hingga OB

UU Ketenagakerjaan di pasal 42 mengatur bahwa tenaga kerja asing (TKA) hanya bisa bekerja di Indonesia sebagai tenaga ahli. Namun, di Desa Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), buruh kasar pun berasal dari mancanegara. Jumlahnya bahkan ribuan.

SECARA kasatmata, begitu banyak TKA yang menjadi buruh di Konawe. Area di sekitar Kawasan Industri Konawe saat sore, ketika jam pulang kerja, serasa satu perkampungan yang berada di Tiongkok. Di warung-warung orang bercakap Mandarin.

Pun demikian halnya di pasar, orang tawar-menawar dalam bahasa Mandarin. Data yang disebutkan perangkat Desa Morosi, tercatat 1.913 warga negara asing (WNA) yang bekerja di kawasan industri itu.

Mayoritas bekerja di proyek smelter nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI). Mereka tinggal di barak penampungan dalam kawasan proyek penanaman modal asing asal Tiongkok tersebut. Sebagai catatan, pembangunan smelter itu menelan dana lebih dari Rp 62 triliun.

“Kalau imigrasi dan ketenagakerjaan mau bekerja sama dengan pihak desa, mereka pasti panen,” kata salah seorang tokoh agama Desa Morosi kepada Jawa Pos (30/12).

Memang, bila dikroscek dengan data imigrasi Sulawesi Tenggara, jumlah TKA yang terdaftar sangat sedikit. Catatan pihak imigrasi menunjukkan, hanya 609 WNA yang bekerja di perusahaan tersebut.

Sementara itu, pihak dinas ketenagakerjaan dan transmigrasi (disnakertrans) setempat mengatakan, ada 739 TKA yang bekerja di seluruh Sultra. Artinya, ada begitu banyak TKA yang belum terdaftar. Mereka hampir pasti menjadi TKA ilegal.

Para pekerja lokal yang bekerja di proyek smelter tersebut membenarkan kondisi itu. Menurut mereka, TKA yang tercatat secara tertulis menduduki posisi di level atas seperti tenaga ahli (TA). Hal itu sesuai peraturan.

Namun, tenaga kerja level bawah belum pernah dihitung. “Kalau dihitung, jumlahnya pasti ribuan,” ujar M. Fajrian, pekerja lokal.

Mayoritas tenaga kerja yang bekerja di Konawe berasal dari wilayah pinggiran dan pesisir Tiongkok. Seperti diungkapkan Liu Zecai, TKA Morosi asal Provinsi Jiangshu. Dia berbekal visa kunjungan untuk bekerja di Indonesia. “Tiongkok, Tiongkok,” ujar Liu sembari menunjukkan paspornya.

Sama dengan kebanyakan TKA di Morosi, Liu irit bicara saat ditanya tentang pekerjaannya. Namun, dia sempat membenarkan bahwa dirinya bekerja di Morosi sebagai tenaga kasar saat Jawa Pos berkomunikasi dengan menggunakan gambar. Selebihnya, dia menolak dengan menggelengkan kepala.

Umumnya, mereka mengisi posisi tenaga cleaning service, office boy (OB), buruh angkat campuran semen, tukang angkat potongan besi, buruh angkat galon, tukang pasang batu untuk cor, serta helper. Ada pula tukang masak dan sopir kendaraan proyek yang berkewarganegaraan Tiongkok.

Liu kemarin (1/1) berencana pulang ke negaranya. Bersama belasan rekan yang berasal dari Jiangshu, Liu menumpang pesawat Lion Air dari Bandara Haluoleo Kendari menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, untuk selanjutnya pindah ke penerbangan internasional.

Sementara itu, Yuda Novendri dari Bagian Personalia PT VDNI menampik kabar maraknya TKA ilegal di perusahaannya. Dia menegaskan bahwa semua TKA yang dipekerjakan oleh Virtue Dragon memiliki paspor dan visa.

“Mereka 100 persen masuk lewat Bandara Soekarno-Hatta. Dan selanjutnya masuk Kendari lewat Bandara Haluoleo,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos.

Dia menerangkan, TKA di perusahaannya memang dipekerjakan dalam hitungan bulan. Karena itu, dia tidak heran jika jumlah TKA bertambah dengan wajah-wajah baru. Data per akhir November 2016, TKA yang bekerja di VDNI mencapai 701 orang. Terdiri atas 609 pekerja di Kendari dan 2 karyawan di Jakarta.

“Untuk laporan Desember ini (2016, Red) masih kami buat dan baru bisa dilaporkan pada awal Januari,” jelasnya.

Ia juga membantah anggapan bahwa TKA yang diimpor dari Tiongkok adalah pekerja yang tidak mempunyai keterampilan. Menurut dia, karena teknologi smelter dibawa langsung dari Tiongkok, mau tidak mau perusahaan harus mempekerjakan teknisi dan pekerja konstruksi dari Tiongkok. Namun, dia menegaskan bahwa mereka tidak masuk kategori buruh.

“Apa teknik mengelas mesin mereka yang notabene perlu keahlian dapat dikatakan buruh? Seperti diketahui, teknologi dan pembangunan smelter sepenuhnya dari Tiongkok. Selain itu, kami mempekerjakan tenaga lokal untuk membantu mereka,” jelasnya. (fajar/jpg)

loading...
Click to comment
To Top