KASIHAN! Dengan Kondisi Begini, Masih Bercita-Cita Jadi Pemadam Kebakaran – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

KASIHAN! Dengan Kondisi Begini, Masih Bercita-Cita Jadi Pemadam Kebakaran

HATI siapa yang tak terenyuh saat melihat kondisi Abdul Muhaimin yang lebih akrab di sapa Dodo (10), yang harus berjuang melawan penyakit hidrosefalus yang dideritanya. Pasangan suami-isteri Paitoh (43) dan ibu Musrifah (41) ini hanya mengandalkan obat yang dibelinya seharga Rp 700 ribu perbulan, kini ia hanya bisa pasrah dan berharap ada dermawan yang bersedia mengulurkan tangannya demi kesembuhan Dodo.

Sejuknya udara malam hari masih terasa saat penulis menyambangi kediaman Paitoh yang beralamat di  RT 13 Kelurahan Gunung Lingkas, Senin (2/1).  Dari dalam rumah terlihat seorang perempuan paruh baya yang bersama anaknya sedang asyik bersenda gurau. Wanita tersebut adalah Musrifah, ibunda Dodo, bocah penderita hidrosefalus.

Hidrosefalus adalah penyakit yang menyerang organ otak, penyakit yang mengalami penumpukan cairan di dalam otak, yang berakibat pada meningkatnya tekanan pada otak. Jika tidak segera ditangani tekanan ini dapat merusak jaringan dan melemahkan fungsi otak.

Sampailah penulis di depan pintu rumah sederhana itu, tampak perempuan berambut lurus dan sedikit terurai menyambut penulis dengan senyuman ramah. Penulis meperkenalkan diri kepada Musrifah, perlahan-lahan senyum tersebut hilang menjadi wajah sedih, sebab ia teringat perjuangannya merawat anaknya Dodo. Dengan ramah ia sembari mempersilahkan penulis untuk duduk.

Dodo yang sudah dimandikan oleh ibunya sudah siap melakukan aktifitas sehari-harinya yaitu menonton kartun kesukaanya bersama dengan sang kakak tercinta Diyan Laili (11). Ya, hanya dengan menonton inilah yang senantiasa menemani hari-harinya.

Dodo, yang menyadari kehadiran penulis yang berkunjung ke rumahnya sesekali melirk ke arah penulis dengan eksperi senang. Dodo begitu terlihat bersemangat, dari tatapannya tersirat harapan yang besar untuk sembuh.

Hati penulis pun seakan tersayat melihat pemandangan ini. Emosi langsung berkecamuk, sedih, kasihan semua bercampur hingga membuat penulis, tak mampu berkata-kata melihat kondisi Dodo.
Agar tidak terlalu larut, penulis langsung beralih ke Musrifah dan memulai perbincangan mengenai kondisi Dodo. Dari penuturan Musrifah, Dodo yang lahir pada 3 Maret 2006 lalu itu awalnya terlahir dengan kondisi normal dan tidak mengalami masalah sama sekali baik sejak dalam kandungan hingga persalinannya di rumah sakit.

“Baik saja kok Mas, tidak ada masalah dengan kandungan saya saat itu, bahkan saya pun sering melakukan pemeriksaan ke dokter dan hasilnyapun baik-baik saja saat itu,” ungkap Musrifah kepada Radar Tarakan.

Namun, dikatakan Musrifah, sejak usia Dodo beranjak ke usia 3 bulan, tiba-tiba saja kondisi suhu tubuh anaknya naik drastis dan tak kunjung reda hingga hampir seminggu lamanya.

“Tiba-tiba saja demam tinggi, dan kamipun berusaha untuk membawanya ke dokter. Saat demam tinggi itulah perubahan demi perubahan terlihat jelas dikepala Dodo,” jelasnya.

Awalnya kepala Dodo normal seperti balita biasanya, kini menjadi membesar mengalahkan bentuk kepala orang dewasa dan kian terus membesar. Musrifah dan Paitoh pun kemudian melakukan konsultasi dengan dokter. Dokter pun berkata bahwa anaknya mengalami penyakit hidrosefalus.

“Saat itu Dodo disarankan untuk menjalani operasi. Namun, kami tidak mau karena alasan kami sangat takut saat Dodo menjalani operasi,” katanya.

Adapun alasan Masrifah tidak ingin mengeporasikan anaknya, lantaran ia takut peristiwa naas untuk kedua kalinya menimpa kepada anak kesayangannya ini. “Mohon maaf Mas, kami sangat takut bila Dodo Harus operasi. Sebenarnya sebelum Dodo lahir, anak saya pertama Fajar di usia lima bulannya meninggal karena menjalani operasi yang saat itu juga mengalamihedrosifalus,”ucapnya.

Sehingga dengan pristiwa tersebut membuat Masrifah dan Paitoh trauma dan tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali kepada anaknya Dodo.

“Alhamdulillah, kami yakin dengan tidak menjalani operasi anak kami Dodo dalam keadaan baik-baik saja, karena selama ini Dodo hanya kami berikan obat-obat tradsional untuk mengurangi cairan di kepalanya agar tidak terus menerus membesar,” ujarnya.

Meski kondisi anaknya tidak normal, Musrifah Dan Paitoh tetap bersyukur dan merawat anaknya tersebut, karena bagi mereka bahwa ini adalah karunia Tuhan yang sudah diberikan.

“Meski kondisinya berbeda dengan anak-anak lainnya, Dodo adalah anak kesayangan saya, kami jaga dan rawat dengan sepenuh hati kami,” lanjutnya.

Saat penulis serius mendengarkan cerita Musrifah mengenai keadaan Dodo, tiba-tiba Dodo berteriak ternyata ia juga ingin mengajak penulis mengobrol layaknya anak normal lainnya.

Dengan senang hati, penulis pun kemudian mengajak Dodo untuk berkomunikasi. Ternyata di luar nalar penulis, Dodo terlihat sangat lihai dan pintar berhitung, bahkan tak terpikirkan oleh penulis ternyata Dodo juga sangat pintar membaca apalagi mengenai menghafal kode-kode lampu lalu lintas.

“Lampu warna merah berhenti, lampu hijau jalan dan lampu kuning hati-hati dan kalau sudah besar saya mau jadi pemadam kebakaran kak,” ucap Dodo dengan terbata-bata.

Jangan heran, meski Dodo mengalami Penyakit hedrosifalus ia sangat hafal dengan  lagu  kebangsaan Indonesia raya. “Dodo hafal tidak lagu Indonesia raya?” tanya Musfirah. “Iya dong,” jawab Dodo dengan wajah sumringah.

Dikatakan Musrifah, anaknya ini sangat berbeda dengan anak-anak penderita hedrosifalus lainnya. Anaknya bisa membaca, menghafal dan mudah untuk di ajak komunikasi. Karena selama ini, Musrifah melihat anak-anak yang memiliki kondisi seperti anaknya jarang ada yang bisa diajak komunikasi.

“Ini semua karena Allah SWT, karena Nya lah anak kami bisa sehat hingga saat ini,” kata Musfirah.

Sementara itu, Paitoh ayah dari Dodo tak ingin menangisi kondisi anaknya, meski ia bekerja hanya sebagai honorer di Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) dengan gaji yang tak besar, namun ia selalu bersyukur dengan gajinya tersebut, karena baginya rejeki sudah ada yang atur.

Yah di cukup cukupi lah Mas, untuk membiayai anak  dan istri saya. Sekedar untuk membeli obat Dodo yang seharga Rp 700 ribu itu aja sudah sangat bersyukur,” ucap Ayah Dodo.

Saat ini Dodo sudah menerima bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sebesar Rp 500 ribu  perbulan. “Alhamdulillah ada yang bantu untuk beli obat Dodo, dan juga ada bantuan dari teman-teman komunitas sedekah jumat (KSJ) yang sudah membantu Dodo saat ini,” ujar Paitoh.

Paitoh pun sangat bersyukur, meski kondisinya ekonominya tak menentu namun masih banyak yang sayang pada anaknya dan memberikan kasih sayang yang begitu besar.

“Kami ucapkan banyak-banyak terimakasih atas bantuannya selama ini, hanya Allah SWT lah yang dapat membalaskan semua kebaikan kalian semua. Amien,” pungkasnya.

Bagi siapapun yang berkeinginan untuk membantu pembelian obat Dodo, ingin menjadi donatur, bisa mengirim melalui nomor rekening Radar Tarakan Peduli: 0057-029-269 Bank Kaltim, nomor telepon 055125800 atau bisa mendatangi kantor Radar Tarakan di Jalan Sei Sesayap Kelurahan Kampung Empat, Kecamatan Tarakan Timur. (eru/nri)

loading...
Click to comment
To Top