Mantan Penyiar Radio Ini Ternyata Punya Hoby Makan Ayam Hidup-hidup – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Mantan Penyiar Radio Ini Ternyata Punya Hoby Makan Ayam Hidup-hidup

FAJAR.CO.ID SIDOARJO – Mayoritas penduduk didunia sangat suka dengan maskan daging ayam. Tapi kalau makan ayam hidup-hidup, bisa dipastikan itu hanya ada di cerita horor, atau suku primitif di pedalaman.

Namun, di Dusun Jangan Asem, Desa Trompoasri, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur, cerita orang makan ayam hidup, benar adanya.

Lima tahun silam, nama Miskaulah menjadi buah bibir di kampungnya, karena kebiasaanya memakan ayam hidup-hidup.

Meski sudah menjalani terapi, kebiasaan tersebut belum hilang. Hingga kini, ribuan ayam mentah telah disantapnya.

Miskaulah membuka lembar demi lembar album foto bersampul hitam di ruang tamu rumahnya saat ditemui Jawa Pos Senin (2/1).

Dalam foto itu, perempuan 37 tahun tersebut terlihat mengunyah daging ayam mentah dan mengisap darahnya.
Pada beberapa foto, dia juga tampak mencabuti bulu ayam dengan giginya.

Wajah Miskaulah tiba-tiba tersenyum saat melihat foto itu. “Lihat foto-foto seperti ini, saya jadi ngiler. Hmmm…,” katanya sambil menunjukkan salah satu foto dirinya yang mengupasi kulit ayam.

Kebiasaan itu diakui Miskaulah sudah sejak kecil dilakukanya. Walaupun sehari-hari sebenarnya, dia sama dengan manusia normal lainnya.

Memakan nasi dan olahan daging matang. Namun, kebiasaan aneh tersebut baru muncul ketika dia duduk di bangku kelas V. “Awalnya, tidak ada masalah,” ucapnya.

Miskaulah menuturkan, dirinya adalah anak keempat di antara 12 bersaudara.

Dia terlahir dari keluarga kurang mampu. Orang tuanya bekerja sebagai buruh sawah. Jatah makan hanya sehari sekali.
Itu pun harus berbagi dengan saudara lainnya. Bahkan, dia kerap sehari tidak makan.

“Saat kecil, saya sering ikut ayah bekerja di sawah. Malamnya, nyetak batako. Saya mengeluh lapar. Orang tua hanya bisa menyuruh saya minum air putih,” ungkap ibu dua anak tersebut.

Miskaulah pun bingung ketika lapar mendera. Perutnya melilit. Tak ada makanan yang bisa disantap.

Dia sempat ingin memakan ubi-ubian di kebun milik tetangga, tapi orang tua melarangnya. Akhirnya, dia mencari ikan kecil dan kepiting sawah (yuyu).

Begitu berhasil menangkap ikan, Miskaulah langsung melahapnya.

“Pas saya makan, ikannya masih hidup. Keluar darah. Setelah makan, tubuh saya tidak lemas lagi,” tuturnya.

Hal itu dilakukan Miskaulah hampir setiap hari. Ayahnya pun mengetahui kebiasaan aneh tersebut, tapi membiarkannya.
“Pesan ayah, pokoknya tidak mengambil milik orang lain,” katanya.

Miskaulah tidak hanya memakan ikan dan yuyu, tetapi juga belalang dan jangkrik hidup-hidup.

Dia pun membayangkan rasanya menyantap ayam segar. Saking penginnya, dia mengumpulkan setiap upah dari pekerjaan mencari rumput.

Akhirnya, dia bisa membeli ayam. Namun, kala itu masih ayam anakan.

Dia senang bukan main. Ayam yang masih hidup tersebut langsung digigit.

Darahnya disesap. Bulu-bulu ayam dicabuti dengan mulut. Daging mentahnya langsung dilahap.

Sejak saat itu, Miskaulah ketagihan. Bahkan, jika sehari tidak makan ayam, dia lemas dan gelisah.

“Setelah makan, badan ini terasa ringan,” ujarnya.

Awalnya, kebiasaan Miskaulah menggemparkan warga kampung.

Namun, lama-kelamaan, warga memakluminya. Yang terpenting, Miskaulah tidak meresahkan warga. Toh, dia membeli sendiri ayam-ayam yang dimakannya.

“Saya tak pernah mencuri dan menyakiti orang lain,” ucapnya.

Miskaulah pun kerap diminta mengikuti atraksi. Upahnya digunakan untuk membeli ayam.

Kebiasaan aneh tersebut terus berlanjut. Setelah lulus SMP, dia bekerja sebagai penyiar radio komunitas.

Dia kali terakhir mengudara saat bekerja di radio Vasko FM. Nama sapaannya adalah Pretty.

Karena itu, warga kadang memanggilnya dengan nama tersebut. “Saya berhenti menjadi penyiar radio sejak 2010,” tuturnya.

loading...
Click to comment
To Top