Zaman Dahulu, Bangsa Ini Meyakini Darah Orang yang Dieksekusi Mati Bisa Sembuhkan Epilepsi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Interest

Zaman Dahulu, Bangsa Ini Meyakini Darah Orang yang Dieksekusi Mati Bisa Sembuhkan Epilepsi

FAJAR.CO.ID JAKARTA – Praktik kanibalisme ternyata tidak hanya dilakukan oleh suku primitif pedalaman, tapi juga oleh Keluarga kerajaan, bengasawan maupun pemuka agama.

Para kaum ‘terhormat’ itu tanpa malu dan takut sudah melakukan praktik pengobatan dengan cara kanibal.

Hal ini dilakukan karena, teknologi pengobatan yang masih jauh dari kemajuan seperti saat ini.

Hal ini terjadi pada saat ere pinisilin dan penelitian soal bakteri ditemukan.

Sejarawan medis Richard Sugg dari Durham University Inggris mengungkapkan, hal itu adalah bukti, kanibalisme tak hanya ditemukan di Dunia Baru, tapi juga di pusat-pusat peradaban di Eropa.

Praktik yang paling sederhana dari kanibalisme adalah dengan meminum atau mengoleskan darah orang lain.

Darah galdiator terutama yang paling dicari, saat itu disebutkan banyak penonton rela duduk paling dekat dengan arena utama agar bisa terciprat darah gladiator.

Para penonton semacam itu punya keyakinan aneh, dengan meminum darah pria yang kuat, meski kalah dan terbunuh, mereka akan menyerap vitalitas dan kekuatan gladiator.

Keyakinan tersebut, kabarnya datang dari legenda vampir — yang konon memperbarui tenaganya setelah minum darah manusia.

Darah diyakini merupakan simbolisasi kehidupan dan pembaruan. Mereka yang mengonsumsi cairan merah itu berharap tubuhnya kembali ‘baru’.

Salahsatu sejarawan Eropa juga mengungkapkan, dulu ada kepercayaan bahwa penderita epilepsi bisa disembuhkan dengan cara mengerikan, yakni berdiri sedekat mungkin dengan lokasi eksekusi mati.

Tangan mereka ditadahkan, dengan bentuk mirip mangkuk, siap untuk menampung darah yang terciprat.

Diyakini, darah dari orang yang kehidupannya direnggut paksa itu bisa menyembuhkan epilepsi.

Saat Paus Innocent VIII terbaring sekarat pada 1492, para dokter mendatangkan tiga pria muda, memeras darah mereka untuk dipindahkan ke tubuh sang pejabat penting.

Paus meminum darah mereka sebagai obat. Tapi, ia tetap meninggal juga.

loading...
Click to comment
To Top