Dokter Terpaksa Bikin Operasi Darurat Terhadap Perut Bayi Kembar Siam – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Dokter Terpaksa Bikin Operasi Darurat Terhadap Perut Bayi Kembar Siam

FAJAR.CO.ID, SURABAYA- Belum genap satu hari merasakan kondisi yang stabil, Desta Aminatuz Zahro, bayi pertama kembar siam asal Probolinggo, Jawa Timur harus kembali naik ke meja operasi di Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSUD dr. Soetomo Surabaya, Selasa (3/1) sore.

Beruntung, operasi darurat berisiko tinggi itu dapat dijalani dengan lancar sehingga Desta bisa kembali survive.

Tindakan operasi pembedahan ini diputuskan oleh tim dokter kembar siam RSUD dr. Soetomo setelah ditemukan adanya sesuatu yang tidak beres di dalam rongga perut bayi kembaran Desty tersebut.

Tanda-tanda gangguan itu mulai tampak pada Senin (2/1) malam. Melalui hasil foto babygram yang dilakukan di tubuh Desta ditemukan adanya udara bebas yang berada di dalam rongga perut (pneumoperitonium).

Anggota tim yang bertugas kemudian melakukan observasi lebih lanjut dan stabilisasi pada Desta.

Hal itu guna menemukan penyebab awal adanya udara sehingga perut Desta kembung. Kemudian pada Selasa (3/1) pagi, ternyata udara bebas itu meluas di dalam rongga perut yang dapat mengganggu fungsi pencernaan Desta, bahkan bisa berakibat fatal.

Ketua tim dokter kembar siam RSUD dr. Soetomo, dr. Agus Harianto, SpA (K) mengatakan bahwa pihaknya kemudian melakukan rapat pleno guna mengambil keputusan yang tepat untuk mencari penyebab keluarnya udara bebas tersebut.

“Siang itu juga kami rapatkan dan diputuskan kita operasi reopen sebelum kondisi lebih parah,” ujar dokter Agus.

Dia menyebutkan bahwa melalui hasil babygram, Desta masih terus berjuang lepas dari infeksi yang dialaminya.

Terutama pada luka sobekan perut yang menyebabkan kembar siam ini dipisahkan melalui operasi darurat, Senin (26/12) lalu.

Tim dokter juga terus memberikan antibiotik guna menyembuhkan infeksi di perut Desta.

“Desta ini tidak tahan dengan infeksinya, sehingga kondisinya menurun. Rongga perutnya ada udara bebas. Tapi dari kondisi pernafasan dan lain-lain, sebenarnya relatif stabil,” kata Agus.

Selain itu, lanjut dia, udara muncul diperkirakan juga karena infeksi yang sudah bercampur pada darah.

Banyaknya udara bebas ini bisa mengganggu pencernaan. Sebab, rongga perut lazimnya tidak ada udara. Lain halnya dengan usus pencernaan.

“Dari pengamatan kami juga ada sepsis atau infeksi kuman di dalam darah,” imbuh Agus. (fajar/jpnn)

Click to comment
To Top