Jika Nanti Anda Menginstal Aplikasi Smart Cops, Orang Inilah Penciptanya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Jika Nanti Anda Menginstal Aplikasi Smart Cops, Orang Inilah Penciptanya

Eka Mardani, pria yang menciptakan sistem pelaporan, smart cops

Berkomunikasi dengan polisi bisa lewat ujung jari. Coba saja aplikasi Smart Cops. Pembuatnya adalah Eka Mardani.

FARID S. MAULANA

SENYUM merekah di wajah Eka Mardani setelah menutup panggilan dari handphone-nya siang itu. Ucapan syukur lirih keluar dari mulutnya. Dia lega.

Idenya mendapatkan respons positif dari Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Takdir Mattanete. Dia lantas beranjak dari kursi tempat duduknya di salah satu warung makan di Jalan Ahmad Yani.

Eka menuju mobilnya, mengambil laptop. Duduk kembali ke tempat semula, dia mulai bekerja menyelesaikan beberapa fitur untuk aplikasi ciptaannya yang paling baru, Smart Cops.

Matanya langsung berfokus ke layar laptop. Jari-jarinya menari di atas keyboard. Sesekali bergumam, kadang tersenyum.

”Saya lagi memasukkan pengodean untuk fitur baru di Smart Cops. Ditunggu saja, pasti menarik,” ujar pria 35 tahun itu saat ditemui Jawa Pos Senin (2/1).

Ya, sejak aplikasi itu di-launching oleh Polres Pelabuhan Tanjung Perak pada akhir Desember, Eka memang cukup sibuk. Sebagai pencipta, dia harus terus mengembangkan dan memperbaiki aplikasi ciptaannya itu.

Beberapa kritik yang masuk menjadi bahan evaluasi. Tak jarang, dia diminta datang langsung oleh Takdir untuk berdiskusi tentang Smart Cops. ”Dia juga mau mendengar. Jadi enak ngerjain dan memperbarui Smart Cops ini,” terangnya.

Aplikasi Smart Cops berisi informasi data kriminal atau lalu lintas milik Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Pengguna tidak sekadar melihat atau memantau segala informasi terkait aksi kriminalitas, kegiatan, ataupun info lalu lintas.

Mereka juga bisa berpartisipasi dengan melaporkan atau memberikan masukan kepada polisi. ”Atau bahasa gampangnya, masyarakat bisa melakukan semua hal yang biasa dilakukan di kantor polisi. Laporan kehilangan atau laporan kejahatan,” katanya.

Smart Cops sudah diunduh 500 pengguna smartphone. ”Sosialisasinya belum berjalan,” ungkapnya.Smart Cops punya delapan fitur.

Di antaranya, SPKT Online, Daftar Buron dan Orang Hilang, Daftar Telepon Penting, Tanjung Perak News, Peran Masyarakat, dan Pantau Lantas. Ada juga Info Lokasi Rawan serta Apresiasi dan Keluhan masyarakat.

Smart Cops juga punya tombol SOS. Fungsinya sebagai alarm bagi kepolisian jika pengguna Smart Cops menjadi korban kejahatan.

Tinggal tekan tiga kali, operator akan melacak keberadaan pengguna dan mengirim polisi ke lokasi tujuan.

”Tombol itu juga terhubung langsung dengan perwira polisi di KP3. Mereka bisa langsung perintahkan anggota dan segera mendapat laporan perkembangannya,” beber Eka.

Lulusan Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengatakan bahwa konsep awal pembuatan aplikasi tersebut tercetus sekira dua atau tiga tahun silam.

Yakni, ketika Eka berkali-kali kena tilang karena melanggar aturan lalu lintas. Karena terlalu sering, dia merasa bahwa tilang tidak membawa efek jera bagi pelanggarnya.

Kala itu, polisi yang menilang mengaku tidak ada sistem yang menyimpan data pelanggar secara akurat. Jadi, semua rata. Mulai tilang pertama, kedua, hingga kesepuluh, tetap sama hukumannya: tilang.

Dari situ Eka tergerak. Karena profesinya bergerak di bidang digital content, dia tercetus membuat aplikasi untuk polisi yang menyimpan data-data lalu lintas dengan akurat.

Observasi dilakukan. Eka melihat aplikasi sejenis yang sudah ada hingga mencari referensi lain lewat buku-buku.

Dia menawarkan ide yang konsepnya masih tentang lalu lintas tersebut kepada Kasatlantas Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Mas Arjaka. Saat itu, Arjaka masih berdinas di Probolinggo.

”Saya teman SMP Arjaka. Makanya berani nawarin ke dia,” ungkap lelaki kelahiran 5 Maret 1981 tersebut. Tapi, konsep itu mandek. Sebab, penerima idenya tak punya kewenangan besar.

Selain itu, Eka sibuk dengan sejumlah proyek. Dia pernah diminta Polda Jatim untuk mengintegrasikan kamera CCTV di seluruh Jawa Timur.

”PMC namanya. Preventif Management Center. Dipasang di seluruh polres jajaran Polda Jatim,” ungkap Eka.

Akhirnya, sekitar Agustus 2016, Eka kembali bertemu Arjaka saat reuni SMP Negeri 3 Surabaya. Mereka kembali berbincang. Termasuk soal kebiasaan masyarakat yang sulit lepas dari handphone.

”Arjaka langsung ingat, saya pernah punya ide aplikasi lalu lintas. Dia mau ngusulin itu ke Kapolres-nya,” kenang Eka. Ide mulai menggelinding. Eka diminta datang ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak.

Dia harus memaparkan idenya kepada Takdir Mattanete. Perubahan demi perubahan mulai diusulkan. Eka diminta mengubah konsep. Aplikasinya tidak tentang lalu lintas saja.

Tapi, harus bisa membawahkan semua satuan fungsi yang ada di kepolisian. Dalam presentasi kedua, konsep langsung di-acc.

”Nama Smart Cops yang saya pilih juga tidak diubah,” katanya. Smart Cops adalah singkatan dari Systemic Monitoring, Analyzing Reporting of Traffic and Crime by Online Participation and Surveillance.

Terjemahan bebasnya, pengawasan tersistem dan analisis laporan tentang lalu lintas dan kriminalitas melalui partisipasi dan tugas kepolisian daring.

Beberapa kali mengutak-atik pengodean, konsep pun lahir. Itu terjadi setelah Eka dan timnya berdiskusi selama tiga bulan.

Hasilnya memuaskan walaupun tidak seluruh fitur bisa diluncurkan. Warga di wilayah hukum Polres Pelabuhan Tanjung Perak memberi banyak apresiasi.

”Aplikasi yang menggandeng kepolisian ini pertama kali lho di Surabaya. Jadi, ada rasa bangganya,” tutur pria yang juga ikut tergabung dalam Komunitas Belajar Memanah Surabaya itu.

Pria yang saat ini tinggal di perumahan di wilayah Lingkar Timur, Sidoarjo, itu menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang membuat aplikasi tersebut kurang maksimal.

Terutama perihal kesamaan konsep dengan berbagai stakeholder di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak. Misalnya, integrasi kamera CCTV di wilayah pelabuhan,

Eka mengatakan, di wilayah pelabuhan ada tiga instansi yang memasang CCTV di beberapa titik strategis. Yakni, dinas perhubungan, Pelindo, dan Polres Pelabuhan Tanjung Perak.

Untuk mengintegrasikan jadi satu kesatuan, Eka harus mendatangi dishub dan Pelindo secara langsung. ”Awalnya sulit. Terutama dishub. Karena mereka sudah punya server sendiri.

Jadi, sedikit sulit memecah server yang ada, lalu disambungkan ke operator Polres Pelabuhan Tanjung Perak,” terangnya.

Karena itu, saat ini untuk fitur Pantau Lantas, pengguna Smart Cops hanya bisa menikmati kamera CCTV di pos-pos lantas milik Polres Pelabuhan Tanjung Perak.

Namun, Eka tidak menyerah. Dia akan terus berusaha agar kamera CCTV di wilayah hukum Polres Pelabuhan Tanjung Perak bisa terintegrasi jadi satu kesatuan.

”Masalah lainnya adalah butuh kuota internet besar untuk menghubungkan itu semua dalam aplikasi. Sedangkan kapasitas dari pihak operator selulernya belum memadai,” ucapnya.

Walau beberapa fitur itu merupakan hasil perbandingan dengan aplikasi kepolisian di Amerika Serikat dan negara benua Eropa lainnya, Eka masih percaya diri.

Ada satu fitur yang jadi andalan dan murni keluar dari idenya. Yakni, SOS. ”Bentuknya memang saya buat seperti tombol warna merah, biar paling ngejreng saat buka Smart Cops,” tuturnya.

Fitur SOS merupakan buah dari pengalaman buruknya. Dia pernah terjebak di sebuah tawuran SMA di sekitar kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember sekitar awal 2016.

Ketika itu, di dalam mobilnya, Eka melihat seorang pelajar sedang dipukuli oleh belasan orang. ”Dia sudah kesakitan sekali. Banyak darahnya,” ingatnya.

Eka bingung saat itu. Mau telepon polisi, tidak tahu nomor operatornya. Pergi ke kantor polisi, takut nyawa anak SMA tersebut tidak tertolong lagi.

”Akhirnya, saya turun, nekat melerai dan menolong anak itu,” kata Eka sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Dari situlah, dia berjanji dalam hati akan membuat sesuatu yang mempermudah masyarakat untuk meminta tolong kepada polisi. Ternyata, mimpi itu terwujud dengan cepat.

Lewat Smart Cops, dia bisa menambahkan fitur SOS dan menolong orang-orang yang sedang atau melihat korban kejahatan.

Untuk saat ini, Smart Cops memang hanya bisa digunakan untuk masyarakat yang tinggal di wilayah hukum Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Di luar itu masih dalam proses pengembangan.

Dia juga ingin menggandeng Polrestabes Surabaya agar bisa menerapkan aplikasi itu di wilayah hukumnya. ”Tiap hari akan ada pembaruan. Demi sebuah kata aman hanya dalam genggaman,” tandas pria yang hobi membaca itu.

Smart Cops saat ini sudah bekerja. Ada operator yang bertugas di SPKT Online Polres Pelabuhan Tanjung Perak yang bekerja selama 24 jam nonstop.

Tujuannya, segala laporan yang masuk melalui Smart Cops bisa ditindaklanjuti dengan cepat. (*/c6/dos/sep/JPG)

To Top