Akhirnya, Australia Minta Maaf – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Akhirnya, Australia Minta Maaf

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Australia akhirnya minta maaf pada Indonesia, menyusul keputusan TNI menangguhkan kerja sama militer antara kedua negara.

Negeri Kanguru itu takluk juga. Mereka berjanji menginvestigasi dugaan adanya materi pelatihan militer yang menghina Indonesia.

Permintaan maaf itu disampaikan Menteri Pertahanan Australia, Marise Payne, di Sydney, kemarin.

“Kami telah menyampaikan rasa penyesalan kami atas kejadian ini, dan juga adanya dugaan penghinaan. Saya pikir hal yang wajar ketika sebuah negara sahabat merasakan kekhawatirannya akan hal ini,” kata Payne, seperti dilansir Reuters.

Payne menjelaskan, pihaknya akan segera melaporkan hasil temuan penyelidikan kepada pemerintah dan juga militer Indonesia. Meski begitu, Payne enggan menjelaskan lebih lanjut seperti apa temuan bahan pelatihan yang diduga menghina militer Indonesia itu.

Dia hanya menyampaikan bahwa Australia selalu mengakui kedaulatan negara Indonesia beserta integritas teritorialnya. Dia menjelaskan, temuan bahan pelatihan militer yang mengandung dugaan penghinaan tersebut akan segera dihilangkan.

“Semua dokumen pelatihan akan sesuai dengan budaya yang seharusnya,” ujarnya.

Sekadar latar, akhir tahun lalu TNI memutuskan untuk menangguhkan kerja sama militer dengan Australian Defence Force (ADF). Keputusan ini dipicu karena insiden di pusat pendidikan pasukan khusus Australia atas tiga hal. Pertama pendiskreditan peran Sarwo Edhie dalam Gerakan 30 September PKI. Kedua esai yang ditulis peserta didik terkait masalah Papua. Terakhir tulisan Pancagila di ruang Kepala Sekolah yang seolah melecehkan ideologi Pancasila.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengaku sudah menerima permintaan maaf tersebut. Kata dia, Payne menghubunginya lewat sambungan telepon, kemarin. Dalam kesempatan itu, Payne menyatakan penyesalan dan meminta maaf atas adanya kejadian tidak mengenakkan ini. “Menhan Australia sangat sedih dan prihatin terhadap kejadian ini dan permasalahan ini akan ditangani secara serius dan tegas,” kata Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Ryamizard mengatakan, militer Australia sudah mengambil sanksi administratif tingkat awal terhadap perwira yang bersangkutan, kepala komandan sekolah, serta memberhentikan kegiatan pendidikan sementara untuk melakukan investigasi dan evaluasi menyeluruh. “Menhan Australia memohon agar kejadian ini jangan sampai meluas dan mengganggu hubungan baik antara Indonesia dan Australia, khususnya di bidang pertahanan,” ucapnya.

Ryamizard menambahkan, kedua negara berjanji akan lebih mengarahkan staf dan semua jajaran kedua angkatan bersenjata untuk lebih bijak, hati-hati, dan saling menghargai eksistensi masing-masing, serta jangan masuk dalam wacana dan isu-isu sensitif. Dalam kesempatan itu, lanjut Ryamizard, Australia sangat menanti kunjungannya ke Australia untuk berbicara lebih terbuka dan dapat meninjau berbagai fasilitas militer Australia.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo juga mengaku sudah menerima surat permohonan maaf dari militer Australia, yang dikirim Kepala Angkatan Udara Australia Marsekal Mark Binskin. Selain permohonan maaf, militer Australia menyatakan tengah melakukan investigasi soal dugaan penghinaan.

Militer Australia juga berjanji akan memperbaiki kurikulum mereka. Gatot menegaskan penghentian sementara kerja sama pendidikan antara TNI dan Australia tetap dilakukan menunggu hasil investigasi.

Presiden Jokowi mengaku sudah mendapat laporan dari Menhan Ryamizard dan Panglima terkait penundaan kerja sama militer tersebut. Eks Walikota Solo ini pun menyetujui putusan tersebut dibicarakan ulang sampai masalah yang ada bisa diselesaikan secara tuntas oleh kedua belah pihak.

“Ini masalahnya biar di-clearkan dulu. Karena juga masalah, itu meskipun di tingkat operasional, tapi ini masalah prinsip,” kata Jokowi, kemarin.

Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi memastikan hubungan Indonesia dengan Australia tetap baik dan tidak berpengaruh pada rencana kunjungan Jokowi ke Australia. Jokowi sebenarnya dijadwalkan ke Australia pada November tahun lalu. Namun suasana politik Indonesia yang memanas pada tahun lalu memaksa Jokowi menunda kunjungan ini.

Retno menuturkan kedua negara terus berupaya menjaga hubungan baik pascainsiden ADF. “Australia sudah menyetujui permintaan Indonesia melakukan investigasi atas insiden ADF secara menyeluruh,” kata Retno, kemarin.

Pakar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana mengatakan, penundaan kerjasama militer dengan Australian Defence Force (ADF) adalah langkah yang tepat. Penangguhan dilakukan selama investigasi berlangsung hingga hasil nantinya diumumkan.

Menurut dia, kemungkinan hasil investigasi adalah kesalahan dilakukan oleh oknum personil militer ADF. “Bukan merupakan sikap resmi dari ADF, bahkan sikap resmi pemerintah Australia,” kata Hikmawanto, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Hubungan Indonesia dengan Australia memang kerap kali mengalami pasang surut. Yang paling membuat geger ketika sebuah dokumen yang dibocorkan oleh mantan pekerja kontrak inteligen Amerika Serikat, Edward Snowden, mengatakan bahwa inteligen Australia telah menyadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya. Penyadapan terjadi pada 2009. Pemerintah Indonesia baru mengetahuinya pada 2013. (rmol/fajar)

loading...
Click to comment
To Top