Mampus! Begal Pembunuh Ibu Guru Divonis 15 Tahun Penjara – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Mampus! Begal Pembunuh Ibu Guru Divonis 15 Tahun Penjara

pelaku yang sudah merenggut nyawa seorang guru, terlihat pasrah

FAJAR.CO.ID, SAMARINDA- Upaya memberangus aksi begal di jalan raya, dimulai dari meja sidang. Palu sidang hakim ketua yang memvonis Wahyu Al Rizkum dengan hukuman 15 tahun penjara, seolah menjadi efek jera bagi pelaku kejahatan lainnya.

Ya, pada sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda, kemarin (4/1), Wahyu, begal yang menghabisi nyawa Rika Novita Syoer, dipastikan akan tua di penjara.

Ganjaran setimpal harus dirasakan Wahyu. Karena aksi begalnya, membuat nyawa Rika melayang begitu saja. Rika dibegal oleh Wahyu pada Jumat 2 September 2016 silam di Flyover Air Hitam.

Pada sidang putusan tersebut, vonis yang diterima Wahyu lebih tinggi dua tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sebelumnya JPU menuntut Wahyu dengan hukuman penjara 13 tahun.

Humas PN Samarinda, AF Joko Sutrisno mengatakan, dalam proses perkara ini, pihaknya tidak menemukan ada hal yang meringkan. Hal itulah yang mendasari majelis hakim menjatuhkan putusan 15 tahun penjara kepada terdakwa Wahyu.

“Jadi waktu kurungannya ditambah dari tuntutan JPU. Karena terdakwa melakukan pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia. Artinya tidak hanya pencurian dengan kekerasaan, tapi ada penghilangan nyawa manusia,” kata Joko.

Selanjutnya, kata Joko, pasca putusan ini, terdakwa Wahyu diberikan kesempatan untuk melakukan banding banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Kaltim. Ataupun menerima putusan tersebut. Wahyu diberikan waktu hingga tujuh hari kedepan pasca putusan tersebut.

“Jika selama tujuh hari itu tidak ada tanggapan dari terdakwa, maka putusan dianggap sudah diterima dan perkara selesai (inkracht, Red),” ujarnya.

Beratnya hukuman yang diberikan kepada Wahyu memang beralasan. Kematian Rika member dampak luar biasa bagi orang-orang terdekatnya. Maklum, Rika merupakan guru di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) YPI Cordova. Dia juga merupakan ustazah. Rika meninggalkan seorang suami, Zul Asman Randika yang berprofesi sebagai dosen di Fakukltas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FKIP) Universitas Mulawarman (Unmul), serta 5 orang anak. Mereka adalah Mutia, Aisyah Nur Sadida, Muhammad Hamzah Nur Fauzan, Muhammad Nur Zaky Asman dan Kalila Nur Azizah. Nama terakhir masih berusia dua tahun.

Saat aksi pembegalan terjadi, Rika membonceng Mutia, anak sulungnya. Rika  dari rumah ibunya di Perumahan Batu Alam Permai, Jalan Juanda menuju kediamannya di Jalan AW Sjahranie. Ketika melintas di Flyover Air Hitam, keduanya ternyata telah dibuntuti. Wahyu pun melakukan aksinya dengan menarik tas Rika. Tak mampu menjaga kesimbangan, Rika terjatuh dari motornya. Nahas, kepala Rika membentur aspal saat terjatuh dari motornya. Nyawanya tak tertolong. Sementara Mutia hanya mengalami luka.

Usai melancarkan aksinya, Wahyu sempat buron beberapa hari. Namun persembunyiannya berhasil terendus. Beberapa hari kemudian atau tepatnya Selasa 7 September, Wahyu akhirnya ditangkap saat ia akan bertugas jaga piket malam di tempatnya bekerja sebagai sekuriti di Toko Mamasuka Jalan Pangeran Antasari.

Di awal sidang, puluhan massa yang menamai dirinya Gerakan Masyarakat Tolak Begal (GMTB) sempat melakukan aksi di depan gedung PN Samarinda di Jalan M Yamin. Peserta aksi tersebut akhirnya mengikuti seluruh proses persidangan yang dimulai sekitar pukul 13.30 Wita. Sidang ini hanya berjalan 30 menit. Pada sidang itu, tidak ada dihadiri dari pihak keluarga Rika selaku korban, mapun dari pihak Wahyu sebagai terdakwa.

SIDANG DIKAWAL MASSA GMTB

Koordinator GMTB Samarinda, Dimas Ronggo menyebut, pihaknya sangat puas dengan putusan majelis hakim ini. Dengan alasan sudah mengandung prinsip keadilan, kebermanfaatan dan kepastian hukum. Selanjutnya kata dia, pihaknya akan terus mengawal kasus begal di Kota samarinda.

“Kita sebagai gerakan masyarakat anti begal sudah bersyukur dengan putusan ini. Tapi kami bukan berhenti sampai di sini. Kami tetap mengawal berbagai kasus begal di Samarinda agar hukuman yang dijatuhkan harus sesuai dengan hukum yang berlaku dan berkeadilan,” katanya.

Sebelum persidangan dimulai, massa GMTB  membentangkan spanduk bertuliskan: “Lawan Begal. Hukum Seberat-beratnya, Samarinda Aman, Masyarakat Aman.” Sambil memegang spanduk, satu per satu peserta aksi melakukan orasi. Mereka menuntut agar pelaku begal, serta tindakan kriminal jalanan lainnya harus dihukum seberat-beratnya demi memberi efek jera.

Humas GMTB, Teguh mengatakan, warga Samarinda seakan hidup di kelilingi aksi kriminal jalanan. Dengan demikian perlu ada pengawasan bersama dari aparat keamanan, pemerintah hingga masyarakat.

Selain itu, dia juga mengatakan, perlu ada hukuman yang berat untuk pelaku agar bisa memberi efek jera. “Biar mereka yang punya niat mau begal pun pikir dua kali,” ujarnya.

Menurut data yang dihimpun pihaknya, sepanjang Januari hingga Agustus 2016, terdapat 902 kriminal jalan di Kota Samarinda. Artinya ada 3,75 kasus yang terjadi setiap enam jam. “Data ini belum perkelahian antar geng, pembunuhan, pelecehan seksual hingga narkoba,” urai Teguh.

Dengan demikian, sebagai upaya memberikan hukuman seberat-beratnya kepada setiap pelaku criminal, maka bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada proses penegakan hukum yang ada di Kota Samarinda. (zak/nha)

loading...
Click to comment
To Top