Suap Pejabat Bakamla Diduga Gunakan Perantara – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hukum

Suap Pejabat Bakamla Diduga Gunakan Perantara

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pemberian suap kepada pejabat Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Eko Susilo Hadi dari Direktur Utama PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah diduga dilakukan melalui perantara. Kuasa hukum Fahmi, Maqdir Ismail menyebut nama Ali Fahmi alias Fahmi Al-Habsyi sebagai  perantara suap   sehingga suami artis Inneke Koesherawati itu mendapatkan proyek pengadaan satelit monitoring senilai Rp 220 miliar.

“Pak Fahmi hampir tidak pernah berhubungan dengan orang-orang di Bakamla. Dia lebih banyak berhubungan dengan Fahmi Al Habsyi ini,” kata Maqdir saat ditemui di gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/1).

Menurut Maqdir, kliennya menggunakan jasa penghubung yang salah satunya adalah Fahmi Al-Habsyi, untuk mendapatkan proyek di Bakamla. Karena itu, Fahmi Darmawansyah tidak pernah berhubungan langsung dengan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam proyek ini. Yaitu Deputi Informasi, Hukum, dan Kerja Sama Bakamla Eko Susilo Hadi, dan Laksamana Pertama, Bambang Udoyo. “Yah salah satu yang disebut itu Pak Fahmi Al-Habsyi itu,” ujar Maqdir.

Maqdir menyebut Fahmi Al-Habsyi merupakan pihak yang bukan berasal dari perusahaan Fahmi Darmawansyah. “Dia orang swasta bukan satu perusahaan, beda perusahaan,” kata dia.

Kamis (5/1) kemarin, KPK memanggil seorang saksi dari pihak swasta bernama Fahmi Al-Habsyi dalam kasus dugaan suap terkait pengadaam satelit monitoring di Bakamla tahun 2016. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, keterangan Fahmi dibutuhkan karena dia diduga memiliki relasi dengan pihak Bakamla. “(Fahmi Al-Habsyi) yang diduga punya relasi dengan pejabat Bakamla sehingga dibutuhkan keterangnya dalam kasus ini,” kata Febri.

Meski demikian, Febri enggan mengungkap secara detail peran dari seseorang bernama Fahmi Al-Habsyi tersebut. Menurut dia, itu semua tengah didalami penyidik. “Akan ditelusuri pihak-pihak yang berbeda yang punya kaitan,” ujarnya.

Seperti diketahui, pada 13 Desember 2016, KPK menangkap empat orang di dua lokasi berbeda di Jakarta. Di antaranya, Deputi Informasi Hukum dan Kerjasama sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Utama (Sestama Bakamla), Eko Susilo Hadi (ESH). KPK juga menangkap tiga pegawai PT MTI, Muhammad Adami Okta, Hardy Stefanus, dan Danang Sri Radityo.

Dalam penangkapan KPK menyita barang bukti berupa uang sebesar Rp 2 miliar dari tangan Eko yang ditangkap di Kantor Bakamla, Jakarta Pusat. Suap diberikan terkait dengan pengadaan alat monitoring satelit RI Tahun 2016 dengan sumber pendanaan APBN-P tahun 2016 senilai Rp 200 miliar.

KPK kemudian menetapkan Eko, Adami, dan Hardy sebagai tersangka. Serta, Direktur Utama PT MTI, Fahmi Darmawansyah sebagai tersangka pemberi suap. Sementara Danang berstatus saksi dan dilepaskan.

Eko, Adami, dan Hardy ditahan pada 15 Desember 2016. Sementara Fahmi Darmawansyah yang juga suami artis Inneke Koesherawati itu ditahan pada 23 Desember 2016 lalu. Sebelumnya, Fahmi berada di Singapura sebelum OTT terjadi. (Fajar/jpg)

Click to comment
To Top