WOW!! Ini Jumlah Gempa yang Terjadi di Maluku Sepanjang 2016 – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

WOW!! Ini Jumlah Gempa yang Terjadi di Maluku Sepanjang 2016

FAJAR.CO.ID, MALUKU – Selama tahun 2016 kemarin, tercatat kurang lebih 1.222 gempa dalam skala besar dan kecil terjadi di Provinsi Maluku. Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Ambon, Andi Azhar Rusdin, melaporkan, Maluku merupakan wilayah yang rawan akibat gempabumi. Hal ini dapat dilihat dari tingkat keaktifan gempabumi (seismisitas) pada tahun 2016.

Berdasarkan data BMKG Stasiun Geofisika Ambon sepanjang tahun 2016, tercatat 1.222 gempabumi yang terjadi di wilayah Maluku. Di mana, 43 gempabumi tersebut dirasakan dan satu diantaranya menimbulkan kerusakan dan korban jiwa.

Gempabumi di wilayah Maluku didominasi dengan kekuatan kurang dari M 5 yaitu, sebanyak 1.180 kejadian atau sekitar 97 persen dari total kejadian gempabumi sepanjang 2016. Sedangkan untuk gempabumi signifikan atau kekuatan di atas M 5 terjadi sebanyak 42 kali. Dua diantaranya berkekuatan di atas M 6 yaitu gempabumi M 6.3, pada, 5 Juni 2016 dan gempabumi M 6.6, pada tanggal 21 Desember 2016 yang terjadi di Laut Banda.

Gempabumi di wilayah Maluku juga didominasi gempabumi dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 km yang terjadi sebanyak 871 kali dan gempabumi dengan kedalaman menengah hingga dalam terjadi 351 kali.

Gempabumi dengan kedalaman dangkal banyak terjadi di sekitar Pulau Ambon, Buru, Seram dan sekitarnya, yang disebabkan oleh subduksi Seram, Seram thrust yang terletak di Selatan Pulau Seram serta patahan lokal aktif yang terletak di pulau tersebut.

Sedangkan untuk gempabumi dengan kedalaman menengah dan dalam terjadi di Laut Banda akibat aktivitas Subduksi Banda dan Subduksi Seram.

Untuk gemba merusak, menurut BMKG Ambon, Gempabumi merusak wilayah Maluku terjadi pada tanggal 17 Januari 2016 dengan kekuatan M 5.4. Pusat gempabumi terletak pada koordinat 3,80 lintang selatan dan 127,28 bujur timur, tepatnya di Laut Banda, pada jarak 59 kilometer arah timur Namrole dan 63 kilometer arah selatan Namlea, Pulau Buru pada kedalaman hiposenter 10 kilometer.

Guncangan gempabumi ini dirasakan dalam skala intensitas IV-V MMI di Pulau Ambalau, III MMI di Namlea dan Buru Selatan, dan II MMI di Ambon. Gempa ini menimbulkan kerusakan dan korban jiwa. Tercatat 329 rumah rusak di Ambalau dengan rincian 72 rumah rusak berat, 76 rumah rusak sedang, 181 rumah rusak ringan serta merusak 7 fasilitas umum.

Sedangkan jumlah korban tercatat 1 orang meninggal dunia, 5 orang luka berat dan 9 orang luka ringan. Bagi dia, perlu diketahui dan dilakukan antisipasi dini, meski tidak diharapkan akan terjadi gempa besar. Namun, lanjut dia, berkaca dari banyaknya kejadian gempabumi di wilayah Maluku, bukan tidak mungkin kejadian gempabumi merusak dapat terjadi kembali di wilayah Maluku ke depannya.

“Seperti ungkapan James Hutton (1795) dalam teori Uniformitarianisme yang mengungkapkan bahwa, ‘The present is the key to the past,’ yang memiliki arti kejadian yang terjadi saat ini adalah cerminan kejadian masa lampau.

Perlu diketahui hingga saat ini belum ada satupun negara atau teknologi yang dapat memprediksi kejadian gempabumi. Gempabumi merupakan bencana alam yang secara tidak langsung menyebabkan kematian melainkan konstruksi bangunanlah yang dapat menyebabkan banyak korban jiwa akibat gempabumi.

Oleh karena itu perlu perhatian khusus, baik dari masyarakat hingga pemerintah daerah, dan provinsi setempat, untuk senantiasa kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana gempabumi. Kesiapsiagaan diperlukan dalam mengurangi dampak akibat bencana gempabumi dengan cara meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait bencana alam gempabumi,” pesan Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Ambon, Andi Azhar Rusdin, dalam releasenya, Jumat, 6 Januari 2017.

Sementara Gubernur Maluku, Said Assagaff mengakui, bahwa Maluku saat ini menjadi gudangnya bencana alam. Maluku berdasarkan indeks resiko bencana Indonesia, dijuluki sebagai Supermarket bencana. Pasalnya, ada 12 ancaman bencana yang bisa terjadi di Maluku.

12 ancaman yang mengintai daerah ini ke depannya antara lain, banjir, banjir bandang, gelombang ekstrim dan abrasi, gempabumi, kekeringan, epidemi dan wabah penyakit, letusan gunung api, cuaca ekstrim, tanah longsor, tsunami, kebakaran hutan dan lahan, serta kegagalan petrologi.

“Berdasarkan resiko bencana, Maluku dapat juga dijuluki supermarket bencana, karena terdapat 12 jenis ancaman bencana yang berpotensi terjadi di Maluku,” beber Gubernur.

Dikatakan, merujuk dari 12 ancaman tersebut, maka bencana gempa bumi dan tsunami tempati posisi atas. Kata dia, tidak ada seorangpun yang

menginginkan terjadinya bencana di daerah. Tetapi, sejak zaman dahulu kala, bencana itu sudah menerpa daerah ini, seperti gempa bumi dan tsunami setinggi 15 meter di Banda pada tahun 1625, dan tahun 1674 di pulau Ambon yang mewaskan 2.300 orang.

Aspek lainnya, bahwa wilayah Maluku memiliki pemukiman di pesisir pantai, maka wilayah Maluku kategori rentan terjadinya tsunami. Oleh sebab itu, kesiapsiagaan adalah kebutuhan mutlak bila merujuk dari catatan sejarah bencana di Maluku. “Kita harus selalu waspada,” pesan dia. (Fajar/Ramal)

loading...
Click to comment
To Top