Ini Asli! Tahun Kemarin, Ada 1.898 Wanita di Samarinda yang Jadi Janda – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Ini Asli! Tahun Kemarin, Ada 1.898 Wanita di Samarinda yang Jadi Janda

ilustrasi

FAJAR.CO.ID, SAMARINDA – Angka perceraian di Kota Tepian tergolong tinggi. Pada 2016, Pengadilan Klas IA Samarinda mencatat 1.898 perceraian. Dari jumlah tersebut, 1.445 kasus di antaranya atau sekira 76 persen adalah gugatan cerai dari istri. Sisanya, yakni 453 kasus baru gugatan dari pihak suami.

Menurut psikolog klinik dr Ayunda Ramadhani, banyak hal yang memengaruhi terjadinya perceraian. Mulai pertengkaran, gangguan dari pihak ketiga, masalah finansial, dan sebagainya. Kecenderungan perempuan berani duluan menggugat cerai, disebut karena mereka merasa sudah mampu menghidupi diri sendiri.

“Saat ini, banyak perempuan berkarier. Dengan kemampuan finansial itu, jika mereka mendapati hal menyakitkan, mereka tidak khawatir berpisah. Sebab, mereka sudah mampu menafkahi diri sendiri,” ucap dia.

Tingginya angka perempuan memilih berkarier, sebut dia, tidak lain sebagai bentuk antisipasi. Tidak ingin terlalu bergantung dengan suami, sehingga mereka bisa mudah bersikap kala dalam posisi yang menurut mereka tidak nyaman. Berbeda dengan perempuan non-karier yang menggantungkan nasib pada nafkah suami. Ada kecenderungan mereka untuk bertahan.

Bagaimanapun motifnya, menurut dokter di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Atma Husada Mahakam itu, ketidakharmonisan rumah tangga apalagi perceraian punya imbas negatif. Terutama kepada perkembangan anak berusia belia hingga remaja.

Sebab, menurut dia, pada fase tersebut, anak-anak dalam masa terpenting hidupnya. Pada masa itu, mereka sangat perlu asupan kasih sayang dan banyak perhatian. Karena itu, jika terjadi perceraian, perhatian dan kasih sayang otomatis berkurang. Imbasnya, perkembangan kepribadian dan emosi anak akan terganggu.

Menangkal perceraian, sejatinya bisa dilakukan dengan banyak cara. Hal terpenting, menurut dia, pasangan bisa memanajemen emosi dengan baik. Dengan begitu, meski ada perselisihan, mereka tetap bisa bersikap dengan bijak. Sebab, tidak sedikit pula kasus yang dia temui, perceraian karena luapan emosi sesaat.

Manajemen emosi yang baik menurut dia, yakni segera menghentikan pertengkaran, saling memberi waktu untuk berpikir jernih, kemudian kembali bertemu untuk membicarakan hal tersebut dengan kepala dingin. “Tarik napas yang dalam dan rileks adalah salah satu caranya mengontrol emosi saat bertengkar,” tandasnya. (*/nyc/ndy/k9)

loading...
Click to comment
To Top