Hayoo.. Pilih Mana, Relokasi atau Dirazia, Walikota Ultimatum Pedagang Kaki Lima – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Hayoo.. Pilih Mana, Relokasi atau Dirazia, Walikota Ultimatum Pedagang Kaki Lima

FAJAR.CO.ID, BANJARMASIN – Paguyuban PKL (Pedagang Kaki Lima) Jalan Ahmad Yani bernegosiasi dengan Walikota Banjarmasin Ibnu Sina, kemarin (7/1) pagi di calon lokasi Wisata Kuliner Baiman di Jalan Lingkar Dalam.

Pokok negosiasi, menyepakati tenggat waktu relokasi. Sebab, jadwal relokasi sudah berkali-kali dimundurkan. Awalnya ditarget akhir September tahun kemarin, molor terus hingga sekarang.

Alasannya, lahan relokasi yang tak siap. Bermula dari padang rawa, lahan itu harus berkali-kali diuruk untuk pemadatan. Belum lagi pembangunan kios yang belum rampung.

Di akhir negosiasi, Ibnu menegaskan relokasi paling lambat beres per tanggal 25 Januari. “Di atas tanggal itu, tidak ada lagi yang boleh berjualan di jalan,” tegasnya.

Mengenai keluhan PKL soal lahan parkir yang lembek, Ibnu sudah meminta pengelola lekas membereskannya. “Mereka minta waktu sepekan lagi. Saya pegang janjinya,” imbuhnya.

Ada dua tujuan relokasi. Pertama, Polantas sering mengeluhkan PKL di sepanjang trotoar jalan. Selain merebut hak pejalan kaki, karena ketiadaan area parkir yang memadai, motor atau mobil pembeli sering memakan badan jalan. Mengganggu program kanalisasi yang sedang digencarkan Polresta.

Kedua, sebagian PKL membuang sisa makanan dan sampah dagangan ke sungai. Sungai Ahmad Yani jadi penuh lemak, minyak dan mengeluarkan bau anyir. “Saya tegaskan, di sini harus pakai IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Harus higienis,” tegas Ibnu.

Wakasatlantas Polresta Banjarmasin AKP Abdul Rahman yang hadir di pertemuan itu juga menegaskan akan menggelar razia gabungan bersama Satpol PP di atas tanggal 25. “Pembeli yang masih parkir di jalan akan kami tindak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Banjarmasin Priyo Eko menyebut Wisata Kuliner Baiman memiliki dua lokasi. Pertama di seberang flyover, di atas lahan eks kantor BPN (Badan Pertanahan Nasional). Daya tampungnya 22 kios, khusus untuk pedagang gorengan dan makanan ringan.

Lokasi kedua menjorok ke dalam jalan. Dengan daya tampung 65 kios untuk pedagang kuliner. Lahan kedua ini milik pihak ketiga. PKL menempati dengan membayar uang sewa. Pembangunan kios juga hasil patungan PKL. “Pengerjaan lokasi ini sudah mencapai 90 persen. Insya Allah sempat,” ujarnya.

Lantas, bagaimana tanggapan pedagang perihal batas akhir relokasi? Ketua Paguyuban PKL Jalan Ahmad Yani, Rudiyanto mengaku sangat mendukung. “Kontrak sewa lahan dimulai sejak 19 Desember lalu. Jadi kalau molor terus, justru PKL yang rugi,” ujarnya.

Mengutip data paguyuban, PKL di Jalan Ahmad Yani dari kilometer 1 sampai 6 sebenarnya berjumlah 176 pedagang. Separuhnya menolak direlokasi. “Mereka memilih pindah ke lokasi lain atau menyewa lahan ruko, ada bahkan yang keluar ongkos sampai Rp30 juta,” tambahnya.

Selama negosiasi, Rudiyanto sendiri tampak kesal. Bukan kepada pemko, tapi kepada sesama PKL. Ia menyarankan agar antar kios disekat, lantai tanahnya juga dipasangi batako. “Tapi hanya satu-dua PKL yang mau mengeluarkan biaya. Padahal demi mempercantik kawasan wisata kuliner ini juga,” pungkasnya. (fud/ran/ema)

Click to comment
To Top