MIRIS! Hanya Ada Dua Kelas, Anak Meratus Cuma Sampai Kelas Dua – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

MIRIS! Hanya Ada Dua Kelas, Anak Meratus Cuma Sampai Kelas Dua

BALAI TIBARAU : Penulis (paling kiri) bersama rombongan dan warga berfoto bersama di depan Balai Tibarau.

Di Tibarau, pendidikan hanya terhenti di dua kelas. Sesuai dengan jumlah ruangan sekolah terdekat. 

MUHAMMAD RIFANI, Loksado

nah amun ke Tibarau itu jauh banar. Jalannnya kada nyaman, lawan bebahaya mun kada mahir. Soalnya menanjak banar, habis tuh licin pulang, belum lagi di sampingnya jurang langsung,” tutur  seorang warga   kala berpapasan dengan rombongan  Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam, Seni & Budaya (IMPAS-B) dari FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Wartawan menyertai  rombongan ini menuju Balai Tibarau yang merupakan salah satu perkampungan di pedalaman meratus yang masih masuk dalam wilayah kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan.

Menuju Balai Tibarau benar-benar menguras performa mesin kendaraan. Beberapa kali kendaraan matic rombongan harus keluar asap saking susahnya medan dan tanjakan yang dilewati. Tak jarang tangan dan kaki juga harus rela menahan pegal untuk mengendalikan motor selama tiga jam lamanya.

Dalam perjalan menuju Desa Tibarau, ada beberapa desa lain yang dilewati, seperti Balai Mangidung, Balai Datar Tapah atau Balai Lian Paku. Maklum Tibarau adalah perkampungan paling ujung di kecamatan Loksado.

Namun di balik susahnya medan yang ditempuh, sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan yang indah. Hamparan perbuktian, kebun-kebun karet milik warga ataupun aliran sungai Amandit yang  deras. Saat berpapasan dengan warga atau ketika melewati beberapa perkampungan, sapaan ramah mereka membuat perjalana lebih bermakna.

Kurang lebih satu jam menggeber kuda besi, perlahan atap-atap rumah warga mulai terlihat. Ya, itu adalah Balai Tibarau tempat tujuan. Sesampainya di Tibarau, rombongan langsung disambut hangat oleh warga yang pada saat itu sedang duduk santai di teras rumah.

Disinilah pengalaman yang sangat berkesan. Pasalnya, baru saja penulis beranjak dari Kendaraan, hampir semua warga Tibarau mendatangi rombongan. “Rasanya seperti tamu kehormatan yah, sampai di sambut seperti ini,” bisik Daus, seorang mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP ULM yang juga baru pertama kali ke Tibarau ini.

Tibarau sangat jarang mendapat kunjungan dari orang luar. Balai Tibarau adalah sebuah perkampungan yang kurang lebih hanya didiami 10 buah rumah. Letaknya tepat berada di atas perbukitan dengan posisi rumah yang terbuat dari kayu dengan lokasi yang tidak beraturan atau terpencar-pencar antar rumah lainnya.

Setelah menyapa dan ngobrol singkat dengan beberapa warga yang menyambut, rombongan akhirnya menginap di salah satu rumah warga yang kebetulan berdampingan dengan Balai Tibarau.

Di andak dulu tasnya, dibawa istrirahat dulu. Maaflah rumahnya seadanya kaya ini,” kata Mama Herdy yang merupakan pemilik rumah kami menginap.

Karena hari sudah gelap dan udara dingin mulai menusuk, penulis dan rombongan pun menerima tawaran Mama Herdy yang sudah menyiapkan bantal dan Tikar (alas duduk). Mama Herdy sendiri tinggal bersama orang tuanya dan juga suami beserta dua orang anaknya.

Setelah memperkenalkan diri, dengan bercahayakan lilin rombongan banyak ngobrol dengan Mama herdy. Mulai dari pembangkit listrik tenaga air yang sudah rusak sampai bicara mengenai jenjang pendidikan anak-anak Balai Tibarau.

Fakta mengejutkan penulis temukan. Ternyata, hampir rata-rata wara Tibarau baik yang sudah remaja ataupun masih anak-anak hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 2 Sekolah Dasar saja.

“Iya karena SD di sini hanya satu saja, itupun harus jalan kaki kurang lebih 30 menit untuk ke Balai Datar Tapah. Di SD itu hanya sampai kelas 2, jadi kalau mau melanjutkannya harus jalan kaki yang sangat jauh ke SD lain,” cerita Mama Herdy.

Menurut Mama Herdy, kondisi ekonomi dan minimnya alat transportasi untuk menuju sekolahan adalah kendala utama anak-anak Balai Tibarau untuk melanjutkan sekolah. Selama perjalanan menuju Balai Tibarau, memang hanya ada satu sekolah dasar. Di sana, hanya ada dua kelas.

Sambil menikmati teh hangat yang disuguhkan Mama Herdy, sosok ibu berusia kurang lebih 30 tahun ini juga menjelaskan kalau cukup dengan kemampuan bisa membaca dasar, menulis dasar dan menghitung dasar itu sudah cukup bagi mereka.

“Hanya sedikit sekali yang melanjutkan hingga kelas 3 SD dan lulus Sekolah Dasar. Kalaupun sudah lulus dan mau melanjutkan ke SMP itu jauh sekali harus turun beberapa jam menuju sekolahnya,” kata Mama Herdy.

Di pagi hari, saat hawa dingin pegunungan merungkupi rumah-rumah,  warga Tibarau sudah memulai aktivitasnya. Mulai dari menyiapkan perbekalan untuk menuju ke ladang atau memberi pakan ternak seperti ayam, babi hingga anjing. Pemandangan yang sangat langka dan tenang.

Sangat disayangkan saat hari itu sekolah sedang libur. Tidak ada anak-anak yang bersiap untuk sekolah. Jika tidak ada kegiatan sekolah, mereka biasanya akan bermain bersama ataupun ikut orang tuanya ke ladang atau berburu.

Karena besok harinya sudah harus kembali bekerja dan kuliah, setelah bercengkrama dengan warga Tibarau, rombongan memutuskan untuk pamitan dan pulang ke Banjarmasin. Sebelum beranjak pergi, salah satu warga memberikan cinderamata secara cuma-cuma berupa butah (kerajinan tangan untuk mewadahi sesuatu) kepada rombongan. (ran/ema)

Click to comment
To Top