Profil Calon Pelatih Timnas, Milla Lebih Menjanjikan Ketimbang Fernandez – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Bola

Profil Calon Pelatih Timnas, Milla Lebih Menjanjikan Ketimbang Fernandez

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Dua nama mencuat sebagai calon pelatih Timnas Indonesia, Luis Milla dan Luis Fernandez. Keduanya merupakan pria asal Spanyol, tapi Fernandez juga memegang paspor Prancis. Di antara kedua pelatih, trek rekor Milla dirasa lebih cocok untuk Timnas Indonesia.

Jika proyeksinya adalah membawa Timnas Indonesia berprestasi di kancah internasional, Milla bisa mengusung dada. Bagaimana tidak, pria berusia 50 tahun tersebut sudah pernah mencicipi prestasi mentereng saat membawa Timnas U-19 Spanyol menjadi runner-up Piala Eropa 2010, dan setahun setelahnya menjadi jawara bersama Timnas U-21.

Di ajang itu, Milla sanggup mengorbitkan sederet talenta Spanyol seperti David De Gea, Javi Martinez, Juan Mata, Ander Herrera, Thiago Alcantara, Cesar Azpilicueta, Bojan Krkic, hingga Iker Muniain. Sejak menjadi jawara Piala Eropa U-21, karier mereka semakin mengilap di pentas klub Eropa.

Berbeda dengan Fernandez yang selama karier kepelatihannya lebih banyak menghabiskan waktu di level klub. Hanya dua tim nasional yang pernah ditukangi pria berumur 57 tahun tersebut, yakni Israel dan Guinea. Tak ada prestasi cemerlang yang ditorehkannya bersama kedua tim tersebut.

Pria kelahiran Tarifa, Spanyol, pada 27 Oktober 1959 itu hanya pernah mencatat prestasi lumayan di level timnas kala masih menjadi pemain. Bersama Timnas Prancis, dia pernah menjuarai Piala Eropa 1984, serta masing-masing peringkat keempat dan ketiga pada Piala Dunia 1982 dan 1986.

Karier apik Fernandez sebagai manajer hanya sebatas level klub saat menukangi Paris Saint Germain pada dua periode, yaitu 1994-1996 dan 2000-2003. Fernandez juga membawa PSG juara Piala Winners Eropa (1996) dan Piala Intertoto (2001), tapi belum sekalipun dia mampu mempersembahkan trofi juara liga.

Saat berpentas bersama PSG di Liga Champions, Fernandez sempat membuat kejutan dengan menaklukkan klub kuat Spanyol, Barcelona. Padahal, skuad Blaugrana saat itu dihuni sederet bintang dunia semacam Ronald Koeman, Gheorghe Hagi, dan Hristo Stoichkov, sekaligus dilatih oleh juru racik legendaris asal Belanda, Johan Cruyff.

Fernandez juga memiliki level kedisiplinan tinggi dalam menangani timnya. Hal yang membuatnya mirip dengan pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2016, Alfred Riedl. Saking ketatnya dalam menerapkan kedisiplinan, Fernandez tak sungkan menghukum bintang asal Brasil, Ronaldinho, saat ogah-ogahan berlatih.

“Fernandez kesal karena sikap Ronaldinho yang tidak menghargai pelatih dan pemain. Dia pun mencadangkannya demi mebuat matang,” ujar salah seorang mantan penggawa PSG, Jerome Leroy.

Bahkan, Fernandez tak ragu menendang Nicolas Anelka akibat kritik terbuka yang dialamatkan kepadanya. Kala itu, Anelka kesal akibat terlalu sering dicadangkan Fernandez. “Saya tidak menginginkan pemain melawan keinginannya. Bergantung kepada klub apakah ingin menjual Anelka atau tidak,” ucap Fernandez kala itu.

NILAI MINUS FERNANDEZ DIBANDING MILLA

Meski sikap tegasnya patut diacungi jempol, Fernandez tetap punya nilai minus jika merujuk pada keinginan Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, terkait kriteria calon pelatih timnas dan alasan berkiblat ke Spanyol. “Keadaan badan atau tubuh pemain kita mirip dengan Spanyol sehingga lebih dekat ke sana,” kata Edy di sela Kongres Tahunan PSSI di Hotel Aryaduta, Bandung, Minggu (8/1) lalu.

Fernandez, meski lahir di Spanyol, tapi lebih kental mengalir darah Prancis di tubuhnya. Bagaimana tidak, sejak usia 9 tahun, pria bernama lengkap Luis Miguel Fernández Toledo itu sudah hijrah ke Prancis bersama kedua orang tuanya. Dia pun menghabiskan karier bermain sepak bola di Prancis, bersama PSG, RC Paris, dan Cannes. Di level internasional, Fernandez mengoleksi 60 caps dan 6 gol bersama Les Bleus -julukan Timnas Prancis.

Saat menggeluti dunia kepelatihan, Fernandez memulainya dengan menjabat payer-manager bersama Cannes. Dia sempat mudik ke negara kelahirannya untuk menukangi Athletic Bilbao, Espanyol, hingga Real Betis, tapi tak berhasil menorehkan prestasi puncak. Pencapaian terbaiknya adalah membawa Bilbao menjadi runner-up La Liga pada 1998.

Bandingkan dengan Milla, yang begitu kental aroma Matador di tubuhnya. Menjadi produk binaan La Masia (akademi Barcelona), Milla meraih prestasi apik saat membela tiga klub besar Spanyol, Barcelona, Real Madrid, dan Valencia.

Bersama Barcelona, Milla pernah mencicipi gelar juara La Liga pada musim 1984-1985, Copa Del Rey 1989-1990, dan Piala Winners 1988-1989. Saat pindah ke Real Madrid, pria kelahiran Teruel, Spanyol, pada 12 Maret 1966 ini juga meraih titel juara La Liga sebanyak dua kali (1994-1995 dan 1996-1997), sekali Copa Del Rey (1992-1993), dan dua kali Piala Super Spanyol (1990 dan 1993).

Saat memutuskan hijrah ke Valencia, yang notabene levelnya di bawah Barcelona dan Real Madrid, karier Milla tak lantas meredup. Dia masih berhasil mempersembahkan gelar juara Copa Del Rey pada 1998-1999, Piala Super Spanyol 1999 dan Piala Intertoto (1998).

Hanya saja, karier internasional Milla sebagai pemain tak sementereng Fernandez. Dia hanya menorehkan 3 caps bersama Timnas Spanyol dan tak pernah merasakan gelar juara. Meski begitu, Milla mampu melampiaskannya saat menggeluti karier sebagai pelatih dengan menyabet menjadi runner-up Piala Eropa 2010 berama Timnas U-19 Spanyol, juara Mediterranean Games 2009 saat menukangi Timnas U-20, dan kampiun Eropa ketika meracik Timnas U-21.

Dengan curriculum vitae mengilap yang dimiliki Milla, besar peluang PSSI akan lebih memilihnya ketimbang Fernandez. Apalagi, Fernandez dikabarkan tidak ingin menghabiskan banyak waktu di Indonesia. Padahal PSSI menginginkan pemusatan latihan jangka panjang. “Masing-masing punya kredibilitas. Pernah membawa tim berprestasi dan kami harapkan menular ke Indonesia,” jelas Edy.

Menariknya, kedua figur tersebut memiliki kesamaaan yang mungkin bisa menjadi garansi sukses. Semasa bermain, Fernandez dan Milla sama-sama berperan sebagai gelandang bertahan tangguh. Jika kita kaitkan dengan fenomena saat ini, ada beberapa pelatih sukses yang berasal dari seorang gelandang bertahan. Sebut saja Antonio Conte dan Josep Guardiola.

PRESTASI LUIS MILLA

Sebagai Pemain:

Barcelona

Piala Winners: 1988/1999

La Liga: 1984/1985

Copa del Rey: 1989/1990

Real Madrid

La Liga: 1994/1995, 1996/1997

Copa del Rey: 1992/1993

Piala Super Spanyol: 1990, 1993

Valencia

Copa del Rey: 1998/1999

Piala Super Spanyol: 1999

Piala Intertoto: 1998

Sebagai Pelatih:

Timnas U-21 Spanyol

Piala Eropa U-21: 2011

Timnas U-20 Spanyol

Mediterranean Games: 2009

Timnas U-19 Spanyol

Piala Eropa U-19: Runner-up 2010

PRESTASI LUIS FERNANDEZ

Sebagai Pemain:

Paris Saint-Germain

Coupe de France: 1982, 1983

Liga Prancis: 1986

Timnas Prancis

Piala Eropa: 1984

Artemio Franchi TrophyL 1985

Piala Dunia: Urutan ketiga 1986

Piala Dunia: Urutan keempat 1982

Sebagai Pelatih:

Paris Saint-Germain

Coupe de France: 1995

Coupe de la Ligue: 1995

Piala Super Prancis: 1995

Piala Winners: 1996

Piala Intertoto: 2001

Liga Prancis: Runner-up 1996

Athletic Bilbao

La Liga: Runner-up 1998 (Fajar/JPG)

Click to comment
To Top