Ini Kisah Lanjutan Janda Pemakan Ayam Hidup yang Ingin Tobat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Ini Kisah Lanjutan Janda Pemakan Ayam Hidup yang Ingin Tobat

FAJAR.CO.ID SIDOARJO – Setelah menjalani pemeriksaan di Puskesmas Jabon, Jawa Timur, Miskaulah mengaku kondisinya relatif menjadi lebih baik.

Keluhan pusing yang dialami hampir seminggu pun perlahan mulai reda.

Perempuan pemakan ayam hidup-hidup selama bertahun-tahun itu dijadwalkan mendatangi RSUD Sidoarjo.

Miskaulah mengaku ingin sembuh dari kebiasaan ganjil tersebut.

“Sekarang masih agak lemas saja. Enggak tahu kenapa. Tetapi, lebih mendingan,” kata janda dua anak itu.

Miskaulah mengatakan sudah tidak sabar untuk bisa menjalani pengobatan di RSUD Sidoarjo.

Karena itu, kemarin dia memilih lebih banyak istirahat.

“Saya enggak ke mana-mana. Istirahat saja biar bisa ke RSUD Sidoarjo, walaupun agak takut juga,” ujarnya.

Namun, dorongan kuat agar bisa sembuh total dari kebiasaan memakan ayam hidup membuat dia bersemangat.

Selama ini Miskaulah belum bisa terbebas dari kebiasaan memakan ayam hidup itu.

Bahkan, saat diterapi dokter spesialis kejiwaan RSUD pada 2011, dia terkadang sembunyi-sembunyi memakan ayam hidup.

“Banyak orang yang tahu bahwa saya sudah sembuh. Padahal, saya masih makan sebulan sekali buat obat pengin saja,” ujarnya.

Selama makan ayam hidup, kata dia, tubuhnya tidak pernah sakit.

Biasanya rasa sakit seperti pusing dan lemas itu muncul ketika keinginan memakan ayam hidup belum dituruti.

“Setiap malam saya masih susah tidur. Yang saya pikirkan hanya ayam hidup,” ungkapnya.

Namun, demi kesembuhanya, Miskaulah pun membulatkan tekad untuk bisa sembuh total.

Karena itu, dia datang ke Puskesmas Jabon dan mendapat rujukan ke RSUD Sidoarjo.

Dia diagendakan datang ke poli psikiatri untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kejiwaan.

“Saya sudah tidak sabar,” ungkap perempuan asal Dusun Jangan Asem, Desa Trompoasri, Kecamatan Jabon, tersebut.

Memang, Miskaulah pernah menjalani terapi di RSUD Sidoarjo dengan dokter spesialis kejiwaan.

Terapi yang dijalaninya pun sangat bagus dan menunjukkan perubahan yang baik.

Keinginan makan ayam hidup yang semula sangat kuat berangsur berkurang.

Bahkan, dia sempat benar-benar berhenti makan ayam hidup.

“Pokoknya, selama masih minum obat, saya tidak makan ayam hidup. Namun, setelah obat habis, ada bisikan mulai pengin lagi,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Miskaulah memiliki kebiasaan memakan ayam hidup sejak duduk di bangku kelas V SD.

Kebiasaan itu muncul lantaran kondisi ekonomi keluarganya serba kekurangan.

Memenuhi kebutuhan makan saja sangat susah. Akhirnya, saat kecil, dia terpaksa memakan hewan-hewan yang ditemukan di sungai secara mentah-mentah.

Mulai yuyu, jangkrik, hingga ikan. Ketika memakan darah yang keluar dari hewan hidup itu, dia langsung menyukainya.

Hingga akhirnya, Miskaulah memiliki ambisi untuk bisa memakan ayam hidup.

Dari situlah, setiap kali mendapatkan uang, Miskaulah membeli ayam dan memakannya hidup-hidup.

Bahkan, dalam sehari bisa mencapai lima ekor ayam.

Darah dan daging yang dimakan mentah-mentah itu bisa menutupi rasa laparnya.

Kebiasaan tersebut terus dilakukan hingga sekarang. Namun, frekuensinya semakin sedikit.

Dalam sebulan, Miskaulah hanya memakan satu ekor ayam.

’’Kalau diperbolehkan makan banyak ayam, saya juga bisa,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) RSUD Sidoarjo dr Atok Irawan SpP mengatakan, pihaknya sangat siap membantu pengobatan Miskaulah.

Kunjungan pertama Miskaulah akan disarankan ke poli psikiatri. Di sana, dokter spesialis kejiwaan akan memberikan konseling kepada Miskaulah.

“Sementara yang dilakukan hanya konseling dulu,” ujarnya.

Dokter Atok menambahkan, rumah sakit memang pernah menangani kasus Miskaulah.

Namun, dalam penanganan kasus tersebut, dibutuhkan komitmen dari seluruh pihak.

Baik pasien maupun keluarga. Terapi juga harus dilakukan secara rutin tanpa putus.

“Namanya terapi harus terus dilakukan. Kalau berhenti, ya bisa kambuh,” katanya.

Click to comment
To Top