Polisi Periksa 16 Panitia Diksar Mapala UII – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Polisi Periksa 16 Panitia Diksar Mapala UII

FAJAR.CO.ID, KARANGANYAR – Hari ini, Senin (30/1), sebanyak 16 panitia pendidikan dasar (diksar) mahasiswa pecinta alam (mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta dijadwalkan menjalani pemeriksaan di Mapolres Karanganyar.

Sebelumnya penyidik jemput bola mendatangi sejumlah saksi ke Jogjakarta. Pemeriksaan dilakukan untuk mengumpulkan keterangan dari saksi terkait tewasnya tiga mahasiswa peserta diksar di Dusun Tlogodringo, Kelurahan Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu.

”Senin besok (hari ini, Red) panitia mulai kita periksa satu per satu. Pemeriksaan untuk menemukan bukti baru,” jelas Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak, Minggu (29/1).

Selama ini satu pekan terakhir, penyidik sudah memeriksa 21 saksi dan mengumpulkan 30 barang bukti di lokasi kejadian maupun dari peserta. Seperti kayu, pengait ikat pinggang, potongan rambut dan sebagainya.

Di hari yang sama, Ombudsman RI Perwakilan Jogjakarta ikut memonitor pengusutan kasus tersebut. Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jogjakarta Budhi Masturi dalam siaran persnya mengatakan, seharusnya pihak kepolsian tidak terlalu sulit mengusut penyebab kematian tiga mahasiswa peserta diksar mapala UII.

Sebab, sejumlah saksi sudah menceritakan siapa pelaku kekerasan. Ditambah lagi hasil otopsi dan keterangan ahli yakni dokter forensik yang mengotopsi. ”Polisi seharusnya tidak ragu segera menetapkan tersangka,” jelas Budhi.

Dia meminta semua pihak, baik kepolsian maupun UII Jogja terbuka menuntaskan kasus tersebut. ”Tidak boleh ada yang menutup-nutupi kasus ini. Demi keadilan bagi keluarga korban dan rasa keadilan masyarakat. Kami berharap tim investigasi UII dapat segera menuntaskan hasil pemeriksaan,” papar dia.

Eks Rektor UII Siap Jadi Jaminan

Terpisah, eks Rektor UII Jogjakarta Harsoyo meminta mahasiswanya tidak berspekulasi atas keputusannya mundur dari posisi rektor. “Tidak ada desakan dari pihak manapun. Merupakan bentuk pertanggungjawaban moral sebagai pucuk pimpinan tertinggi,” jelasnya di depan ribuan mahasiswa di lapangan sepak bola kampus UII Terpadu, Minggu (29/1).

Dia mengungkapkan, bagian terberat adalah menemui orang tua korban. Mulai dari ibu Asyam, Sri Handayani, dan ayah Ilham, Syafii. ”Ungkapan pertama orang tua (almarhum Ilham) adalah tidak terima dengan kejadian ini. Sudah menyekolahkan di UII untuk jadi anak saleh kenapa dibunuh,” urainya.

Meski mundur dari kursi rektor UII Jogjakarta, Harsoyo berkomitmen mengawal kasus diksar hingga tuntas. Dia juga akan mendampingi 16 panitia diksar menjalani pemeriksaan di Mapolres Karanganyar. ”Saya bertanggung jawab, jika ada satu anak yang mangkir saya bersedia menjadi jaminan. Maka dari itu saya akan mengantar sendiri sebagai wujud pertanggungjawaban,” tegasnya.

Di sisi lain, keluarga almarhum Ilham Nurfadmi Listia Adi berharap Polres Karanganyar segera mengeluarkan nama tersangka. ”Proses hukum harus disegerakan hingga ditentukan tersangka karena selama ini masih calon. Kalau ada data rumah sakit, segera diberikan (ke polisi, Red),” urai kuasa hukum keluarga Ilham, Muhammad Zaini.

Dia menyayangkan keterangan panitia diksar dan anggota Mapala UII dalam jumpa pers, Jumat (27/1), yang terkesan tidak tuntas. Bahkan keterangan masih bias.

Zaini, sapaannya, menduga masih ada fakta yang disembunyikan. Untuk itu, dia menyarankan agar penyelenggara diksar terbuka. Selanjutnya adalah peran Polres Karanganyar untuk investigasi.

”Panitia tidak menyampaikan fakta secara lugas, jelas, dan lengkap. Kami akan terus mendesak pihak kepolisian melakukan tindakan aktif mencari alat bukti dan pelakunya,” ucapnya.

Syafii, ayah Ilham, lanjut Zaini, berharap fakta segera terungkap. Berdasarkan investigasi mandiri ditemukan bukti kekerasan. Seperti komunikasi terakhir almarhum dengan orang tuanya.

”Jadi (Ilham, Red) mengaku kalau di sana (Tawangmangu, Red) dipukuli dan mengeluh sakit. Ada pula lima lembar transkip komunikasi dengan temannya, mengeluh sakit. Hanya bilang perlakuan apa saja, tapi tidak menyebut nama,” beber Zaini.

Transkrip percakapan ini telah diberikan kepada Polres Karanganyar. Dalam butir transkrip disebutkan ada berbagai kekerasan fisik. Hanya saja, bahasa yang digunakan dalam transkrip adalah bahasa Lombok.

”Kalau butuh penerjemah akan kami bantu. Isinya (transkrip, Red), jika salah sedikit langsung dipukul, merangkak dengan alas duri. Dikuatkan foto luka-luka almarhum, sempat BAB darah hitam,” beber Zainni.

Sementara itu, peserta diksar yang dirawat di Rumah Sakit (RS) Jogjakarta International Hospital (JIH) berangsur membaik. Total hingga kemarin (29/1) ada tujuh pasien rawat inap yang boleh pulang. Tiga pasien diperbolehkan pulang pada Sabtu (28/1) lalu. Sedangkan empat pasien sudah keluar Minggu kemarin.

”Kondisi sudah jauh lebih baik dan sudah bisa aktivitas secara normal. Saat ini masih dua pasien yang rawat intensif di bangsal,” jelas ketua tim medis Moch Khalimur Rouf.

Kedua pasien, imbuh Rouf, dalam kondisi stabil. Observasi masih dilakukan untuk mengetahui kesehatan secara detail. Disamping itu juga dilakukan pendampingan psikologis.

Rouf menganjurkan pasien yang pulang tetap kontrol rutin. Tujuannya mengetahui perkembangan setelah aktivitas normal. Rentang waktu periksa medis antara dua hingga tiga hari setelah pulang.

”Tetap harus check up medis secara rutin. Kalau ada keluhan segera periksakan lagi. Ini juga berlaku bagi peserta diksar lain. Jika masih ada keluhan sakit, segera periksa,” katanya. (Fajar/JPG)

Click to comment
To Top