Karena Bau Menyengat, Warga Protes Peternak Babi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Karena Bau Menyengat, Warga Protes Peternak Babi

Para peternak babi Mangkupalas sebagian besar tidak mau berpindah ke Kampung Ipil.

FAJAR.CO.ID, SAMARINDA- Tak semua peternak babi di Jalan Air Terjun, Samarinda Seberang mengikuti saran pemerintah untuk pindah ke Kampung Ipil di Tanah Merah. Beberapa dari mereka diam-diam membangun kandang di Jalan Manunggal, Gang Mandiri, RT 07, Kelurahan Rapak Dalam, Loa Janan Ilir.
Karena lokasinya lebih tinggi dari pemukiman warga, mengakibatkan pemukiman warga RT 07 dan RT 29 terkena imbasnya. Pasalnya aktivitas peternakan babi di lereng bukit ini sudah berjalan sekitar satu bulan terakhir.
Akibat hal itu, kemarin (1/2) warga yang merasa terkenda terkena imbas aktivitas peteranakan ini mendatangi lokasi kandang babi yang letaknya hulu lapangan Sepak Bola Pattimura. Tak sendiri, dalam aksi ini warga didampingi Dinas Peternakan Kota Samarinda, Lurah Rapak Dalam, dan Lurah Mangkupalas.
“Kalau hujan rumah kami dialiri air bercampur kotoran babi. Karena ternaknya berada di hulu, rumah warga jadi hilirnya. Bayangkan bau dan kotornya jadi ke mana-mana,” protes salah satu warga.
Ketua Rt 07, Yuliana Tumonglo menerangkan, pihaknya tidak mengetahui adanya pembangunan kandang babi di lingkungannya.  “Saya tahu setelah warga datang protes. Jadi sudah satu bulan mereka (peternak, Red) pindah ke atas lapangan. Jadi kalau hujan, kotorannya mengalir ke rumah waga,” terang Yuliana.
Yulian memastikan, tidak ada salah seorangpun warganya yang ikut dalam usaha ternak babi tersebut. Menurutnya semua peternak berasal dari Jalan Air Terjun, Mangkupalas.  “Tanah yang ditempati juga tanah warga sana (Jalan Air Terjun, Red). Ada yang menyewa, dan ada yang sudah membeli,” tandas pria berusia 42 tahun tersebut.
Sementara itu, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Mangkupalas, Rusdiansyah Rais, menerangkan sudah mendapat protes dari warga. Bahkan menurutnya, warga mengancam melakukan aksi demo jika hingga, Jumat (3/2) besok kandang itu tidak dibongkar.
“Warga menganggap kelurahan, kecamatan, bahkan Satpol PP  tidak bisa mengambil tindakan tegas. Sehingga pada akhirnya keributan antar warga tidak bisa dihindari. Ini sudah sampai melibatkan warga dari kecamatan lain,” terang Rusdiansyah.
Sementara itu, Lurah Mangkupalas, Maradona, menerangkan bahwa masalah tersebut di luar ranah mereka. Karena pihaknya hanya mengikuti instruksi dari instansi terkait.  “Kami hanya perantara saja. Tugas kami hanya menginformasikan kepada masyarakat, apa yang perlu mereka lakukan, peringatan apa yang perlu ditindak lanjuti. Untuk eksekusi itu dari instansi terkait,” tutur Maradona. (rm-1/aya2)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top