Penganiaya Mahasiswa UII Yogyakarta Jadi Tersangka, Keluarga Masih tak Terima – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Penganiaya Mahasiswa UII Yogyakarta Jadi Tersangka, Keluarga Masih tak Terima

Angga Saputra (2 dari kanan) saat digiring ke kantor polisi usai diamankan. Dia ternyata merupakan warga Tarakan.

FAJAR.CO.ID, TARAKAN – Mungkin tak banyak yang kenal dengan Angga Septiawan alias Waluyo (25). Meski sering ditampilkan di layar televisi, tersangka kasus penganiayaan peserta pendidikan dasar (diksar) The Great Camping (TGC) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) tetap asing di mata warga Tarakan.

Namun siapa sangka, Waluyo adalah warga Tarakan yang diketahui tinggal di perumahan  BTN Intraca Blok A, Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan Tarakan. Saat rumah Waluyo dikunjungi tadi malam, ibu Angga Septiawan alias Waluyo bernama Yumaroh (46) yang berhasil ditemuk Kaltara Pos.

Ibu dua anak tersebut masih terlihat syok dan hanya meneteskan air mata ketika ditemui. Ia mengaku kaget dan tidak menyangka jika anaknya akan mengalami kasus seperti ini. Ia sendiri sudah mendapatkan kabar tersebut Senin lalu (30/1) melalui anak keduanya yang juga mendapatkan kabar dari temannya. Nah, baru pada Selasa (31/1), Yumaroh yakin anaknya ditahan polisi setelah menyaksikan berita terkait ditayangkan di TV.

“Saya langsung syok, kok anak saya bisa terlibat hal seperti itu,” ujarnya kembali meneteskan air mata.

Dari yang dia tonton, anaknya tak sendiri ditahan. Selain anaknya, tersangka lain bernama M Wahyudi alias Yudi (25) juga ditahan yang merupakan alumni UII asal Kupang. Yumaroh mengaku tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh anaknya, sebab selama ini anak pertamanya itu dikenal baik, pendiam dan penurut. Terlebih anaknya itu sejak kecil sudah dididik di salah satu pesantren ternama di Indonesia, yakni Gontor sejak SD hingga SMA.

Ia baru keluar dari pesantren setelah lulus dari SMA dan memilih masuk di UII. “Angga itu hanya SD saja di sini,” ujarnya.

Akibat kasus yang menimpa anaknya itu, suaminya pun kemarin pagi sudah siap-siap menuju Yogjakarta untuk melihat secara langsung kondisi anaknya itu. Dia berharap apa yang dituduhkan pada anaknya itu adalah hal yang tidak benar. Sebab dari teman-teman Angga yang dihubunginya, Angga saat itu sedang tidak ikut dalam kegiatan tersebut.

Namun barang bukti berupa rotan yang ditemukan polisi di dalam kamar Angga membuat Yumaroh heran. Dengan kasus yang menimpa anak pertamanya ini, Yumaroh hanya bisa berharap agar apa yang ditudukan pada anaknya tidak benar dan segara dibebaskan.

“Satu saja mas, agar anak saya segerah bebas,” lanjutnya ketika wartawan koran ini berpamitan sekira pukul 20.00 Wita tadi malam.

Seperti diketahui, Polres Karanganyar, Jawa Tengah telah menangkap Angga Setiawan alias Waluyo dan M Wahyudi alias Yudi di indekos mereka masing-masing, Senin (30/1). Keduanya tiba di Mapolres Karanganyar sekitar pukul 11.45 WIB mengenakan penutup wajah. Satu tersangka berperawakan gemuk diduga Angga, sementara satu tersangka lain berperawakan lebih kurus diduga Yudi.

Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak mengatakan, keduanya ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik melakukan gelar perkara Minggu (29/1). ”Penangkapan sekaligus penyitaan barang bukti,” ujarnya.

Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono menyatakan kedua tersangka dikenai pasal penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Ancaman hukumannya di atas lima tahun penjara. Karenanya polisi langsung menahan Waluyo dan Yudi. “Kami juga siapkan bantuan hukumnya kepada mereka, karena ancaman hukumannya lebih dari lima tahun,” ujarnya.

Condro menuturkan, kedua tersangka itu aktif di Mapala UII. Sedangkan tentang status kemahasiswaan di UII, polisi akan mendalaminya. Sebab, ada salah satu tersangka yang sebenarnya sudah alumnus. Saat ini, lanjut Condro, penyidik terus melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi lainnya. Hal itu untuk memperkuat sangkaan sekaligus mendalami kemungkinan ada tersangka lain selain Waluyo dan Yudi.

Sebelumnya, Mapala UII atau yang dikenal dengan sebutan Unisi menggelar diksar The Great Camping di Gunung Lawu, Lereng Selatan, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Ternyata ada tiga peserta diksar yang meninggal dunia akibat kekerasan dalam kegiatan itu. Yaitu Muhammad Fadli (19), Syaits Asyam (19), dan Ilham Nurfadmi Listia Adi (20).

Saking seriusnya kasus ini, Rektor UII Yogyakarta, Harsoyo menegaskan mengundurkan diri dari jabatannya. “Saya mundur sebagai rektor UII sebagai tanggung jawab moral. Ada hal-hal yang harus dilakukan, sehingga terpaksa saya tangani dulu. Kesalahan bukan pada anak buah tapi pada pimpinan,” ujar Harsoyo dalam jumpa pers di Yogyakarta, Kamis lalu (26/1).

Dalam jumpa pers Harsoyo didampingi Menristekdikti Muhamad Nasir dan Koordinator Kopertis V Bambang Supriyadi. Dia juga mengucap maaf atas insiden yang menimpa tiga mahasiswanya itu. Harsoyo mengakui itu adalah kejadian fatal. Apalagi, dia mengatakan, tidak pernah terjadi insiden demikian di kampusnya.

“Kami sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Kami tak pernah berharap seperti ini. Mapala didirikan UII pada 1974. Kejadian memilukan baru terjadi kali ini. Civitas akademika syok,” imbuhnya.

Tak sampai di situ, Presiden Joko Widodo juga ikut berkomentar atas kasus ini. Menurut presiden yang beken dipanggil dengan nama Jokowi itu, tindak kekerasan bukanlah bagian dari pendidikan dasar dalam kegiatan apa pun. Mantan wali kota Surakarta itu bahkan menyebut tindak kekerasan yang berujung maut tersebut sebagai bentuk tindak kriminal.

“Yang namanya pendidikan dasar, itu latihan yang terukur, bukan kekerasan, apalagi sampai menyebabkan kematian. Itu sudah masuk ke kriminal,” tegasnya usai membagikan Kartu Indonesia Pintar di SMK Negeri 2 Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, DIY, Jumat lalu (27/1).

“Di perguruan tinggi dan institut mana pun tidak boleh yang namanya pelatihan dengan kekerasan seperti itu,” ujar Jokowi. (kj)

Click to comment
To Top