4 Pemain Besar Tembakau Gorila Digaruk Polisi, Barangnya Produksi Surabaya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

4 Pemain Besar Tembakau Gorila Digaruk Polisi, Barangnya Produksi Surabaya

FAJAR.CO.ID JAKARTA – Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya meringkus empat orang pelaku yang menjadi bagian dari peredaran jaringan narkoba jenis tembakau gorila.

Kapolda Metro Jaya Irjen Mochammad Iriawan menerangkan, empat pelaku itu berinsial FR, RY, RF dan WT.

“Si WT ini dulunya adalah sarjana kimia, dia tugasnya meracik tembakau gorila dari jaringan ini,” kata Iriawan di Polda Metro Jaya, Jumat (3/2).

Iriawan mengklaim, jaringan yang diungkap oleh jajaran itu merupakan paling besar di Indonesia. Pabriknya berada di wilayah Surabaya.

“Dari jaringan ini ada sekitar 4.349 gram tembakau gorila kami sita,” sambung dia.

Mantan Kadiv Propam Polri ini menambahkan, terungkapnya jaringan ini dari pengembangan tersangka MY yang tertangkap terlebih dahulu di Bekasi pada pertengahan Januari 2016. Saat itu dia kedapatan menyimpan tembakau gorilla sebanyak 10,74 kilogram.

Dari keterangan MY, polisi kembali melakukan penangkapan terhadap FR di kawasan Tangerang Selatan.

Di sana petugas menyita barang bukti sebanyak 517 bungkus paketan tembakau gorilla yang siap edar.

Tak sampai di situ, petugas juga menangkap RY dan RF di Depok, Jawa Barat. Dari tangan keduanya berhasil disita barang bukti 114 bungkus tembakau gorila.

Untuk diketahui, tembakau gorilla itu berasal dari pabrik di Surabaya. Setelah dilakukan koordinasi dengan kepolisian setempat, ditangkaplah WT pada 26 Januari lalu.

Ketika WT ditangkap, petugas juga menemukan bahan baku dan peralatan pembuatan tembakau gorilla yang terdiri dari 450 kilogram tembakau yang belum diolah.

“Pelaku (WT) mengaku sudah membuat tembakau gorilla selama setahun terakhir,” sambung mantan Kapolda Jawa Barat tersebut.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, para pelaku dikenakan pasal 114 ayat (2) sun pasal 112 (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan dijunctokan Permenkes RI Nomor 2 Tahun 2017 dengan ancaman pidana hukuman mati.

Click to comment
To Top