Beda Pendapat Soal Kebijakan, Bos Uber Tinggalkan Donald Trump – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Internasional

Beda Pendapat Soal Kebijakan, Bos Uber Tinggalkan Donald Trump

FAJAR.CO.ID, AMERIKA SERIKAT – Travis Kalanick menyerah. Kamis waktu setempat (2/2) chief executive officer (CEO) Uber itu mengundurkan diri dari jabatannya sebagai anggota dewan penasihat bisnis kepresidenan. Itu dilakukan karena publik tidak percaya dia bukan bagian dari kelompok pendukung kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

’’Menjadi anggota (dewan penasihat bisnis kepresidenan) tidak berarti selalu mendukung agenda dan kebijakan presiden. Sayangnya, publik menginterpretasikan sebaliknya,’’ papar Kalanick dalam surat elektronik (surel)-nya. Bersama Mary T. Barra dari General Motors, Robert A. Iger dari Disney, dan Virginia M. Rometty dari IBM, dia menjadi penasihat bisnis kepresidenan pada Desember 2016.

Dalam keterangan selanjutnya, Kalanick mengatakan bahwa dirinya berbeda pendapat dengan Trump soal kebijakan imigrasi. Ternyata Trump tidak mau menoleransi perbedaan itu. Buktinya, presiden 70 tahun tersebut memecat Sally Yates dari jabatan jaksa agung karena pengacara perempuan tersebut tidak mendukung kebijakan imigrasinya. Atas pertimbangan itu, Kalanick memilih mundur dari dewan penasihat.

Setelah memutuskan mundur, Kalanick menginformasikan hal tersebut kepada seluruh staf Uber lewat surel. Pria 40 tahun itu menjadi pejabat Trump pertama yang mengundurkan diri sebelum sempat menunaikan tugas resmi. Sebab, dewan penasihat bisnis kepresidenan yang seluruh anggotanya adalah praktisi akan menggelar rapat perdana mereka pekan depan.

Lewat surel tersebut, pengusaha keturunan Austria-Ceko itu berusaha mendapatkan kembali simpati dari para staf. Sebab, sejak bergabung dengan dewan penasihat bisnis kepresidenan, popularitas Kalanick sebagai pemimpin Uber menurun.

Kemarin (3/2) keputusan Kalanick itu menuai apresiasi positif Jim Conigliaro. Pendiri Independent Drivers Guild, kelompok yang mewadahi sekitar 40.000 pengemudi Uber di Kota New York, itu menyambut baik surel Kalanick. ’’Ini bentuk solidaritas terhadap teman-teman pengemudi Uber yang merupakan kaum imigran,’’ paparnya. Dia juga bangga kepada Kalanick yang mau mendengarkan masukan dari para pengemudi Uber.

Bersamaan dengan pengunduran diri Kalanick, Trump ancang-ancang meneken dua lagi perintah eksekutif. Kali ini dua-duanya berhubungan dengan perekonomian. Salah satu di antaranya, perintah eksekutif untuk Departemen Keuangan. Trump akan meminta departemen tersebut meninjau paket reformasi keuangan yang diterapkan Barack Obama pada 2010 (Paket Dodd-Frank). Menurut rencana, Trump bakal merombak paket tersebut.

’’Akan ada ratusan aturan baru yang diterapkan di lembaga-lembaga keuangan setelah penandatanganan regulasi ini,’’ kata salah seorang ajudan Trump. Selain membuat sibut lembaga-lembaga keuangan, perintah eksekutif Trump itu bakal menciptakan banyak pekerjaan baru bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang keuangan.

Sementara itu, para ekonom AS mulai resah menyaksikan dampak buruk kebijakan imigrasi Trump yang terus meluas. Mereka meragukan ambisi Trump untuk melipatgandakan angka pertumbuhan ekonomi AS dan menambah 25 juta lapangan pekerjaan pada 2027 bisa tercapai. Sebab, imigran menjadi salah satu faktor penting yang menggerakan perekonomian Negeri Paman Sam.

’’(Dengan kebijakan imigrasi seperti itu) Satu-satunya cara yang paling masuk akal untuk mencapai tujuan tersebut ialah menambah jumlah penduduk,’’ kata Jennifer Hunt, mantan pakar ekonomi pada Departemen Tenaga Kerja AS. Menurut ekonom yang kini mengajar di Rutgers University itu, imigran adalah angkatan tenaga kerja terbesar AS hingga sekarang.

Dalam perkembangan lain, Trump menunjuk Gina Haspel sebagai orang nomor dua Badan Pusat Intelijen AS alias CIA. Perempuan yang sejak 2013 memimpin operasi rahasia CIA, termasuk interogasi kontroversial di black site (penjara rahasia), itu bakal menjadi wakil Mike Pompeo. Bagi CIA, Haspel yang menjadi intelijen sejak 1985 bukan orang baru.

’’Gina Haspel bertanggung jawab atas penjara rahasia CIA di Thailand yang menjadi lokasi interogasi dan waterboarding dua tahanan,’’ terang Washington Post kemarin. Reputasi Haspel sebagai petinggi CIA yang prointerogasi ekstrem memang menjadikan dia sosok kontroversial di dunia intelijen. Tetapi, di mata Pompeo dan Trump, perempuan 60 tahun tersebut adalah seorang patriot sejati yang setia mengabdi di CIA.

Begitu Haspel diumumkan sebagai wakil Pompeo pada Kamis malam (2/2), para senator Partai Demokrat langsung protes. ’’Latar belakang dan reputasi Gina Haspel membuatnya tidak layak duduk di kursi pemimpin,’’ kata Senator Ron Wyden. Senator Martin Heinrich pun berpendapat sama. Karena itu, Senator Mark Warner yang menjadi anggota Komite Intelijen Senat menjadwalkan wawancara langsung dengan Haspel. (Fajar/JPG)

Click to comment
To Top