WADUH! Puluhan Tahun Sungai Disini Tercemar Limbah Tambang Galian C – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

WADUH! Puluhan Tahun Sungai Disini Tercemar Limbah Tambang Galian C

limbah yang sudah mencemari sungai

FAJAR.CO.ID- Gencarnya aktivitas pertambangan batu gunung sebagai bahan utama pembangunan infrastruktur menimbulkan dampak kerusakan lingkungan cukup parah. Bukit-bukit menjadi gundul, jernihnya air sungai pun menjadi keruh dan warga harus menikmati air bercampur limbah tambang.

Seperti yang terjadi di Desa Awang Bangkal Barat, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Sejak memasuki musim hujan, air Sungai Alingin yang melintasi desa penghasil ikan tersebut terlihat keruh. Karena air hujan membawa turun material bekas pertambangan ke aliran sungai.

Warga sekitar yang biasanya memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci, terpaksa harus mengambil air lebih ke tengah. Sebab, aliran air yang bercampur dengan material tambang terlihat mengalir di sisi sungai. “Kalau musim kemarau air di tambang tidak sampai mengalir ke sungai, tapi kalau hujan akan mengalir ke sungai,” kata Pembakal Desa Awang Bangkal Barat, Ruspandi.

Ia menuturkan, di desanya terdapat sepuluh perusahaan tambang galian C. Di mana keseluruhannya memiliki settling pond atau kolam pengendapan air buangan dari areal tambang. Namun sayangnya, sebagian kolam kondisinya sudah mulai mendangkal sehingga tak mampu lagi menampung air. “Kolamnya dangkal jadi airnya meluap ke sungai, tapi biasanya setiap tahun kolamnya dikeruk. Mungkin pertengahan tahun ini,” ujarnya.

Aktivitas pertambangan di Desa Awang Bangkal Barat sendiri sudah ada sejak tahun 1980-an. Di mana kala itu penambangan batu gunung dilakukan secara tradisional. Bebatuan yang menonjol di atas permukaan tanah, dibakar sampai retak kemudian dipecah menggunakan palu godam. Proses ini memakan waktu lama dan hasil yang tidak seberapa.

Namun seiring perkembangan zaman dan pesatnya pembangunan, berimbas pada meningkatnya permintaan material bagi pembangunan infrastruktur. Sehingga bermunculan perusahaan pertambangan galian C modern, yang menambang dengan menggunakan berbagai alat berat, termasuk mesin crusser pemecah batu.

Meski diakui aktivitas pertambangan tersebut mengakibatkan lingkungan tercemar, namun manfaatnya juga tak dapat dipungkiri. Sebab, aktivitas pertambangan dapat meningkatkan perekonomian bagi warga sekitar. “Warga banyak yang bekerja di tambang, ada juga yang bekerja sebagai sopir pengangkut batunya,” ungkap Ruspandi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kisworo Dwi Cahyono menuturkan seharusnya instansi pemerintah tak membiarkan kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan terjadi berlarut-larut. Jika dibiarkan berlarut-larut, ibarat penyakit akan bertambah parah dan akut. “Pemerintah harus punya mekanisme untuk menanganinya, bukan sekadar mengambil retribusi dari perusahaan saja,” ujarnya.

Menurutnya, mekanisme yang perlu dilakukan ialah dengan cara membentuk Satgas kejahatan pertambangan. Dengan begitu, tak ada lagi carut-marut pertambangan. “Selain itu segera percepat pembentukan pengadilan lingkungan,” katanya. (ris/by/ran)

Click to comment
To Top