Berawal dari Kuli Bangunan, Berkali-kali Gulung Tikar, Kini Jadi Bandar Distro Outdoor – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Berawal dari Kuli Bangunan, Berkali-kali Gulung Tikar, Kini Jadi Bandar Distro Outdoor

FAJAR.CO.ID MAKASSAR – Pepatah Kegagalan adalah Guru Terbaik, sangat cocok dengan cerita hidup pengusaha distro, Mohamad Akram. Berawal dari kuli bangunan, kini punya tiga gerai besar dengan delapan karyawan.

Akram merupakan sosok yang gigih merintis usaha. Bisnis distro yang ditekuninya kini mulai berbuah keuntungan.

Senyum ceria mengembang di wajah Mohamad Akrom. Meski awan hitam bergelayut menandakan segera turun hujan, Agil-sapaannya- bersama rekannya belum ingin mengakhiri obrolan.

Agil antusiasi menceritakan proses mendirikan lagi satu distro baru di jalan Jendral Achmad Yani, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Sebab, pria alumni SMA Negeri 1 Luwuk itu, sebelumnya memang mengalami jatuh bangun dalam berbisnis.

Sebagai rasa syukur, malam itu, Agil menggelar syukuran di distronya yang keempat tersebut.

Tiga distronya yang lain tersebar di sejumlah tempat. Yakni kompleks pasar malam jalan Dr Sutomo Kelurahan Luwuk, kedua di Alun-alun jalan DI Panjaitan Kelurahan Keraton dan ketiga di jalan Moh Hatta Kelurahan Maahas, Kabupaten Banggai.

Distro-distronya sebelumnya lebih banyak menjual pakaian secara umum. Tetapi, untuk yang satu ini hanya menjual peralatan diving, sepeda gunung serta perlengkapan mendaki gunuung.

“Beda distro beda karakter, yang ini khusus sarana petualang atau outdoor,” terang pria kelahiran Jakarta 18 November 1979 itu.

Agil mengaku, sebelumnya hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Namun, karena tekad yang kuat, dia memilih terjun ke bisnis dagang sejak tahun 2000.

“Saya melihat ada peluang karena meraup untung banyak. Jadi saya coba, saya juga mendapat dukungan dari orang, jadi alhamdulillah bisa seperti sekarang ini,” kenang suami dari Suryani ini.

Dagangan pria pecinta motor trail ini seakan menjadi magnet bagi masyarakat. Apalagi kalangan remaja.

Sejumlah merek ternama memang selama ini menjadi buruan kalangan remaja. “Kualitas lokal lebih diutamakan, mengingat pakaian Indonesia sudah lebih bagus,” tutur ayah tiga anak ini.

Perjalanan Agil sejak tahun 2000 hingga saat ini tidak berjalan mulus. Beberapa kali usahanya harus gulung tikar karena tidak fokus dalam mengelola.

Sebenarnya, putus asa memang sudah muncul. Namun berkat dorongan istri dan teman-temannya, dia kembali termotivasi.

“Saya beberapa kali bangkrut hingga hilang kepercayaan, tapi dari situ saya belajar dan menjadkan sebagai guru,” ungkapnya.

Kini, pria yang bermukim di jalan Aliander, Kelurahan Hanga-hanga, Kecamatan Luwuk Selatan ini, telah mempekerjakan delapan karyawan.

Click to comment
To Top