Keluhan Penumpang Bikin Pesawat Sriwijaya Air Gagal Terbang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Keluhan Penumpang Bikin Pesawat Sriwijaya Air Gagal Terbang

INSIDEN TERULANG: Penumpang Sriwijaya Air yang bergantian keluar dari pesawat setelah dinyatakan batal terbang, malam tadi (5/2).

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN – Insiden penerbangan kembali terjadi di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, malam tadi (5/2). Penumpang maskapai Sriwijaya Air SJ 232 tujuan Balikpapan-Berau gagal berangkat. Padahal, pesawat sudah berada di runway, namun harus kembali ke apron.

Menurut penuturan salah seorang penumpang, Robi, Sriwijaya Air seharusnya terbang ke Berau pada pukul 18.20 Wita. Namun, delayed hampir dua jam. Penumpang terpaksa menunggu. Kru maskapai kemudian membagikan snack box sebagai kompensasi. Pada pukul 20.30 Wita, ucap dia, kru Sriwijaya Air menginformasikan jika pesawat sudah siap terbang.

Penumpang lalu mengantre di pintu (gate) 3 menuju pesawat. Petugas kemudian memeriksa tiket. Sekitar pukul 21.30 Wita, seluruh penumpang berada di dalam pesawat. Pramugari menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Demikian juga pilot dan co-pilot berinteraksi dengan sambungan radio. Dirinya duduk di kursi 26C atau di deretan belakang.

Pesawat kemudian bersiap lepas landas menuju runway. Namun, si burung besi urung terbang dan kembali ke apron. Selama hampir satu jam di dalam kabin, terang dia, belum ada tanda-tanda pesawat apakah jadi terbang. Di sisi lain, terlihat percakapan serius pramugari di bagian depan. “Tapi, belum dapat keterangan kerusakan teknis bagian apa,” katanya kepada Kaltim Post, malam tadi.

“Oke, kita (penumpang) menunggu,” imbuhnya. Robi melanjutkan, hingga pukul 22.30 Wita, belum ada keterangan resmi dari maskapai. Sementara penumpang mulai gelisah di dalam kabin. Apalagi mesin pendingin pesawat tiba-tiba menurun sehingga suasana agak sedikit panas dan penumpang mulai gerah. Sebagian penumpang juga merasa mual.

Dikatakan penghobi golf itu, seorang penumpang bernama Okky Warman yang duduk di bagian kanan, melihat ada yang terbuka pada bagian sayap pesawat. “Dia melihat ada petugas darat, ada bagian yang terbuka. Penumpang ini kemudian memencet tombol bantuan. Pramugari kemudian datang lalu menyampaikan terjadinya masalah,” ujar dia.

Setelah itu, sambung Robi, pramugari menuju kokpit dan bertemu dengan pilot Kapten Paul Gurusinga. Tak lama kemudian, ada pengumuman technical problem (masalah teknis). “Dari kejauhan ada diskusi antara pramugari dengan petugas darat. Pintu terbuka, pintu kokpit pilot juga terbuka,” ujarnya. Padahal, terang dia, lampu penerangan di dalam kabin telah dikurangi, tanda pesawat mau take off. Posisi penumpang masih dalam kabin.

“Pilot mengumumkan sedang diusahakan lobi mendarat di Bandara Kalimarau Berau,” ujarnya. Namun, karena jam operasi bandara di sana hanya sampai pukul 21.00 Wita, rencana tersebut batal. Akhirnya, Sriwijaya Air memutuskan batal terbang. “Penumpang turun dari pesawat,” katanya. Maskapai, terang dia, menjanjikan penumpang kembali diterbangkan ke Berau pada pukul 09.20 Wita pagi ini.

Seluruh penumpang yang diperkirakan 100-an orang diinapkan di Hotel Platinum and Convention Hall Balikpapan. “Kami diinformasikan check-in besok pagi (pagi ini, Red) pukul 07.00 Wita,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terkait hal ini, District Manager Sriwijaya Air Area Balikpapan, Fredy J De Hart, mengatakan bahwa dari informasi yang ia dapat, pesawat dari Balikpapan menuju Berau sebenarnya tidak terjadi masalah. Namun, saat pesawat menuju ke ujung runaway, salah satu penumpang menyebutkan jika ada masalah pada tutup mesin pesawat. Spontan, penumpang yang lainnya pun terprovokasi.

“Akhirnya, kru pesawat menghubungi kapten pesawat. Kapten pesawat pun memutuskan kembali ke area parkir pesawat guna memeriksa hal tersebut,” jelasnya. Setelah diperiksa, dari informasi yang ia dapat, tidak ada terjadi masalah apapun baik dari tutup mesin seperti yang disebutkan salah satu penumpang itu.

Walhasil, untuk terbang kembali, harus membuat izin. Prosedur izin penerbangan dari otoritas bandar udara, lewat 10 menit dari jadwal penerbangan, maka maskapai harus membuat izin terbang baru. Dikatakan, penerbangan sebetulnya sudah on schedule, namun harus kembali lagi untuk memeriksa kondisi pesawat dan memakan waktu lama.

“Akhirnya, kami harus membuat izin terbang lagi karena lewat dari 10 menit,” ucapnya. “Bandara Sepinggan sudah memberi izin terbang kembali, tapi bandara di Berau, tidak memberikan izin karena sudah terlalu malam. Izin terbang harus didapat dari dua bandara. Jika salah satu tidak bisa, maka kami harus membatalkan penerbangan,” jelasnya.

Fredy menerangkan, pihaknya mau tidak mau membatalkan penerbangan. Sekitar 146 penumpang akhirnya difasilitasi penginapan oleh Sriwijaya Air. Diketahui, pesawat Sriwijaya Air yang berangkat dari Balikpapan menuju Berau menggunakan pesawat Boeing 737-300 dengan maksimal 148 penumpang.

SUDAH KETIGA KALI

Insiden Sriwijaya Air di Bandara Sepinggan malam tadi sebenarnya bukan yang pertama kali. Pada 14 Juli 2016 lalu, sekira pukul 13.00 Wita, pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 159 yang baru terbang dari Bandara Internasional Sultan AM Sulaiman, Sepinggan, Balikpapan, harus kembali ke landasan.

Pesawat ini siang itu sedianya akan terbang menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Pemicunya, pesawat mengalami insiden cabin pressure atau kehilangan tekanan dalam kabin. Akibatnya, 113 penumpang dibuat panik. Beberapa di antaranya pingsan dan cedera.

Insiden selanjutnya, pada 9 Desember 2016. Para penumpang Sriwijaya Air rute Balikpapan ke Jakarta mengamuk. Ini setelah penerbangan mereka dinyatakan delay lima jam akibat pesawat yang akan ditumpangi mengalami kerusakan. Bahkan penumpang lanjutan harus diinapkan semalam di Jakarta. Pesawat yang semestinya mengantar penumpang ke Jakarta pada pukul 13.20 Wita itu mengalami masalah di Tarakan.

Pesawat bernomor penerbangan SJ 161 itu disebut mengalami engine overheat, sehingga harus di-grounded untuk pemeriksaan lebih lanjut. (aji/riz/rom/k11)

To Top