Maling Meteran PDAM Genyatayangan, 1.078 Pelanggan Bikin Laporan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Maling Meteran PDAM Genyatayangan, 1.078 Pelanggan Bikin Laporan

ilustrasi

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN  –  Sudah lebih dari 1.078 pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Balikpapan yang mengalami tindak pencurian meteran air. Direksi PDAM juga telah memasukkan delik aduan terkait pencurian ini ke Polres Balikpapan sejak Desember 2016. Kendati demikian, rupanya belum terungkap siapa pelaku di balik tindak pencurian yang meresahkan warga Balikpapan ini.

Disebutkan, bahwa belum ada warga yang melapor ke polisi. Kebanyakan mereka melaporkan ke PDAM, hingga instansi tersebut membuat pengaduan kepada kepolisian. “Polisi masih mengusahakan ini bisa teratasi. Benar, PDAM membuat surat pengaduan pada kami, namun bukan laporan resmi,” jelas Suharto, kemarin (5/2).

Terkait hal ini, Suharto lebih mengimbau masyarakat untuk mengamankan meterannya, demi mencegah terjadinya kembali tindak pencurian. Memang meteran air adalah aset rumah yang seharusnya berada dalam pengawasan pelanggan. Suharto meminta masyarakat mengaitkannya dengan pengaman, semisal gembok.

“Diimbau untuk diberi safety meteran ini. Kalau posisi tidak ada pengamanan kan malah memudahkan pencuri. Karena kejadian ini kan terjadi bukan di kawasan tidak berpenghuni,” jelasnya.

Petugas masih mencari tahu bagaimana modus yang dilakukan para pencuri meteran tersebut. Selain itu, diduga saat beraksi mereka tidak sendirian, namun kawanan.

Dari informasi yang dihimpun, warga terbanyak yang mengalami kerugian akibat tindakan ini adalah warga di kawasan Balikpapan Selatan dan Utara. Lebih lanjut dikatakannya, masyarakat diminta waspada jika ada orang tak dikenal berkeliaran di kawasan mereka. Terlebih jika mencurigakan dan berani masuk pekarangan rumah-rumah warga.

Beberapa waktu lalu, tim Retensi Pelanggan PDAM Balikpapan bersama kepolisian mulai menyelidiki rekaman CCTV dari tiga lokasi pencurian berbeda. Pelaku menggunakan sepeda motor yang sama. Namun yang menyulitkan, karena di dalam rekaman tersebut pelat nomor kendaraan tidak jelas terlihat. Diduga pelaku pencurian yang tengah marak, sejatinya adalah orang yang sama.

Tim juga melakukan investigasi. Merunut motif pencurian lama, yakni menjual meter air curian ke pedagang loak atau hanya mengambil tembaga di bagian dalam meter air. Tapi kemungkinannya diperkirakan sangat kecil. Kemungkinan lainnya, menjual meter air ke pengusaha water treatment plant (WTP) mandiri.

Seorang sumber yang tak ingin dikorankan namanya membeberkan praktik pencurian meteran air. Di pasaran loak, tembaga meteran air dihargai sekira Rp 50 ribu sampai dengan Rp 70 ribu per unitnya. “Saya rasa kalau mau dijual, ya, karena tembaganya itu. Hitung saja, satu unit itu tembaganya hampir satu kilogram. Harga tembaga sekarang kurang lebih Rp 50 ribu. Menurutku, itu lebih masuk akal dibanding jual ke WTP. Karena WTP juga menghindari lah meteran bekas. Tentu pelanggannya akan komplain,” kata pria yang beralamat di Jalan Soekarno-Hatta ini.

Lebih jauh, kata dia, dari laporan seperti diberitakan sebelumnya, pelaku mengincar meteran yang dipasang secara berkelompok. “Semalam bisa dapat sampai enam biji saja, kemudian dikalikan Rp 50 ribu, ya, bisa banyak juga dapat duitnya kan? Memang kita harus waspada. Kalau saran saya dibeton, disemen. Tapi sisakan case bagian atas, agar petugas tetap mudah mencatat,” sarannya. (bp-21/war/k1)

Click to comment
To Top