AYAH BEJAT! Anak 8 Tahun Dicecoki Obat Penenang Baru Dicabuli – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

AYAH BEJAT! Anak 8 Tahun Dicecoki Obat Penenang Baru Dicabuli

FAJAR.CO.ID, SANGATTA – Kasus pencabulan yang dilakukan ayah tiri kembali terjadi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Kali ini korbannya, bocah kelas tiga sekolah dasar, sebut saja Bunga (8), warga Sangatta Utara.

Informasi yang dihimpun, kejadian berawal saat korban yang tengah dimandikan ibunya bercerita kalau dicabuli ayah tirinya saat menemani bekerja di pos jaga sebuah perusahaan, 19 Januari 2017 lalu. Sontak, penuturan itu pun membuatnya kaget. Terlebih, setelah celana dalam yang dikenakan korban saat itu juga ditemukan noda darah.

Lantas, perbuatan pelaku pun kemudian dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kutim, Senin (30/1) lalu. Sementara pelaku berinisial Sa (54) baru diamankan pada, 3 Februari 2017 lalu.

“Kasus ini lambat dilaporkan, karena ibunya baru tahu setelah mendengar pengakuan dari korban. Selain itu, pelaku juga mengancam korban supaya tidak cerita pada ibunya,” sebut Kapolres Kutim AKBP Rino Eko didampingi Kasat Reskrim AKP Andhika Darma Sena, Senin (6/2) kemarin.

Dia menerangkan, dari hasil pemeriksaan terhadap korban diketahui kalau kejadian tersebut dilakukan di pos jaga sebuah perusahaan. Saat itu, korban yang ditinggal ibunya ke Bontang dititipkan dengan pelaku. Sementara pelaku yang bekerja sebagai wakar perusahaan, lantas membawa korban ikut ke tempatnya bekerja.

“Nah, saat tengah menemani jaga, korban diberikan minuman teh kotak. Namun, setelah minum, tiba-tiba korban langsung mengantuk. Diduga minuman itu diberi obat penenang terlebih dahulu. Saat itulah korban kemudian digarap pelaku. Saat kita tanya, korban pun sempat sadar kalau kedua kakinya diduduki ayahnya,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Andhika, selama ditinggal dua hari dengan ayah tirinya, korban mengaku sering dipeluk dan dicium. Sementara, hasil visum yang diperoleh polisi pun membenarkan, jika pada alat vital korban terdapat luka lecet dan selaput darahnya robek.

“Pelaku kami jerat dengan Pasal 81 Juncto (Jo) Pasal 76, atau Pasal 82 Jo Pasal 76 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014  tentang perubahan atas UU 23/2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman 15 tahun penjara,” tutup Andhika.

Sementara itu, Um salah seorang kerabat korban berharap agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Sebab, korban seharusnya dijaga dan dilindungi pelaku, karena perannya sebagai orangtua meskipun merupakan ayah tiri.

“Jelas kita tidak terima lah. Namanya anak itu, meskipun bukan kandung harus dijaga, bukan dirusak. Kalau sudah begitu, pelaku harus dihukum seberat-beratnya,” kata Um yang merupakan kerabat korban.

Tak hanya itu, dirinya dan anggota keluarga lainnya pun sepakat untuk ikut mengawal kasus ini hingga ke persidangan. Sebab, jangan sampai perbuatan pelaku tidak mendapat hukuman yang berat.

Terpisah, pelaku kepada media membantah semua perbuatan yang ditudingkan kepadanya. Sebab, dia beralasan kalau koran dianggapnya sudah sebagai anaknya sendiri.

“Istri saya itu masih ada hubungan sepupu juga. Jadi tidak mungkin saya gitukan. Saya berani sumpah,” aku Sa.

Sedangkan terkait luka lecet dikemaluan korban, dia berkilah kalau itu akibat perbuatan teman koban saat berada di Bontang. Bahkan, menurut pelaku korban sudah lama  pendarahan, namun tak dirawat di rumah sakit.

“Sama sekali ndak pernah saya sentuh (mencabuli, Red.) anak itu. Kalau sampai saya menyentuhnya, ndak selamat saya, bukan mamaku yang melahirkan saya,” batahnya dengan sumpahan, kemarin.

Pelaku justru menuding, pendarahan dan luka lecet pada kemaluan korban, sebagaimana hasil visum, karena dicabuli oleh teman korban sewaktu berada di Kota Bontang sekitar Januari lalu. Dan informasi itu disampaikan ibu korban kepada dirinya.

“Dia (Korban, Red.) itu cucu saya juga, ponakan saya juga, istri saya itu sepupu dua kali. Nak mungkin saya tega merusak anak itu,” akunnya.

Terkait dugaan pelaku memberikan minuman teh kotak yang telah diberikan obat tidur, sebelum pristiwa pencabulan terjadi, juga dibatahnya. Menurutnya, yang memberikan teh kotak itu itu adalah temannya saat korban ikut dirinya ke lokasi pos jaganya di salah satu perusahaan di daerah Kabo Jaya.

“Yang memberikan teh kotak itu adalah teman saya. Saat malam itu, saya keluar berjaga dan pulang sekitar jam 03.00 pagi, dan si anaknya tidur di pos jaga. Dan anak itu sudah kali ikut saya tidur di pos, katanya, dia takut tidur di rumah, karena mamanya sedang di Bontang,” bantahnya. (aj/drh)

To Top