Kisah Pria yang Nikahi Jenazah Kekasihnya, Motif Bunuh Diri Masih Misterius… – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Kisah Pria yang Nikahi Jenazah Kekasihnya, Motif Bunuh Diri Masih Misterius…

FAJAR.CO.ID, BARRU – Banyak yang menyayangkan keputusan Herni mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Hanya kata “maaf” yang sempat terucap.

Motif kematian Herni (bukan Erni seperti yang diberitakan sebelumnya, maaf atas kesalahan tulis tersebut, Red), tetap menjadi misteri. Semua orang bertanya-tanya. Bahkan, orang tua dan sang kekasih, Ahmad Haidir, dibuat penasaran. Mereka hanya tahu Herni meminum racun rumput sebelum mengembuskan napas terakhir.

“Saat dibawa ke puskesmas, dia hanya mengucap maaf telah berbuat khilaf. Setelah itu, dia tak pernah sadarkan diri hingga meninggal,” ungkap sang ibu, Wati, kepada Fajar (Jawa Pos Group) Minggu (5/2).

Wati tak habis pikir atas keputusan putri keduanya tersebut untuk mengakhiri hidupnya dengan cara itu. Padahal, sehari-sehari putrinya yang baru saja menamatkan pendidikan di STIKES Baramuli tersebut dikenal periang. Setahu orang terdekatnya, dia tak punya masalah dengan siapa pun.

Herni, alumnus sekolah kesehatan itu, justru sering memperingatkan keluarganya agar tidak sembarangan menyimpan benda-benda beracun. Maklum, orang tuanya adalah petani yang kerap menggunakan pestisida. “Jangankan racun. Saat kami minum obat, dia selalu berpesan agar mengikuti petunjuk dokter. Karena itu, kami heran mengapa terjadi seperti ini,” tutur Wati.

Keluarga korban juga sempat meminta penjelasan kepada Edi, sapaan Ahmad Haidir, terkait dengan hubungan mereka selama ini. Menurut pengakuan sang kekasih, seperti yang ditirukan ibu korban, sejak mereka berkenalan hingga pacaran, tak pernah ada pertengkaran. “Berjalan biasa saja, tak ada yang ditutup-tutupi,” ungkap Edi kepada Wati.

Wati maupun suaminya, La Juma, serta keluarga besar mereka menyatakan tak pernah menghalangi niat keduanya untuk menikah. Sejak Herni memperkenalkan Edi, tak pernah ada kata penolakan yang terlontar. “Asalkan mereka bahagia, kami setuju-setuju saja,” terang Wati.

Begitu juga keluarga Edi di Nias, Sumatera Utara. Lewat telepon, Edi mampu meyakinkan orang tuanya untuk memberikan restu. Termasuk merelakan sang putra menjadi mualaf menjelang pertunangan. Kedua pihak sepakat pernikahan dilangsungkan Oktober mendatang dengan mahar Rp 40 juta.

Menurut Husban, kakek korban, sudah beberapa kali Edi datang menemui mereka dan menyatakan keseriusan serta keinginan menjadikan Herni sebagai istri. “Asalkan saling suka, kami pun memberikan restu,” ujarnya.

Upaya mendapatkan konfirmasi langsung dari Edi tak membuahkan hasil. Setelah meladeni wawancara singkat pada Minggu malam (5/2), pria yang kini bekerja di Enrekang tersebut seolah menutup diri. Nomor ponselnya pun tak aktif.

Yang jelas, cintanya kepada Herni memang begitu dalam. “Dia istri saya dan akan selamanya menjadi istri saya,” ujarnya Minggu. Di akun Facebook-nya, Edi bahkan masih meng-upload foto-foto Herni menjelang kematiannya. Terakhir di-upload Kamis, 2 Februari pukul 18.50 Wita.

Kisah cinta yang berakhir tragis itu pun langsung menuai reaksi banyak pihak. Di media sosial, tak sedikit yang mengagumi kesetiaan Edi. Namun, sejumlah pihak juga menyayangkan digelarnya pernikahan dengan mayat yang dianggap tak lazim. Dalam Islam, pernikahan dianggap tidak sah jika salah satu rukun nikah tak terpenuhi.

Menanggapi hal tersebut, pihak keluarga yang diwakili Syamsuddin, paman korban, berusaha menjelaskan kejadian pada Jumat (3/2) sebelum pemakaman Herni. “Saya ada di tempat waktu itu. Kami mengundang imam kampung untuk mengurus jenazah, bukan untuk menikahkan,” ungkapnya.

Kepala KUA Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Firman tidak tahu persis masalah itu. Yang jelas, tidak ada berkas administrasi yang mereka terima. Hanya, ujar dia, Edi memang pernah datang ke KUA. Dia minta dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat. “Dia bilang akan menikahi wanita muslim di wilayah kami. Hanya itu. Kalau administrasi nikahnya, kami tidak terima,” jelasnya.

Jika ulama menilai pernikahan dengan mayat tak bisa disahkan, hal senada diungkapkan budayawan. Menurut guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Prof Nurhayati Rahman, istilah perkawinan dalam suku Bugis juga bisa disebut “mabinne”. Artinya, menanam benih. Maksudnya, menanam benih dalam rumah tangga. “Tetapi, dalam budaya Bugis, menikah dengan mayat itu tidak ada. Bahkan, dalam naskah I La Galigo tidak dijelaskan hal itu,” ungkap Nurhayati. (Fajar/JPG) 

Click to comment
To Top