Pria Asal Sulsel ini Terancam Hukuman Gantung di Malaysia – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Pria Asal Sulsel ini Terancam Hukuman Gantung di Malaysia

FAJAR.CO.ID- Bakri bin Rukka (45), Warga Negara Indonesia (WNI) asal Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel) terancam hukuman gantung di Sabah, Malaysia. Dikarenakan, Bakri tersandung kasus pembunuhan yang menewaskan dua orang WNI asal Bulukumba.

Diketahui, dua orang korban Bakri tak lain merupakan anak dan mantan istrinya, yakni Azura Binti Shima (36) dan anak tiri pelaku Basri Bin Jamaluddin (24). Kepala Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu (KK), Akhmad DH. Irfan menjelaskan, perlindungan terhadap WNI yang menghadapi persoalan hukum di luar negeri tetap akan mendapatakan perlindungan hukum.

Tersangka dinyatakan sengaja menghilangkan nyawa orang lain. Sehingga dituntut hukuman mati berdasarkan Pasal 302 Kanun Keseksaan (Akta 594) atau perundang-undangan Malaysia. “Hal ini merupakan kewajiban KJRI memberikan perlindungan kepada WNI yang ditimpa masalah,” ujar Akhmad DH. Irfan kepada Radar Nunukan, Senin (6/2).

Sidang telah digelar pada Jumat (3/2) lalu sekira pukul 10.00 waktu setempat di Pengadilan Tinggi (Mahkamah Majistreet) Wilayah Sandakan, Sabah. Sidang tersebut dipimpin Hakim Datuk Mairin Bin Idang dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) DPP Franklin Ganggan Bennet. Dalam persidangan itu dibeberkan bahwa pria kelahiran tahun 1971 Desa Songe, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan terbukti dengan sengaja membunuh mantan istri dan anaknya di rumah korban di Ladang Permodalan 1, Jeroco, Kinabatangan pada Rabu (11/1) lalu sekira pukul 05.20 pagi.

Itu berdasarkan keterangan pegawai penyidik Polis Daerah Kinabatangan Superintendan A. Rahmat Sahak dan merujuk beberapa keterangan saksi-saksi A Charge dan barang bukti yang ada. JPU Franklin pun menyatakan tersangka telah menikam kedua korban di rumahnya di Ladang Permodalan I, Jeroco, Kinabatangan ketika korban sedang tidur di rumahnya. Serta, menurut keterangan polisi dan saksi kejadian, anak lelaki mereka yang berusia 14 tahun terbangun dan menyaksikan bapaknya menghujam Senjatan Tajam (Sajam) ke tubuh ibunya dengan satu kali tikaman.

Setelah itu, tersangka kemudian melanjutkan aksinya dengan mendatangi kamar anak tirinya dan menusuk tubuh anaknya dua kali sebelum melarikan diri. “Berdasarakan pernyataan di persidangan, laporan saksi yang merupakan anak korban. Sebelumnya, tersangka menemui korban pada malam sebelum tragedi pembunuhan itu terjadi. Untuk meminta istri rujuk. Namun, ditolak dikarenakan pelaku berperilaku kasar dan sering memukul,” tambah Ketua Satgas Perlidungan WNI (PWNI) Hadi Sirajuddin mengisahkan.

Tersangka berhasil diamankan pasukan Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Kinabatangan bersama buruh ladang dan menangkap pelaku yang masih berada di kompleks ladang. Dan pihak keamanan mengamankan sebuah kunci sepeda motor, dompet dan uang tunai RM 704 . “Sekitar pukul 15.15 waktu setempat tersangka dalam keadaan terluka pada bagian bahu kanan,” jelasnya ketika dikonfirmasi pewarta harian ini.

Melalui KJRI, tersangka didampingi pengacara yang ditunjuk langsung KJRI KK, Pn. Farazwin Haxdy dari Farazwin Haxdy and Associates. Atas tuntutan yang disampaikan DPP Franklin, Hakim meminta pengacara menyusun pembelaan terhadap tersangka untuk dijelaskan pada sidang selanjutnya yang dijadwalkan pada Senin (6/3) mendatang.

“Dalam dekat ini bakal dilakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk mencari saksi a de charge (peringanan hukuman, Red.) upaya ini ditempuh bukan untuk membebaskan, tetapi untuk menghindarkan hukuman mati terhadap warga kita,” jelasnya mengakhiri. (akz/eza)

Click to comment
To Top