Ini Kronologi Saat Anak Buah Oso Dikasari Presdir Freeport – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Politik

Ini Kronologi Saat Anak Buah Oso Dikasari Presdir Freeport

FAJAR.CO.ID JAKARTA – Rapat tertutup Komisi VII DPR dengan PT Freeport, kemarin, berakhir ricuh.

Rapat yang biasanya diakhiri dengan salam-salaman antara anggota dewan dengan mitra kerja, malah jadi momentum makian Dirut Freeport Chappy Hakim kepada Mochtar Tompo, anggota Komisi VII DPR Fraksi Hanura.

Tompo mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan itu beberapa saat setelah rapat selesai. Saat dia mendatangi Chappy untuk bersalaman, bekas Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KASAU) itu malah menghempaskan tangannya, dan membentak sambil menunjuk-nujuk tangan ke arah Tompo.

“Dia bilang dengan nada tinggi, Kau jangan macam-macam!!! Mana? Apa yang tidak konsisten? Tunjukkan kepada saya kalau saya tidak konsisten, Mana?” kata Mukhtar, menirukan suara Chappy.

Mendengar suara itu, Politikus Partai Hanura itu hanya tertegun. Tak mengucapkan kata apapun. Dia mengaku kecewa dengan ucapan Chappy. “Lagipula, saya rasa tidak ada yang aneh saat saya menyampaikan closing statment kepada PT Freeport.”

Menurut Tompo, saat rapat berlangsung, dia hanya managih janji PT Freeport Indonesia untuk membangun smelter.

Ia merasa perlu meminta ketegasan komitmen Freeport, karena kewajiban ini memang perintah Undang-Undang Nomor4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara atau Minerba yang tak kunjung diselesaikan PT Freeport.

“Setiap jawaban menjelang akhir waktu, dia selalu janji, sedang dibangun smelter. Tapi nyatanya, sampai saat ini belum juga terealiasi” kritiknya.

Tompo memang mengatakan bahwa, Freeport sampai kini tidak serius membangun smelter. Tapi, dia merasa, pernyataannya itu tidak ada salah sebagai anggota DPR.

“Karena itu bagian dari tugas saya selaku anggota Komisi VII. Saya jugab tak menyangka beliau justru marah dengan pertanyaan saya,” kata Tompo.

Tompo berharap, Chappy menarik lagi ucapannya, dan tidak mengulanginya. Karena itu, Politikus Hanura itu akan meminta pimpinan Komisi VII DPR menggelar rapat internal untuk membahas kejadian tersebut. “(Kejadian) Ini tidak boleh terjadi lagi,” cetusnya.

Anggota komisi VII DPR lainnya, Bambang Haryadi mengakui kebenaran insiden tersebut. Menurut Bambang, seharusnya makian itu tidak terjadi.

“Kalaupun merasa dikritik untuk kebaikan, harusnya Chappy juga bisa menerimanya dengan baik. Bukan malah keluar ocehan yang tak perlu,” paparnya.

Politikus Gerindra itu menilai, tindakan Chappy masuk dalam kategori contempt of parliament atau merendahkan marwah parlemen.

“Wakil rakyat saja diomelin begitu, apalagi rakyatnya. Ini bisa dibilang sudah merendahkan lembaga DPR,” cetusnya.

Click to comment
To Top