Debat Cagub DKI Jakarta: Keras dan Saling Serang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Pilkada

Debat Cagub DKI Jakarta: Keras dan Saling Serang

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Debat ketiga Pilkada DKI Jakarta layak disebut sebagai final. Sebab, menurut Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz, masing-masing pasangan calon memanfaatkan momentum debat terakhir sekuat-kuatnya.

Dia menuturkan, tujuan ketiga pasangan calon gubernur itu untuk menyampaikan program kerja sehingga bisa dianggap unggul oleh pemilih. Bahkan program kerja itu disampaikan dengan cara yang relatif keras dan saling menyerang antar paslon.  Terlebih, materi pertanyaan yang disampaikan ke paslon lain adalah materi yang kira-kira jawabannya bisa diserang balik.

Cara menyampaikan jawaban dan merespons juga didasarkan kepada isu yang selama ini menjadi perdebatan publik. Yaitu, terkait karakter dan pengalaman yang dinilai secara kritis. “Bahkan hingga segmen terakhir pun, pasangan calon masih menggunakan kesempatan tersebut untuk mengunggulkan dirinya sekaligus menilai pasangan calon lain,” ujar Hafidz melalui pesan singkat, Sabtu (11/2).

Kata Masykurudin Hafidz, proses debat yang seperti ini masih dalam taraf yang wajar. Justru dengan debat yang keras, pemilih tidak hanya dapat menilai materi jawaban dan cara menyelesaikan persoalan Jakarta, tetapi juga  membandingkan bagaimana jawaban itu disampaikan.

“Cara dialektis antarpasangan calon semakin memudahkan masyarakat pemilih Jakarta dalam membedakan ketiganya. Kerasnya perdebatan juga menyumbang emosi positif pemilih nantinya,” sebutnya.

Setelah debat ketiga ini berlangsung, masyarakat Jakarta tidak hanya sudah menentukan pilihan tetapi juga akan membuktikan pilihannya tersebut di hari pemungutan suara. Proses debat semakin meyakinkan pemilih untuk berpartisipasi di 15 Februari nanti.

Oleh karena itu, karena masyarakat pemilih Jakarta sudah menentukan pilihan, maka pasangan calon beserta tim kampanyenya tidak perlu lagi melakukan kampanye terselubung dimasa tenang. “Ciptakan masa tenang benar-benar tenang, karena kalau berkampanye justru akan menghasilkan efek negatif,” imbaunya.

Nah, yang lebih penting dilakukan oleh pasangan calon di hari tenang adalah memastikan pengetahuan dan ketrampilan para saksi untuk mengawal suara dan menciptakan proses pemungutan suara secara jujur dan adil. “Jangan sampai ada saksi dari pasangan calon yang justru tidak mengetahui bagaimana keadilan pemungutan suara diwujudkan,” pungkasnya. (Fajar/JPG)

To Top