Bisnis Seks Sesuai Selera; Kalau Tidak Cocok, Bisa Diganti – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Bisnis Seks Sesuai Selera; Kalau Tidak Cocok, Bisa Diganti

Transaksi seks, tak ubahnya komoditas yang berputar layaknya komedi putar. Memabukkan dan tak pernah usai.

MALAM kian larut, namun di beberapa sudut kota seperti ruang publik berupa taman hijau dan wisata kuliner, masih tampak ramai dipadati pengunjung yang didominasi oleh anak muda. Maklum, selain menjadi tempat nongkrong, kawasan itu juga menyajikan rangkaian hiburan.

Penulis tersentak ketika mendengar informasi dari seorang warga, kalau tempat tadi merupakan wadah atau tempat yang biasa digunakan untuk bertransaksi. Mulai dari obat-obatan berupa zenith, hingga jasa ‘Peramu nikmat’. Pasalnya, tempat yang dimaksud berdampingan dengan salah satu tempat ibadah yang ada di Kotabaru yang berada tepat di tengah-tengah kota.

“Memang tidak se-vulgar dulu, Mas. Sembunyi-sembunyi. Lebih tepatnya, melalui jasa kurir kalau mau mencari cewek,” ujarnya.

Kopi hitam yang dipesan baru saja tandas. Penasaran, penulis pun mencoba mencari tahu sendiri menuju ke taman yang terletak di kawasan Jl Indra Kesuma. Dan benar saja, tak lama usai memarkir kendaraan bermotor, ketika melintasi dua sampai tiga pemuda, penulis langsung dihampiri seorang laki-laki. Belakangan diketahui bernama NA, 28 tahun.

NA berpakaian sederhana, namun terlihat gagah. Mengenakan kaos oblong berwarna hitam, bercelana jins dan hanya bersandal. Untuk pemuda seumuran dia yang penulis lihat di kawasan taman, dia cukup tampan.

NA mengaku sudah beberapa tahun tinggal di Kotabaru. Mengontrak rumah di daerah perbukitan yang terletak di Jl H Moh Alwi Kotabaru.

Pertemuan penulis dengan NA cukup mudah. NA, tanpa sungkan

bahkan menaruh curiga, mengenalkan diri dan menyanggupi mampu mendatangkan wanita penjaja kepuasaan. Bahkan, anehnya ia mengetahui kalau penulis bukan asli orang Kotabaru. “Untuk mengenali pendatang atau bukan, sangat gampang. Jadi, mau yang bagaimana,” ucapnya.

Bagi yang ingin mencari kepuasan, cukup kontak dia. Menurutnya, sekarang sudah tak lagi memamerkan anak buahnya di pinggir jalan. Selain faktor keamanan, juga menjadi repot kalau harus menangani satu persatu. “Mau yang bagaimana pun ada, Mas. Dari yang ABG hingga STW, dari berbagai suku. Masnya sukanya suku apa dan mencari umurnya yang berapa,” ucapnya merayu.

Sebelum di Kotabaru, NA menceritakan bahwa ia pernah bekerja di salah satu salon kecantikan yang ada di Banjarmasin. Ketatnya persaingan, membuat ia memilih untuk merantau ke daerah lainnya. Bahkan, ia mengaku pernah bekerja di Dolly Surabaya, Jawa Timur.

“Sebelumnya, saya punya ‘anak asuh’ sekitar dua belas orang. Tapi karena susah, saya lepaskan saja,” katanya.

Memilih sistem call serta antar jemput, dirasakan NA lebih aman. Selain itu, ia lebih mementingkan kepuasan pelanggan yang mengorder padanya. Pelanggan cukup menghubunginya dan mengatakan mau yang seperti apa yang diinginkan, akan disiapkannya.

“Saya nggak menunjukkan foto. Sekarang ‘kan zamannya pakai kemera plus. Mudah dimanipulasi. Saya tak suka seperti itu. Jadi langsung saya bawakan saja ke hadapan pelanggan, agar tak ada istilah beli kucing dalam karung. Kalau dia enggak suka, maka saya ganti dengan yang lain sampai si pelanggan menemukan pilihan terbaiknya,” ungkapnya.

Soal asal Peramu Nikmat, NA menjelaskan bahwa kebanyakan berasal dari pendatang. Untuk tarif, harga yang dipatok bervariatif. Short time, dipatok dengan bayaran Rp350 ribu. Sedangkan apabila semalam suntuk, maka harga yang dibayar mencapai Rp800ribu. “Sebagai tambahan, saya minta uang buat beli bensin saja,” ujarnya seraya tertawa.

Malam kian larut, beberapa pedagang di kawasan sekitar taman sudah terlihat berkemas. Namun NA, masih asyik bergelut dengan batangan tembakau. Sesekali ia merayu penulis agar segera menentukan pilihan.

“Jadi mas mau diantarkan kemana,” ujarnya sedikit mendesak.

NA mengungkapkan, tak sedikit pelanggan menanyakan tempat yang aman untuk menumpahkan hasrat. Menurutnya, hampir semua tempat penginapan, baik yang elit sampai yang kelas bawah, bisa dipastikan aman. Tanpa ada razia. Yang lebih gila, NA juga menawarkan kamar di rumah kontraknya untuk di sewa.

“Kalau pihak penginapan, semuanya pasti sudah paham. Kalau mau yang lebih aman, saya juga menyewakan kamar rumah saya kalau mas mau. Saya jamin aman. Soalnya orang-orang takut dengan saya,” ucapnya.

Bertahun-tahun menjadi kurir, bukan tanpa kendala. Persaingan demi persaingan pun juga dirasakan NA. Menurutnya, persaingan antar kurir cukup keras di kota yang bergelar Bumi Sa-Ijaan ini. “Saya termasuk yang paling gampang mencari para pelanggan. Makanya yang lain banyak yang iri,” ungkapnya.

Setelah cukup panjang mengobrol, tiba-tiba datang salah seorang wanita. Berperawakan tinggi, rambut sebahu serta pakaian cukup seksi, ia menghampiri NA. Ia menjulurkan tangan untuk salaman. Seukuran selera anak muda, si wanita tentu saja cukup cantik.

“Saya mau ketemu pelanggan dulu. Nanti kalau mas berminat, silakan hubungi saja nomor saya,” potongnya seraya tersenyum dan berlalu dari hadapan penulis.

Plt Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kotabaru, Adi Sutomo, mengaku kaget mendengar masih saja transaksi seperti itu di Kotabaru. Parahnya, mereka tidak peduli tempat. Bahkan sampai bertransaksi di sebelah tempat ibadah.

“Terus terang, kami kesulitan mencari bukti. Karena (aktivitas) mereka tidak menyolok,” ujarnya ketika dikonfirmasi Radar Banjarmasin, Minggu (5/2) sore.

Selain itu,  saat merazia hotel/penginapan pun Satpol belum pernah menemukan, mendapatkan secara langsung (tangkap tangan) antara si peramu nikmat dan pelanggan. “Saat ini, informasi yang kami dapat sementara mereka beroperasi setiap hari Kamis sore hingga malam hari. Mungkin mereka beralasan tak akan ada razia apabila malam Jumat,” ungkap Sutomo.

Untuk menyikapi hal itu, ke depannya Sutomo berencana melakukan pengoperasian gabungan. Menyertakan Polisi hingga TNI. Targetnya, ruang publik yaitu taman kota, objek wisata Siring Laut, tempat hiburan seperti karaoke, Hotel/Penginapan, rumah kost atau asrama hingga tempat Lokalisasi. Baik yang terselubung maupun yang terbuka yang mana diakui Sutomo dari dulu sampai sekarang masih ada bahkan diungkapkannya terus bertambah.

“Ada kekhawatiran, para pekerja seks yang datang ke sini adalah mereka terusir dari daerah-daerah lain. Bagi yang nantinya bakal terjaring dalam operasi tersebut, sanksinya bisa berupa pemanggilan orang tua atau keluarga bagi yang berdomisili dari Kotabaru. Sementara kalau yang terjaring operasi berasal dari daerah lain, maka akan kami pulangkan. Kalau masih ngeyel, terpaksa akan berurusan dengan kepolisian. Apalagi mereka yang berprofesi sebagai kurir, cukong atau mucikari,” tegasnya.

OLEH:  WAHYU RAMADHAN, Kotabaru

 

To Top