Kisah Bocah Bobot 103 Kg, Sekali Makan Setengah Liter Beras Habis – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Kisah Bocah Bobot 103 Kg, Sekali Makan Setengah Liter Beras Habis

Muhammad, terlihat rebahan di kasur bercampur kain-kain bekas di rumahnya di Kelurahan Tanjung Rema Darat, Martapura. Meski baru berusia 13 tahun, tubuhnya gemuk dan besar berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Gemuknya badan membuatnya kesulitan untuk bergerak. Jika ingin bangun, ia meminta bantuan kepada ayahnya Samidri untuk membangunkannya.

————————————

Samidri mengungkapkan, anak pertamanya tersebut memiliki bobot 103 kilogram. Sehingga dalam kesehariannya Muhammad lebih banyak tidur-tiduran, karena kesulitan untuk berjalan. “Sebenarnya bisa berjalan, tapi baru beberapa meter saja capek. Karena harus membawa badannya yang besar,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

Ia menuturkan, kelebihan berat badan atau overweight yang dialami Muhammad sudah terlihat sejak usianya baru dua tahun. Saat itu, badannya terlihat lebih besar dibandingkan teman-teman sebayanya. “Sejak usia dua tahun, makannya sangat banyak,” ujarnya.

Sampai saat ini pun porsi makan anak pertama dari tiga bersaudara itu tidak biasa seperti orang kebanyakan. Satu kali makan Muhammad menghabiskan dua piring nasi atau sekitar setengah liter beras. “Untung dia makan gak pilih-pilih, tak pakai lauk pun tidak masalah,” kata Samidri.

Meski begitu, Samidri merasa kewalahan mencari uang untuk kebutuhan makan sehari-sehari keluarganya. Pendapatannya sebagai pedagang tahu keliling kadang tak cukup untuk membeli makan tiga kali sehari. “Pendapatan saya dalam sehari paling Rp50 ribu. Itu untuk memberi makan Muhammad dan dua adiknya. Serta saya dan istri,” ujarnya.

Sulitnya perekonomian membuat mereka hanya tinggal di sebuah gubuk kecil, dengan dinding penuh lubang. Jika hujan, atap rumah bocor sehingga air hujan masuk ke dalam. “Bisa makan saja Alhamdulillah, tidak mungkin kami bisa memperbaiki rumah,” ungkap Samidri.

Sementara itu, Muhammad mengaku ingin sekali memiliki tubuh normal seperti teman-teman sebayanya. Supaya dapat leluasa bergerak dan bermain. “Kalau badan begini sulit sekali berjalan, berjalan sebentar saja capek,” ujarnya.

Selain itu, dia juga mengharapkan dapat kembali bersekolah. Sebab, Muhammad baru mengenyam pendidikan sampai kelas dua tingkat SD. Setelah itu berhenti karena ayahnya tak sanggup lagi mengantarkannya ke sekolah. “Badan saya terlalu berat, jadi ayah gak bisa mengantar,” pungkasnya. (ris/ran)

To Top