Banjir Landa Bitung, Menko PMK Batal Balik ke Jakarta – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Banjir Landa Bitung, Menko PMK Batal Balik ke Jakarta

FAJAR.CO.ID, MANADO – Hujan deras yang mengguyur Kota Bitung sejak Minggu (12/2) dini hari, membuat daerah di Sulawesi Utara itu dilanda banjir bandang dan tanah longsor.

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani pun langsung membatalkan rencana balik ke Jakarta dari Manado. Sebelumnya, Mbak Puan memang sedang berada di Sulut, untuk melakoni kunjungan dan menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan di Manado.

Namun begitu mendengar kabar terjadinya banjir bandang di Kota Bitung, Menko PMK memutuskan untuk menunda kepulangan dan langsung ke lokasi banjir bandang.

Bersama Gubernur Sulut, Olly Dondokambey, Puan berangkat dari Manado ke Bitung, Senin (13/2) pagi. Saat tiba do lokasi, Puan dan romobongan mendatangai lokasi banjir, tepatnya di SD Katolik Santo Andreas, Kelurahan Tandurusa Kec Aertembaga, Kota Bitung.

Menko PMK disambut oleh Wali Kota Bitung, Max J Lomban. Tak ada basa-basi, Menko PMK lalu menyerahkan bantuan antara lain kasur (500), selimut (1000 L), alkon (10 unit), genset (10 unit), tong air (10), karung (1000), tikar (100), cangkul (15), sekop pasir (15), beras dan ikan kaleng (1 ton). Serta dana segar untuk BPBD sebessar Rp 200 juta).

Mbak Puan juga sempat berinteraksi dengan korban di tempat pengungsian. “Kami hadir di sini mewakili pemerintah untuk memberikan bantuan. Mungkin jumlahnya belum seperti yang diharapkan masyarakat yang sedang terkena musibah. Jangan kembali ke rumah dulu, karena situasi masih belum aman. Bantuan alat berat akan segera dikerahkan, kebutuhan makan juga akan dipastikan tercukupi,” ucapnya.

“Sekolah memang diliburkan tetapi proses belajar mengajar harus terus berlangsung, berhenti sementara saja. Yang penting keamanan diri dan keluarga dulu demi untuk menghindari kalau sewaktu-waktu ada banjir susulan,” imbuh Puan.

Sementara Wali Kota Bitung melaporkan, bahwa korban hilang sebenarnya bukan karena korban banjir bandang tetapi karena melaut dan belum juga pulang hingga kini. Tim SAR juga tengah melakukan pencarian.”Korban banjir bandang ada dua yang luka berat dan sedang kami tangani,” kata Max.

Menurut data terakhir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut, bencana banjir bandang telah menghantam empat kecamatan yaitu tujuh kelurahan di Kecamatan Aertembaga, dua kelurahan di Kecamatan Maesa, dua kelurahan di Kecamatan Lembeh Utara dan empat kelurahan di Lembeh Selatan.

Banjir bandang menghancurkan 1132 rumah dan longsor sebanyak 30 rumah, sementara 4622 jiwa kini mengungsi. Belum ada laporan korban jiwa dalam musibah ini. (Fajar/jpnn)

Click to comment
To Top