Gara-gara Pilgub DKI, Citra Indonesia Buruk di Mata Dunia? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Gara-gara Pilgub DKI, Citra Indonesia Buruk di Mata Dunia?

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika yang merangkul segala perbedaan suku, agama, dan budaya. Sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar, dunia sempat memandang Indonesia sebagai negara yang bisa memberikan ruang bagi kaum minoritas.

Namun citra ini menjadi berubah semenjak pesta demokrasi Pilkada DKI Jakarta yang mengakibatkan gelombang kaum muslim menolak pencalonan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang berasal dari kalangan minoritas.

Hal itu diungkapkan Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid usai seminar soal Bhineka Tunggal Ika di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok.

Yenny menilai dulu Indonesia menjadi inspirasi bagi dunia karena menjadi negara yang bisa mengelola perbedaan dengan baik. Konsep Bhineka Tunggal Ika menjadi rujukan bagi dunia.

“Kok bisa, Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia mampu memberikan ruang bagi minoritas, mampu memberikan ruang bagi perbedaan yang ada di masyarakat kita. Tapi dengan Pilkada DKI ini, perspektif dunia terhadap Indonesia agak berubah. Ini yang saya rasakan,” kata putri Presiden ke-4 Gus Dur ini.

Perubahan itu, kata Yenny, ditandai dengan persepsi seolah-olah Indonesia menjadi negara yang tidak toleran lagi. “Seolah-olah Indonesia tak toleran lagi, dengan demo yang ada, dengan intimidasi,” tukasnya.

Kini, hasil Pilkada DKI versi hitung cepat mengunggulkan Ahok di posisi puncak. Itu artinya, isu agama bukan menjadi isu prioritas. Yenny menilai isu kinerja masih menjadi faktor yang dipertimbangkan orang untuk memilih pemimpinnya. “Jadi bukan isu primordial lagi. Bukan kesukuan, agama. Tapi kalau punya kinerja bagus, orang bisa memilih berdasarkan isu-isu kinerja tadi,” tegasnya.

Yenny mendorong berita ini harus bisa sampai ke mata dan telinga masyarakat dunia bahwa isu SARA tidak menjadi isu prioritas dibanding faktor kinerja. Dengan begitu, kata dia, perspektif global terhadap Indonesia akan membaik.

“Berita ini (hasil Pilkada DKI) sampai ke luar negri dulu, bahwa hasil putaran satu mengatakan kinerja itu penting. Kalau berita ini bisa sampai ke luar negeri, maka perspektif akan berubah (positif) lagi,” katanya.

Yenny mengungkapkan memang kelompok minoritas sering dijadikan berbagai faktor isu politik dan berbagai persoalan. Hal ini terjadi di banyak negara bukan hanya di Indoinesia. “Nyatanya di Pilkada DKI kemarin ini, warga Indonesia punya ketahanan. Terbukti isu agama tidak terlalu menjadi isu paling kuat. Ketika dihadapkan pada isu kinerja,” tutupnya. (Fajar/JPG)

To Top