Awalnya Dibentak, Suruh Tiarap, Terus Diinjak-Injak, 5 Petugas Dishub Masuk IGD – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Awalnya Dibentak, Suruh Tiarap, Terus Diinjak-Injak, 5 Petugas Dishub Masuk IGD

FAJAR.CO.ID MALANG – Mulutmu harimaumu, begitu kata peribahasa. Itulah yang terjadi pada lima petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang.

Hanya karena salah seorang petugas mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan seorang preman, belasan preman akhirnya mengeroyok lima petugas Dishub, di depan SMAN 3 Kota Malang, Jalan Puncak Borobudur, Sabtu (18/3).

Lima petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang jadi korban aksi bulan-bulanan  preman saat akan memantau kegiatan Wali Kota Malang Moch. Anton. Kelima petugas itu yaitu Romli, Jarot, Yudha, Uki, dan Bagas.

Satu dari lima korban yang mengalami luka paling parah yaitu Bagas.

Dia terlihat kesakitan dan terus memegangi bahunya saat divisum di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.

Sedangkan empat korban lainnya terlihat kuat meski mengalami luka memar di wajah dan tubuhnya.

Dari informasi yang dihimpun koran ini, peristiwa yang terjadi tepat di depan SMAN 9 Malang itu, bermula saat petugas dishub akan mengawal Wali Kota Malang Moch. Anton menghadiri pengajian di kediaman Pimpinan Fraksi Partai Golkar (FPG) Bidang Kesra DPR RI Ridwan Hisjam di Permata Jingga.

Sebelum Anton datang, petugas sudah stand by di Jalan Puncak Borobudur, jalan menuju Perumahan Permata Jingga.

Namun,  ternyata Anton mengubah jadwal kedatangannya ke pengajian itu karena akan melayat terlebih dulu anggota DPRD Kota Malang Fraksi PKB Rasmuji di Pulosari, Blimbing, yang meninggal dunia pada Jumat lalu (17/3).

Saat itu Anton melayat sekitar pukul 11.00 usai jenazah dimakamkan.

Karena tahu Anton menunda kedatangannya, belasan petugas dishub memutuskan untuk makan dulu.

Mereka makan di warung Pecel Pincuk Madiun Bu Siti, Jl Puncak Borobudur. Lokasi itu dipilih oleh petugas dishub  karena dekat dengan lokasi penjagaan.

Selain itu, salah satu petugas dishub juga memang langganan di sana.

Usai makan, belasan petugas dishub masih menunggu kedatangan Anton sambil nongkrong di warung itu.

Lalu, salah satu petugas dishub yang langganan di warung itu mengajak salah seorang kenalannya untuk bercanda.

Berdasarkan informasi di lapangan, anggota dishub ada yang menyapa temannya dan menanyakan kabar ibunya.

Setelah dijawab oleh temannya bahwa ibunya ada di rumah, sambil bergurau anggota itu mengucapkan ”inna lillahi”.

Mendengar ucapan itu, kemungkinan temannya itu tersinggung, tapi tetap diam saja.

Namun, apakah kebenarannya seperti itu, sejumlah anggota dishub yang ditanya mengaku tidak tahu persis.

Kemudian, sekitar pukul 12.00, Anton selesai melayat dan menuju ke lokasi pengajian di Permata Jingga.

Mengetahui itu, belasan petugas dishub pun langsung menempati pos masing-masing.

Nah, saat itulah ada lima petugas dishub yang berjaga di depan Cozy Café di kompleks ruko depan SMAN 9 Malang.

Ketika itu Cozy Café sedang tutup. Mereka  kemudian berjaga sambil memesan kopi di warung kaki lima.

Namun, tiba-tiba, sekitar pukul 12.30, lima petugas dishub tersebut didatangi belasan preman berbadan kekar.

Dengan mengendarai mobil dan sepeda motor, sambil marah-marah belasan preman menyuruh lima petugas dishub untuk jongkok dan tiarap.

Setelah kelimanya tiarap, para preman langsung menghajar mereka secara ramai-ramai sekitar lima menit.

Menurut salah satu warga yang menjadi saksi, belasan preman tampak menginjak-injak kelima petugas dishub. Bahkan, satu preman diketahui mengacungkan senjata tajam berupa parang.

”Saya lihat seragam petugas dishub kotor kena bekas sepatu preman-preman itu,” ujarnya.

Saksi yang tidak mau disebutkan namanya itu melanjutkan, saat belasan preman mengeroyok petugas dishub, tidak ada warga sekitar yang berani melerai.

”Bahkan, para preman sempat mengancam warga yang menonton kejadian itu agar tidak merekamnya. Setelah puas menghajar, mereka pun pergi ke arah barat (Permata Jingga),” ungkapnya.

Saat mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) sekitar pukul 14.00, tampak sejumlah polisi dan petugas dishub lainnya sudah berada di lokasi.

Saat mencoba bertanya kepada warga sekitar tentang apa yang baru saja terjadi, kebanyakan dari mereka memilih bungkam.

Warga tampak ketakutan dengan kejadian yang baru ditonton. Beberapa orang pun memilih berpura-pura tidak tahu dan seolah-olah tidak ingin ikut campur dengan kejadian yang menggemparkan warga sekitar tersebut.

Setelah itu, sekitar pukul 15.00, kelima petugas dishub yang dihajar preman itu dilarikan ke IGD RSSA untuk melakukan visum serta melapor ke Polres Malang Kota.

Mereka ditemani beberapa saksi mata. Tampak juga puluhan anggota dishub yang lain turut mengantar mereka ke IGD.

Mengetahui ada anak buahnya menjadi korban penganiayaan, Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang Kusnadi langsung mendatangi Polres Malang Kota.

Dia datang tanpa mengenakan seragam dinas. Kusnadi yang ketika itu mengenakan kaus serta celana pendek, terlihat gusar.

Beberapa kali dia terlihat mondar-mandir di depan halaman Polres Malang Kota sambil menelepon.

Sementara itu, ada beberapa anggota intel yang meminta informasi kepadanya.

Ketika ditanya, Kusnadi membenarkan ada anak buahnya yang menjadi korban penganiayaan. Hanya, dia tidak tahu kronologis detail kejadiannya. ”Karena saya tidak di sana saat itu,” terang dia.

Karena itu, dia kemudian tidak berani memberikan banyak keterangan. ”Sementara itu dulu saja. Silakan tanya yang lainnya,” kata dia.

Namun, sebagai pimpinan, dia sudah mengambil sikap tegas yaitu perkara ini harus dilanjutkan.

Anak buahnya diperintahkan membuat laporan resmi serta mengambil visum di rumah sakit.

Sementara itu, Yudha, salah satu korban yang ditemui di RSSA mengaku tidak tahu pasti motif dari penganiayaan yang dia alami.

Dia juga tidak mengenal para pelaku. Akibat aksi main hakim sendiri tersebut, matanya hingga mengalami memar karena dipukul.

”Saya tidak tahu pasti permasalahannya. Hanya, tadi (kemarin) pelaku sempat bilang kalau orang tua Sampean digitukan bagaimana perasaannya,” ujar dia seraya berlalu masuk ke dalam ruangan Polres Malang Kota.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi, Kapolres Malang Kota AKBP Decky Hendarsono meminta waktu dengan alasan perlu melakukan kroscek terlebih dahulu. ”Belum ada laporan dari anggota,” jawabnya singkat.

To Top