Kevin Tomallawangan (1): Seniman Kolase Wajah dengan Media Daun Pertama di Dunia – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Budaya & Pariwisata

Kevin Tomallawangan (1): Seniman Kolase Wajah dengan Media Daun Pertama di Dunia

 

Kolase wajah-wajah terkenal dengan media daun yang dibuat Kevin Tomallawangan kian tenar, tetapi namanya seolah tertindih batu-batu kecil di dasar sungai. Belum lagi soal orang tidak tahu malu yang mencaplok karyanya.

Oleh: Sidic Manggala

Mendung menyambut saya di Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada Sabtu menjelang siang, 18 Maret 2017. Bahu cukup pegal setelah berkali-kali mengarahkan setir motor untuk menghindari lubang di sepanjang Jalan Poros Makassar-Malino. Keletihan langsung buyar ketika Kevin dan Achenk datang menyapa saya yang sedang menepi di dekat gerbang “Kota Bunga”. Keduanya menuntun saya ke Warkop 99 di sekitar Hutan Pinus untuk duduk santai sambil menikmati segelas kopi hangat dan kesahajaan.

Tak perlu basa-basi tentang tujuan perjumpaan. Kami sudah sama-sama tahu. Sehari sebelumnya, saya sudah membuat janji, dan mereka balas “Tak sabar menanti”. Saya kenal Kevin dan Achenk dari Ikbal Mangellai, teman kelahiran Malino yang bekerja sebagai fotografer pernikahan.

Baru bersua hari itu, tetapi kami langsung akrab di atas bangku berbentuk L. Kevin di tengah, Achenk duduk di pojok kiri. Wajah Kevin khas dengan janggut tebal di dagu. Rambut gondrongnya digulung, disembunyikan di bawah topi. Wajah Achenk berbeda banyak, lebih oval, tanpa janggut. Pesanan kopi belum datang, namun obrolan tentang Kevin dan karyanya tak bisa lagi dibendung.

“Awalnya cuma iseng-iseng,” Kevin membuka obrolan dibarengi senyum. Ia mengambil jeda, merogoh kantong celana puntung, mengeluarkan sebungkus rokok kretek, lalu meletakkannya di atas meja. “Awalnya itu… ini… ada keluarga yang minta tolong buatkan tugas untuk anaknya buat kolase dari daun, bentuk burung kaka tua. Terus saya coba bikin. Pas saya lihat hasilnya, weh keren.”

Saya dan Achenk menyimak, sesekali mengepulkan asap rokok dari mulut.

“Terus saya pikir lagi, kenapa tidak coba-coba bikin lagi kolase yang seperti ini, tapi yang lebih menantang, coba-coba ke wajah.”

“Terus?” saya bertanya.

Ujung bibir Kevin melebar. “Terus saya coba bikin lagi kolase wajah. Awalnya, mukanya Bob Marley. Saya pakai daun jeruk nipis, saya gunting-gunting, terus susun. Pas saya kerja, ternyata susah. Mulai jam dua belas sampai Magrib, tidak selesai. Jelek hasilnya.”

Kevin menyerah? Sebaliknya. Besoknya dia bikin lagi kolase wajah dengan ukuran daun yang lebih kecil. “Kurang tahu nama daunnya. Saya coba bikin kolase warkop DKI (Dono, Kasino, Indro). Berapa kali salah, saya coba terus. Akhirnya setelah lima jam, hasilnya sempurna, mirip.”

Sejak itulah, Kevin rajin membuat kolase wajah dengan media daun, lalu mengunggahnya ke akun Instagram pribadi @Tomallawangan.Kevin. Kolase wajah RA Kartini, Soekarno, Eddi Brokoli, Ipang Lazuardi, Saykoji, Jerinx SID, Melanie Subono, Jimi Hendrix, aktor Robert Downy, sampai bajak laut fiksi Jack Sparrow sudah berhasil diciptakan.

“Awalnya iseng-iseng ji,” Kevin mengulang kalimat pembuka, kali ini dengan aksen khas Makassar.

Bakat Kevin membuat kolase wajah dengan daun tidak seperti hujan yang turun gratis dari langit. Bakatnya diasah dari nol, hingga mahir seperti sekarang.

“Saya cari tutorialnya di Youtube, tidak ada. Saya cari di Google, memang belum ada seniman yang buat kolase wajah dari daun. Kalau kolase wajah dari daun, saya yang pertama… di dunia,” imbuh Kevin malu-malu.

Jauh sebelum menciptakan kolase wajah dari daun, Kevin pernah membuat kolase wajah dengan ranting. Kolase wajahnya Che Guevara, tokoh revolusi Kuba.

“Iseng-iseng di rumahnya teman. Waktu itu lagi banyak ranting. Saya susun nama pakai ranting. Saya pikir, kenapa tidak gambar wajah. Akhirnya coba-coba gambar wajahnya Che Guevara. Saya buat, akhirnya jadi. Bagus,” kenang Kevin senang. “Gambarnya masih ada.”

Setelah ranting, eksperimen kreasi Kevin berlanjut ke media lain, seperti ampas kopi dan isi teh gantung. “Saya gambar wajah Jim Hendriks pakai isi teh gantung. Pas saya posting di Instagram, banyak yang suka.”

Kemampuan Kevin membuat kolase wajah dari daun, ranting, ampas kopi, dan isi teh gantung didukung oleh kemahirannya menggambar sketsa pensil dan sketsa pulpen. Dia bahkan sering menerima orderan sketsa pulpen dari Jawa dan Bali. Orderan paling jauh datang dari Filipina.

“Saya lupa, namanya lain-lain. Nama orang Filipina aneh-aneh,” beber Kevin tertawa. “Dia request fotonya digambar sketsa pakai pulpen.”

Bagi Kevin, sketsa pulpen adalah seni rupa yang paling sulit. Butuh waktu paling lama seminggu dan paling cepat tiga hari untuk menyelesaikan satu gambar sketsa pulpen. Satu goresan salah, harus diulang lagi di atas kertas baru.

“Pernah saya salah gores. Saya hapus pake tipp-ex ternyata jelek, berbekas. Putihnya beda dengan putih kertas. Jadi harus hati-hati. Makanya, yang saya tahu tidak ada seniman sketsa pulpen di Indonesia yang terima orderan, karena susah, lama. Kalau saya suka, karena menantang.”

Soal tarif sketsa pulpen, Kevin memasang harga Rp400 ribu untuk ukuran paling besar 16 R. Masa kerja selama sepekan.

Sebelumnya, banyak sketsa pulpen karya Kevin yang diunggah di akun Instagram pertamanya. Hanya saja, akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab, akun tersebut lepas dari genggamannya.

“Ada yang hack. Saya tidak tahu siapa. Makanya saya bikin akun IG baru @Tomallawangan.Kevin.”

Sketsa pulpen karya Kevin di dunia nyata juga pernah dibajak oleh orang dekatnya. Ketika itu, Kevin bekerja di sebuah galeri di Kabupaten Gowa. Ia membuat sketsa wajah Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan, dengan teknik titik-titik pakai pulpen. Ukurannya besar, 12 R.

“Saya kerja itu sekitar seminggu lebih. Pas ini, ada orang yang melapor, ‘Karyamu dibajak, dia mengaku-ngaku sama Pak Bupati bilang itu karyanya’.”

Tentu saja Kevin kecewa, lalu berhenti bekerja di galeri dan kembali ke Malino. “Biarlah mungkin. Cepat atau lambat, pasti bakal ketahuan siapa yang bajak,” tutur Kevin mencoba ikhlas.

Saya menghela nafas. Turut prihatin atas pembajakan karya-karya Kevin.

“Apa lagi selanjutnya?” saya bertanya, makin antusias.

Tiba-tiba Kevin melempar pandangan ke atas meja. Kukira dia sedang berpikir, rupanya pesanan kopi sudah datang. Tiga gelas ukuran sedang berisi minuman serbuk hitam diletakkan si waiter dengan hati-hati.

“Minum dulu, kak!” kata Achenk menyilakan.

Kopi dan gula pasirnya dipisah, jadi kami harus mengaduknya sendiri. Sambil mengaduk, saya melihat keluar jendela. Tampak kesejukan di antara batang-batang pinus cukup menggoda. Saya meyesap sedikit kopi, lalu mengulang pertanyaan, “Apa lagi selanjutnya?”

Kevin yang sudah siap langsung menjawab, “Kemarin saya sempat buat, dari daun kering, sketsa wajahnya Soekarno di lapangan. Tapi tidak detail, tidak cocok hijau rumput dengan warna daun kering yang coklat. Saya mau coba lagi di atas kain putih. Kolasenya pakai buah pinus. Siapa wajahnya? Saya masih cari. Saya mau tokoh, artis atau siapa.”

Saya mengangguk-angguk. “Luar biasa kalau buat kolase wajah pakai buah pinus.”

Sayup-sayup terdengar rekaman mengaji dari speaker masjid. Achenk menyesap kopi, kemudian bangkit dari dudukan, hendak memasang kamera DSLR untuk merekam momen. Saya dan Kevin seolah-olah tak peduli, dan tetap melanjutkan topik.

“Nanti saya juga mau buat sketsa wajah yang bahannya dari orang. Kayaknya belum ada di dunia itu.”

Orang jadi gambar? Bagaimana bisa? saya bertanya dalam hati.

Kevin tersenyum, seakan tahu isi hati lawan bicaranya. “Lagi tren anak-anak sekolah bikin tulisan, orang berbaris, bentuk tulisan. Saya sudah dapat juga rumusnya itu: buat sketsa wajah yang bahannya dari orang.”

“Kapan mau buat itu?”

Kevin membisu, mendengarkan azan yang sudah berkumandang.

“Bisa pause dulu?” Kevin meminta break untuk salat Duhur.

Saya setuju, lantas mengekor pada Kevin dan Achenk ke Masjid Al Ichsan, 50 meter dari Warkop 99. Di kepala saya masih banyak pertanyaan, tetapi sepatutnya dipendam dahulu. (Bersambung)

Click to comment
To Top