Kevin Tomallawangan (2): Buat Ibunya Menangis dengan Sebuah Lukisan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Budaya & Pariwisata

Kevin Tomallawangan (2): Buat Ibunya Menangis dengan Sebuah Lukisan

Sekian lama Kevin Tomallawangan menyembunyikan bakat seni rupanya dari keluarga. Pada akhirnya bocor juga.

Oleh: Sidic Manggala

Dua puluh empat tahun silam, di Palopo, Sulawesi Selatan, Kevin terlahir dari rahim Nurlija Tomallawangan. Oleh sang ayah, Syahruddin, si sulung dari empat bersaudara kemudian diberi nama Syahbani S Tomallawangan.

“Lah, kenapa dipanggil Kevin?” saya bertanya, sementara Achenk yang duduk di pojok kiri juga penasaran mendengar jawabannya.

Kevin tertawa. Daging-daging di pipinya menimbul. Setelah tawanya reda, Kevin menjawab, “Gara-gara ibu suka Kevin Cotsner, aktor. Waktu saya lahir, ibu suka nonton filmnya Kevin Cotsner. Jadilah saya dipanggil Kevin.”

Kevin kecil tumbuh menjadi pencinta film animasi dan senang bermain. Dia hobi menonton film kartun, sering berkhayal, juga kerap mengimajinasikan sesuatu. Sampai duduk di kelas tiga SMP, dia masih sering bermain mobil-mobilan. Kebiasaan yang mulai dilupakan anak-anak zaman sekarang.

Kebiasaan itu bertahan sampai Kevin dewasa. Walau janggut di dagunya menebal, dia masih suka menonton Upin Ipin, SpongeBob, Minions, Rudy Tabootie, dan menikmati keseruan Steve bersama anjing birunya dalam Blue’s Clues di siaran nickelodeon.

“Ibu sering tegur, ‘Kayak anak kecil saja. Sudah janggutan masih nonton film kartun’. Saya bilang, ‘Mau apa, dari kecil suka’,” tutur Kevin.

Kevin masuk TK-SMP di Malino. Setelah itu, dia ke Palopo, masuk SMA di sana. Pendidikan formalnya hanya sampai di situ. Jika ada yang mengira kemampuan seni rupa Kevin diperoleh dari bangku kuliah, itu anggapan menyesatkan.

“Saya memang tidak suka di dalam ruangan. Maunya bebas di luar. Untuk apa kuliah kalau hanya mau dapat ilmu praktiknya. Praktiknya kan sudah bisa.”

Saya dan Achenk mengangguk-angguk, “Masuk akal.”

Bakat seni dalam diri Kevin bisa jadi turun dari ayahnya, Syahruddin, yang merupakan mantan vokalis sebuah orkes dangdut. “Bapak dulu sering tampil di sini, di Malino. Sering juga juara kalau ada festival,” beber Kevin.

Achenk angkat suara. Dia membenarkan bahwa bakat berseni Kevin sudah kelihatan sejak mereka sama-sama berseragam SMP. “Dari SMP dia memang suka seni, suka main gitar,” kata Achenk, kemudian lebih banyak menyimak setelah itu.

Hanya saja, setelah lulus SMA di Palopo dan kembali menetap di Malino, Kevin merahasiakan bakat yang dimilikinya. Dia pun menolak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ayah, ibu, dan keluarganya yang lain lantas mencap Kevin sebagai pemuda pengangguran yang hobinya cuma keluyuran.

“Sepengetahuan orang tua, ya itu, saya cuma keluyuran. Paling pulang makan, ganti baju, keluar lagi. Tidak jelas katanya,” sambung Kevin tersenyum.

Selama berkarya secara sembunyi-sembunyi, Kevin menghabiskan banyak waktu di rumah teman atau di warung kopi (warkop). Di situlah dia berkreasi: membuat sketsa pensil, kemudian sketsa pulpen, lantas menciptakan karya kolase wajah dari daun yang pertama di dunia.

“Saya memang tidak mau bilang ke orang tua atau yang lain. Biar karya yang bicara.”

Hingga akhirnya jalan cerita berubah. Waktu itu Kevin dan teman-teman penggiat seni di Malino mengadakan pementasan teater empat unsur. “Teater empat unsur. Ada seni rupanya, menari, puisi, musik, jadi digabungkan semua dalam satu pementasan,” jelas Kevin.

Saat pementasan digelar, Nurlija datang bersama adik kevin dan keluarga yang lain. Nurlija datang tanpa diundang. Dia hanya mendengar kabar bahwa ada pementasan, jadi tidak mau ketinggalan. Nurlija duduk di kursi barisan depan.

Keharuan memenuhi hati sang bunda ketika melihat Kevin beraksi di panggung. Air matanya berderai menyaksikan Kevin begitu mahir melukis para penari yang sedang tampil. Melukis live di kanvas pakai cat dan tangan, tanpa kuas.

“Dia kaget lihat saya melukis live. Saya lihat, ternyata dia menangis. Dia duduk di depan, paling depan. Pace (ayah) tidak datang. Pas pulang, ibu bilang, ‘Ih, ternyata kau jago melukis, kenapa tidak bilang-bilang?’,” kenang Kevin tersenyum menutupi keharuan.

Bukan cuma ibunya yang terharu saat itu, orang-orang di Malino juga kaget melihat kemampuan Kevin melukis live di depan penonton teater.

“Mereka kaget, karena saya kan memang cuma diam-diam ji. Biarlah orang lain yang lihat sendiri.”

Setelah rahasia bakat seni rupanya terbongkar, Kevin mendapat tawaran menggiurkan dari orang tua. Nurlija dan suami berniat membuka sebuah galeri untuk Kevin. Bagaimana, Kevin?

“Saya bilang tidak usah bikin galeri. Lebih baik itu uang dipakai untuk kembangkan usaha orang tua saja,”

Orang tua Kevin bekerja sebagai penjual. Ayahnya menjual kaos kaki, tas, dan perlengkapan sekolah lainnya. Ibunya berjualan tenteng, kue khas Malino yang terbuat dari kacang tanah dan gula merah. Melihat orang tuanya sibuk banting tulang, maka Kevin enggan merepotkan Nurlija dan Syahruddin demi melambungkan karya-karyanya.

“Biarlah saya yang bekerja, memulai usaha dari nol. Biar saya mengejar cita-cita dengan keringat sendiri. Kalau dari orang tua, cukup doa dan restunya saja,” kata Kevin membijak.

Saya dan Achenk mengangguk-angguk lagi. Kami rupanya sama-sama kagum pada sosok di depan mata.

“Cita-cita apa yang ingin dikejar?” saya menyambung pertanyaan.

Kevin menjatuhkan pandangan ke lantai. Tersirat bahwa perlu kerja keras dan waktu yang lama untuk mewujudkan impiannya. (Bersambung)

 

Click to comment
To Top